Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net — Terpilihnya H. M. Ihpan sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pasaman Barat periode 2026–2031 menandai dimulainya babak baru bagi organisasi kemanusiaan terbesar di daerah tersebut.
Tidak ingin berlama-lama dalam euforia pasca Musyawarah Kabupaten (Muskab) PMI ke-VI, Ihpan bersama tim formatur langsung bergerak menyusun struktur kepengurusan baru yang dinilai lebih profesional, representatif, dan mampu menjawab tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
Pesan yang dibawa cukup tegas: PMI Pasaman Barat ke depan harus menjadi organisasi yang kuat secara kelembagaan, kaya pengalaman lapangan, dan didukung oleh sumber daya manusia terbaik dari berbagai latar belakang.
Menurut H. M. Ihpan, kepengurusan PMI lima tahun mendatang tidak boleh hanya diisi oleh figur yang memiliki nama besar, tetapi juga harus memiliki komitmen, kapasitas, dan kepedulian nyata terhadap misi kemanusiaan.
“PMI membutuhkan orang-orang yang siap bekerja dan mengabdi. Kita ingin membangun organisasi yang profesional, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, proses penyusunan pengurus dilakukan secara serius dan mempertimbangkan berbagai aspek,” tegas Ihpan.
Menggabungkan Pengalaman, Profesionalisme, dan Semangat Relawan

Gerak tim gabungan membantu warga terdampak bencana di Pasaman Barat, Sumbar. (Foto: DOK Pos SAR Pasaman Barat)
Salah satu langkah yang tengah dilakukan tim formatur adalah membuka ruang bagi berbagai unsur untuk masuk dalam kepengurusan PMI Pasaman Barat periode 2026–2031.
Mulai dari tokoh masyarakat, tokoh adat, kalangan profesional, akademisi, pelaku usaha, tokoh politik, hingga relawan aktif PMI menjadi bagian dari komposisi yang sedang dirancang.
Langkah ini dinilai penting mengingat PMI tidak hanya bergerak dalam penanggulangan bencana, tetapi juga menjalankan berbagai program kemanusiaan lainnya seperti pelayanan donor darah, kesiapsiagaan bencana, kesehatan masyarakat, pendidikan relawan, hingga pelayanan sosial kemasyarakatan.
Dengan melibatkan banyak unsur, PMI diharapkan memiliki jaringan yang lebih luas dan kapasitas yang lebih kuat dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan di Pasaman Barat.
Relawan Tetap Menjadi Jantung Organisasi
Meski ingin memperkuat organisasi melalui keterlibatan berbagai kalangan, PMI Pasaman Barat memastikan relawan tetap menjadi bagian penting dalam struktur kepengurusan yang akan dibentuk.
Hal itu disampaikan oleh Yuheldi, atau yang lebih dikenal dengan nama Dedi Rang Sinuruik, Ketua PMI Kecamatan Talamau yang juga dipercaya menjadi anggota tim formatur mewakili unsur pengurus PMI kecamatan.
Menurut Yuheldi, keberadaan relawan dalam kepengurusan bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan organisasi.
“Relawan adalah kekuatan utama PMI. Mereka yang paling sering turun ke lapangan, menghadapi situasi darurat, berinteraksi langsung dengan masyarakat, dan memahami persoalan kemanusiaan secara nyata. Pengalaman mereka harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan organisasi,” ujar Yuheldi.
Ia menilai, organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu mendengar suara relawan sekaligus memadukannya dengan kemampuan manajerial dan profesionalisme para pengurus.
Menjawab Tantangan Kemanusiaan yang Semakin Kompleks
Pasaman Barat dikenal sebagai salah satu daerah di Sumatera Barat yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
Banjir, longsor, cuaca ekstrem, hingga berbagai persoalan sosial dan kesehatan masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, menurut Yuheldi, PMI membutuhkan kepengurusan yang mampu bekerja lintas sektor dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Ke depan tantangan kemanusiaan akan semakin kompleks. PMI harus memiliki orang-orang yang memahami manajemen organisasi, komunikasi publik, kebencanaan, kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Semua itu harus berjalan dalam satu semangat kemanusiaan,” katanya.
Momentum Pembenahan dan Penguatan Organisasi
Pembentukan kepengurusan baru PMI Pasaman Barat juga dipandang sebagai momentum untuk melakukan penguatan organisasi secara menyeluruh.
Pantauan media ini, selama beberapa tahun terakhir, PMI Pasaman Barat terlibat dalam berbagai operasi kemanusiaan besar, mulai dari penanganan pandemi, pelayanan donor darah, hingga operasi tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pasaman Barat.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun organisasi yang lebih modern, responsif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Selain memperkuat pelayanan kemanusiaan, kepengurusan baru juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas relawan, memperluas kemitraan, serta memperkuat posisi PMI sebagai organisasi yang dipercaya masyarakat.
Membangun PMI yang Lebih Kuat dan Berdaya
Bagi H. M. Ihpan, proses penyusunan pengurus bukan sekadar mengisi jabatan dalam struktur organisasi.
Lebih dari itu, proses ini merupakan upaya membangun fondasi kuat bagi PMI Pasaman Barat agar mampu tumbuh sebagai organisasi kemanusiaan yang profesional dan berkelanjutan.
“Kita ingin PMI menjadi rumah besar kemanusiaan. Tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kepedulian, kemampuan, dan semangat untuk melayani masyarakat. Siapa pun yang bergabung nanti harus siap bekerja dan memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi,” tegasnya.
Dengan dukungan tim formatur, relawan, dan berbagai elemen masyarakat yang akan dilibatkan, PMI Pasaman Barat optimistis dapat menghadirkan kepengurusan baru yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga mampu menjawab harapan masyarakat.
Di tengah meningkatnya tantangan sosial, kesehatan, dan kebencanaan di daerah, PMI Pasaman Barat kini tengah menyiapkan fondasi baru untuk lima tahun ke depan: lebih profesional, lebih inklusif, dan lebih dekat dengan masyarakat.
Karena pada akhirnya, kekuatan PMI bukan hanya terletak pada struktur organisasinya, melainkan pada orang-orang yang bekerja di dalamnya dengan satu tujuan yang sama: mengabdi untuk kemanusiaan.***
Penulis: Rully Firmansyah
Editor: Rully Firmansyah













