Menu

Mode Gelap

Berita

Setahun Berdiri, Tower Internet di Ampek Koto Dibawuah Masih Jadi Monumen Besi: Janji Bupati Dharmasraya Dipertanyakan

badge-check


					Setahun Berdiri, Tower Internet di Ampek Koto Dibawuah Masih Jadi Monumen Besi: Janji Bupati Dharmasraya Dipertanyakan Perbesar

Gambar: Kondisi Tower Internet di Ampek Koto Dibawuah Masih Jadi Monumen Besi (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)

 

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Harapan warga Nagari Ampek Koto Dibawuah, Kecamatan Sembilan Koto, Kabupaten Dharmasraya, untuk menikmati akses internet yang layak tampaknya masih sebatas angan. Tower jaringan internet yang berdiri tepat di depan Kantor Wali Nagari Ampek Koto Dibawuah hingga kini hanya menjadi rangka besi tak bernyawa.

Sudah satu tahun tower tersebut berdiri. Namun ironisnya, sinyal internet yang dijanjikan belum juga bisa dinikmati masyarakat sekitar.

“Di sini sudah ada tower katanya untuk jaringan internet. Sudah satu tahun tower di sana, di depan kantor wali itu. Kami masih juga tidak ada sinyal internet,” ujar Ekon (54), salah seorang warga dengan nada kesal.

Keluhan ini bukan tanpa alasan. Wilayah Ampek Koto Dibawuah sejak lama dikenal sebagai daerah dengan akses internet terbatas. Kehadiran tower tersebut sempat disambut penuh optimisme, karena digadang-gadang menjadi solusi atas keluhan menahun masyarakat terkait sulitnya jaringan telekomunikasi.

Namun fakta di lapangan berkata lain.

Wali Nagari Ampek Koto Dibawuah, Mukhlis Dt Sampono, membenarkan bahwa hingga kini tower tersebut belum berfungsi.

“Benar, sampai saat ini belum bisa berfungsi,” ujarnya singkat.

Janji di Awal Kepemimpinan

Publik tentu masih ingat, di awal masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadani – Leli Arni, isu blankspot menjadi salah satu perhatian serius.

Bahkan, dengan difasilitasi Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, Bupati Annisa disebut melakukan kunjungan resmi ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan jajaran pimpinan Telkomsel.

Dalam pertemuan tersebut, disampaikan proposal pembangunan menara telekomunikasi (BTS) di delapan nagari blankspot di Kabupaten Dharmasraya.

Langkah itu kala itu dipuji sebagai gerak cepat dan bukti keseriusan pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat di era digital.

Namun setahun berlalu, tower di Ampek Koto Dibawuah justru menjadi simbol pertanyaan besar: apakah ini sekadar pencitraan awal masa jabatan?

Antara Seremonial dan Realisasi

Masyarakat tidak butuh rangka besi. Mereka butuh sinyal. Mereka butuh akses internet untuk pendidikan anak-anak, komunikasi, hingga aktivitas ekonomi digital yang kini tak terelakkan.

Jika tower sudah berdiri namun tak berfungsi, publik berhak mengetahui:

Apakah perangkat BTS belum terpasang?

Apakah terkendala administrasi?

Ataukah ini proyek yang berhenti di tengah jalan?

Ketiadaan penjelasan resmi justru memunculkan spekulasi dan kekecewaan.

Di tengah gencarnya narasi transformasi digital dan pemerataan pembangunan, kondisi ini menjadi tamparan keras bagi kepemimpinan daerah. Terlebih ketika proyek tersebut pernah dielu-elukan sebagai bukti konkret kerja cepat di awal pemerintahan.

Tower itu kini berdiri tegak. Tapi ia tak memancarkan sinyal.

Yang terpancar justru satu hal: tanya besar dari masyarakat Dharmasraya kapan janji itu benar-benar menyala?

Editor: Mitra Yuyanti 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemkab Tapteng dan IT Del Tanda Tangani MoU Percepatan Digitalisasi Pemerintahan

15 Maret 2026 - 20:30 WIB

Wakil Bupati Tapteng Harapkan Pengurus KONI Tapteng Mampu Membina Generasi Muda Melalui Olahraga

15 Maret 2026 - 20:27 WIB

Polres Tapanuli Tengah Selidiki Temuan Mayat Pria di Sibabangun

15 Maret 2026 - 20:23 WIB

Trending di Berita