Gambar Aspal Baru Menghitam, Tronton Overload Menggilas (Mediainvestigasi.net/Yanti)
Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net
Dharmasraya – Senin (29/09/2025), Warna hitam pekat aspal di jalur Koto Baru menuju Simpang Simalidu masih terlihat segar. Plang tanda proyek jalan masih berdiri miring di pinggir, belum sempat dicabut. Semua orang tahu, jalan ini baru saja dikerjakan dengan anggaran provinsi—hasil dari lobi panjang yang kerap dipamerkan Bupati Dharmasraya Anisa Suci Ramadani melalui unggahan media sosialnya.
Namun, pemandangan ironis muncul hanya beberapa hari setelah aspal baru itu dituang. Sebuah tronton raksasa, bukan hanya overload tapi juga diduga overdimesi, bebas merayap di jalan yang jelas bukan kelasnya. Ban-ban besi kendaraan itu menekan aspal yang masih muda, seolah menguji seberapa lama hasil pembangunan ini bisa bertahan.
Luka Lama yang Belum Sembuh
Bagi masyarakat Dharmasraya, kerusakan jalan bukan cerita baru. Bertahun-tahun mereka dipaksa menerima kondisi jalan penuh lubang, dari Simpang Simalidu, Pulau Mainan hingga Koto Baru. Ketika perbaikan jalan akhirnya datang, meski hanya di sejumlah titik dan tidak menyeluruh, harapan kembali tumbuh: setidaknya akses transportasi sedikit membaik.
Sayangnya, harapan itu langsung terancam. Truk-truk sawit dengan muatan berlebih kembali melintas, menciptakan keresahan baru. Bukan hanya soal aspal yang bisa cepat hancur, tapi juga ancaman keselamatan pengguna jalan lain.
“Tronton sebesar itu kalau dibiarkan, bukan hanya jalan yang hancur. Keselamatan kami juga taruhannya. Kalau sampai tabrakan dengan kendaraan kecil, bisa habis,” ujar Agus (54) seorang warga Pulau Mainan dengan nada kesal.
Desakan dari Akar Rumput
Kini masyarakat tidak lagi ingin janji manis. Mereka mendesak bupati untuk mengambil tindakan nyata: amankan kendaraan tronton tersebut, temui pemilik buah sawit, bahkan jika perlu pasang portal di titik-titik tertentu agar kendaraan overdimesi dan overload tidak bisa melintas di jalur yang bukan kelasnya.
Masyarakat sadar, tanpa ketegasan, perbaikan jalan hanya akan jadi “ladang proyek abadi”—dikerjakan, rusak, lalu dikerjakan kembali.
Bupati Sibuk Proposal, Jalan Terancam Mubazir
Yang membuat warga semakin kecewa, bupati mereka kerap terlihat sibuk bolak-balik ke Jakarta membawa proposal pembangunan. Setiap minggu, kabar keberangkatannya dengan pesawat bisnis beredar luas. Proposal demi proposal diajukan, seakan-akan pembangunan cukup dengan tanda tangan pejabat pusat.
Padahal, di depan mata, jalan yang sudah terealisasi anggarannya kini terancam kembali rusak. Bukan karena dana kurang, tapi karena lemahnya penindakan pemerintah daerah terhadap kendaraan overload.
Jalan Baru, Masalah Lama
Pertanyaan besar pun menggantung di tengah masyarakat:
Apa gunanya bangga memposting jalan baru di media sosial, jika truk overload dan overdimesi tetap bebas menggilasnya? Apa artinya membawa pulang anggaran miliaran rupiah, jika hasilnya hanya jadi monumen kegagalan?
Bagi rakyat, jawabannya jelas: Bupati Anisa lebih sibuk pencitraan di media sosial ketimbang melindungi jalan rakyatnya.
















1 Komentar