HUT RI ke-80 di Dharmasraya: Jangan Lupakan Jasa Tokoh Pemekaran dan ASN Pejuang

- Penulis

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oplus_0

oplus_0

Potret Kantor Bupati Dharmasraya dari samping kiri (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat

ADVERTISEMENT

Jasa Pembuatan website profesional

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Mediainvestigasi.net – Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, Dharmasraya pun ikut menorehkan kisahnya sendiri. Kabupaten ini lahir dari rahim perjuangan, bukan hadiah. Pemekaran Dharmasraya dari Kabupaten Sijunjung pada 2004 silam bukan proses mudah. Ada darah, keringat, dan air mata para tokoh yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta pribadi demi satu cita-cita: agar Dharmasraya berdiri sebagai kabupaten yang mandiri, diakui negara, dan mampu menata masa depannya sendiri.

Mereka berjuang tidak hanya di tanah Sijunjung, tetapi juga mengetuk pintu-pintu di tingkat provinsi, bahkan hingga ke Jakarta. Tujuannya jelas: agar Dharmasraya lebih dekat dengan rakyatnya, pelayanan publik lebih efektif, pembangunan lebih merata, dan masyarakat bisa merasakan langsung hasil perjuangan otonomi daerah.

Setelah Dharmasraya resmi mekar, estafet perjuangan itu diteruskan oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN). Jangan salah—ASN lah yang berlari di garis depan, memastikan roda pemerintahan yang baru ini bisa bergerak, meski dengan segala keterbatasan. Mereka rela bekerja siang malam demi membuktikan bahwa Dharmasraya mampu berdiri tegak sebagai kabupaten baru yang diperhitungkan.

Hari ini, delapan puluh tahun Indonesia merdeka, dua puluh satu tahun Dharmasraya berdiri, kita harus jujur bertanya: ke mana arah perjuangan itu dibawa oleh pemimpin sekarang?

Ironisnya, sejarah panjang pengorbanan itu kerap dikhianati. Dari sederaretan nama bupati, ada bupati yang justru tersandung kasus korupsi, memperkaya diri dan keluarga, ketimbang membela rakyat yang dulu menjadi alasan Dharmasraya diperjuangkan. Ada ASN yang menjadi korban politik, dipindahkan tanpa alasan jelas, dipaksa mengundurkan diri, dijabatkan tanpa kuasa, bahkan diparkir tanpa jabatan alias non job. ASN bukan pion politik yang bisa dipermainkan sesuai selera kekuasaan.

Baca Juga :  Surya Babet Film Luncurkan Film Pendek Aksi 'ASA' untuk Promosikan Talenta Lokal Jambi

Bukankah ini bentuk kezaliman yang nyata? Betapa kontrasnya dengan perjuangan para tokoh pemekaran dulu, yang justru mengorbankan segalanya agar Dharmasraya lahir untuk rakyat.

Maka pada momentum HUT RI ke-80 ini, mari kita renungkan:

Apakah cita-cita pemekaran Dharmasraya sudah benar-benar terwujud?

Apakah perjuangan ASN yang dahulu menopang berdirinya pemerintahan ini mendapat penghargaan layak?

Ataukah Dharmasraya justru tersandera oleh ambisi segelintir orang yang menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri?

Sejarah tidak boleh dilupakan. Pemimpin boleh berganti, tapi jasa para tokoh pemekaran dan perjuangan ASN tidak bisa dihapus. Mereka adalah fondasi Dharmasraya.

Maka, wahai pemimpin hari ini, jangan pernah khianati perjuangan itu. Jangan biarkan kursi kekuasaan menjadi ladang KKN. Sebab rakyat Dharmasraya, yang pernah berkorban demi mekar dari Sijunjung, tidak akan tinggal diam melihat daerah yang dicintainya dipimpin dengan cara zalim. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I
Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi
My Rubel Literasi Center Gebrak Festival Literasi Pasaman Barat 2026, Siap Lahirkan Generasi Emas 2045
Lampung Jadi Tuan Rumah HUT ke-19 PPWI, Husin Muchtar: Momentum Mempererat Persatuan dan Berdampak bagi Ekonomi Daerah
Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi
Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?
Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan
Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 18:28 WIB

Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I

Jumat, 18 September 2026 - 11:57 WIB

Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi

Rabu, 16 September 2026 - 15:58 WIB

Lampung Jadi Tuan Rumah HUT ke-19 PPWI, Husin Muchtar: Momentum Mempererat Persatuan dan Berdampak bagi Ekonomi Daerah

Sabtu, 12 September 2026 - 09:21 WIB

Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi

Kamis, 10 September 2026 - 11:05 WIB

Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?

Berita Terbaru