Menu

Mode Gelap

Opini

Buzzer 3M: Menjilat, Menyanjung, Menyikut – Lalu Apa Selanjutnya?

badge-check


					Buzzer 3M: Menjilat, Menyanjung, Menyikut – Lalu Apa Selanjutnya? Perbesar

Gambar ilustrasi Buzzer (Dok, Istimewa)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net

 

Di tengah dinamika politik Dharmasraya, fenomena “buzzer” kian mencuat. Mereka bukan lagi sekadar akun anonim di media sosial, melainkan “pasukan siluman” yang rajin beraksi tiap kali kritik dialamatkan kepada bupati. Tak lain, mereka menjalankan misi 3M: Menjilat, Menyanjung, dan Menyikut. Semoga jangan sampai berlanjut ke “Merampok.”

Bagi sebagian masyarakat, ini bukan sekadar permainan opini. Mereka melihat ada pola: setiap kritik dialihkan, setiap suara berbeda ditekan, dan setiap pujian digemakan seolah-olah suara rakyat.

“Ini jelas mencederai citra seorang pemimpin. Membayar atau mengarahkan buzzer untuk menyerang lawan kritik sama saja menipu diri sendiri. Publik bukan bodoh,” tegas Zainal (35), tokoh masyarakat Dharmasraya, yang gusar melihat tren ini.

 

Pers Bukan Musuh, Kritik Bukan Bencana

Zainal mengingatkan: pers adalah pilar keempat demokrasi, bukan alat pengganggu. Produk jurnalistik yang berbasis data dan fakta seharusnya disikapi sebagai kontrol sosial, bukan dianggap serangan pribadi.

“Pejabat kok takut dikritik? Itu justru tanda kelemahan. Kritik adalah vitamin bagi kepemimpinan. Kalau takut, jangan jadi pemimpin,” cetusnya pedas.

Di era keterbukaan informasi, publik Dharmasraya semakin cerdas. Netizen bahkan lebih tajam dalam berkomentar ketimbang buzzer bayaran. Satu peristiwa di selatan kabupaten, hanya butuh hitungan menit sudah bergaung sampai ke Pulau Punjung. Maka, upaya “membodohi publik” lewat pasukan buzzer hanyalah ilusi.

 

Bupati Harus Tunjukkan Kelas

Saat ini, Dharmasraya berada di awal periode kepemimpinan baru. Masih ada waktu hingga 2025 untuk membuktikan arah dan gaya kepemimpinan. Apakah ia akan dikenang sebagai pemimpin yang berani, terbuka pada kritik, dan dekat dengan rakyat—atau sebaliknya, sebagai pemimpin yang berlindung di balik buzzer dan pujian palsu.

“Perbaikilah gaya kepemimpinan dari sekarang. Jangan salahkan masyarakat kalau nanti bereaksi keras terhadap kebijakan yang tidak berpihak. Ingat, rakyat mungkin diam sebagai penonton, tapi mereka bisa bersuara lantang saat merasa dikhianati,” ujar Zainal mengakhiri.

 

Catatan Tajam

Buzzer 3M mungkin bekerja keras untuk mengangkat citra, tetapi masyarakat jauh lebih pintar dari yang mereka kira. Menjilat dan menyanjung tidak akan membangun Dharmasraya, justru mempermalukan kepemimpinan. Sejatinya, kepemimpinan yang kuat tidak butuh pasukan buzzer, melainkan butuh keberanian menghadapi kritik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. **mitolyn reviews**

    Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

    Balas
  2. **back biome official**

    Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

29 April 2026 - 10:44 WIB

Sultaf Restaurant Yogyakarta Restoran Masakan Pakistan & Yaman Terbaik di Sleman

29 April 2026 - 10:26 WIB

Ombudsman dalam Jerat Mafia

20 April 2026 - 16:16 WIB

Trending di Berita