Gambar: Kondisi terkini salah satu dari tiga sungai tanpa jembatan yang di keluhkan masyarakat tiga jorong di Lubuk Karak (Dok, Istimewa)
Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Di tengah geliat pembangunan di Kabupaten Dharmasraya, masih ada tiga jorong di Nagari Lubuk Karak, Kecamatan Sembilan Koto, yang seperti tertinggal dari peta pembangunan. Jorong Singolan, Jorong Sungai Kapur, dan Jorong Siraho hingga kini masih terisolir akibat akses jalan rusak parah dan tidak adanya jembatan penghubung.
Jarak dari Jorong Siraho ke Kantor Wali Nagari Lubuk Karak sebenarnya hanya sekitar 5 kilometer. Namun karena jalan tembus tidak terawat dan berbahaya, warga harus memutar melewati Nagari Silago hanya untuk mengurus administrasi atau sekadar mengambil bantuan.
“Harapan kami sederhana, bangunkan jalan tembus dari Jorong Siraho ke Kantor Wali Nagari,” ujar Amrizal Datuk Rajo Sampono, ninik mamak dari Suku Melayu, saat ditemui awak media, Rabu (4/3/2026).
Jalan Tanah, Licin Saat Hujan
Realita di lapangan berbicara lebih keras. Jalan menuju tiga jorong tersebut belum pernah tersentuh aspal. Permukaannya tanah bercampur batu, berlubang, dan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan turun.
Lebih ekstrem lagi, untuk sampai ke Jorong Siraho, pejalan kaki, pengendara harus menyeberangi tiga titik sungai tanpa jembatan permanen. Tidak ada pelindung, tidak ada akses beton. Saat debit air naik, risiko kecelakaan mengintai.
Kondisi ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal keselamatan.
Pelajar Jadi Korban Infrastruktur Buruk
Yang paling terdampak adalah para pelajar. Setiap hari, siswa SMP dan SMA dari tiga jorong ini harus memutar jauh demi sampai ke sekolah.
“Kami harus memutar dulu baru bisa sampai ke sekolah. Kalau musim hujan, banyak yang jatuh karena jalan licin,” kata Putri, seorang siswi SMP dengan nada lirih.
Perjalanan sekolah yang seharusnya menjadi rutinitas biasa, berubah jadi perjuangan penuh risiko. Jalan licin, sungai tanpa jembatan, dan medan berat menjadi santapan harian mereka.
Bantuan Sosial Tak Seberapa, Ongkos Lebih Besar
Masalah akses ini juga berdampak pada pelayanan publik. Sejumlah warga mengaku enggan mengambil bantuan Raskin ke Kantor Wali Nagari karena jarak tempuh dan biaya transportasi lebih besar dibanding nilai bantuan yang diterima.
Kini masyarakat hanya berharap satu hal: Pemerintah Kabupaten Dharmasraya segera turun tangan. Bangun dan rawat kembali jalan tembus. Dirikan jembatan permanen. Karena bagi warga Singolan, Sungai Kapur, dan Siraho, akses jalan bukan sekadar infrastruktur tapi urat nadi kehidupan.
Editor: Mitra Yuyanti











