Pj Sekda Dharmasraya Jasman (Dok, Istimewa)
Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net
Ada pemandangan baru di Dharmasraya. Setelah beberapa bulan menjabat, sang bupati seperti memilih berdiri di balik layar. Justru Pj Sekda Jasman yang tampak maju ke panggung utama, menjadi wajah, suara, dan bahkan nafas dari pemerintahan ini.
Bukan rahasia lagi, hampir setiap agenda penting, dari pembahasan KUA-PPAS hingga forum krusial bersama DPRD, selalu terwakili oleh sekda. Jasman tampil ke depan, sementara sang bupati lebih sering absen. Pertanyaan pun menggantung di ruang publik: apakah bupati kita tak cukup bernyali untuk berdialog dengan wakil rakyatnya? Atau memang belum percaya diri menyuarakan programnya sendiri?
Tradisi Baru atau Gejala Lemahnya Kepemimpinan?
Sejak Dharmasraya berdiri, jarang sekali kita melihat sekda sedemikian dominan. Jasman kini bukan sekadar administrator birokrasi, melainkan seolah “panglima lapangan” yang mengamankan langkah demi langkah kebijakan daerah. Ada yang menyebut ini sebagai bentuk efisiensi. Namun, tak sedikit pula yang menilai ini adalah cermin rapuhnya kepemimpinan seorang bupati baru yang masih belajar memahami panggung politik dan pemerintahan.
Sungguh ironis, kursi bupati yang mestinya penuh wibawa, kini seperti ditopang oleh seorang sekda. Padahal masyarakat Dharmasraya tidak memilih sekda, melainkan bupati. Jasman memang bekerja dengan baik, tetapi bukankah seharusnya seorang pemimpin hadir langsung di momen-momen strategis?
Dharmasraya Butuh Pemimpin, Bukan Penonton
Perjalanan masih panjang. Tahun 2025 menjadi tonggak uji kepemimpinan: apakah bupati mampu berdiri tegak, mengambil alih kendali, dan berbicara di hadapan publik tanpa perantara? Ataukah Dharmasraya harus rela dipimpin dari balik bayang-bayang seorang sekda?
Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin melihat pemimpinnya berani, hadir, dan memimpin dengan hati. Karena di kursi bupati, yang diharapkan bukan sekadar tanda tangan, tapi juga keberanian untuk berdiri di garis depan.
Catatan
Hari ini, Jasman mungkin menjadi ujung tombak. Tapi ujung tombak sejatinya bukan untuk menggantikan pemegangnya. Jika bupati terus bersembunyi di balik sekda, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kewibawaan jabatan, tetapi juga kepercayaan rakyat Dharmasraya.(**)














