Sorotan Penanganan Kasus Pengeroyokan Meri di Pasaman Barat: Beban Pencarian Saksi ke Keluarga Dinilai Tak Tepat, Bukan Delik Aduan!

- Penulis

Jumat, 23 Januari 2026 - 16:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net – Penanganan kasus pengeroyokan yang menewaskan Meri (48) di Jorong Durian Tigo Batang, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat, menuai perhatian serius.

Keluarga korban menilai terdapat kejanggalan dalam proses penyidikan, khususnya terkait kesulitan penyidik menghadirkan saksi yang justru berujung pada dorongan agar pihak keluarga korban ikut mencarikan saksi yang memberatkan pelaku.

Kondisi tersebut dipandang tidak sejalan dengan prinsip hukum acara pidana, mengingat perkara pengeroyokan yang mengakibatkan kematian bukan merupakan delik aduan, melainkan tindak pidana umum yang menjadi tanggung jawab penuh negara.

“Dalam perkara pidana yang menimbulkan korban jiwa, negara wajib aktif. Tidak tepat jika beban pembuktian secara praktik dialihkan kepada keluarga korban,” ujar Rully Firmansyah, juru bicara keluarga korban, dalam keterangannya kepada media, Jumat 23/1/2026.

Delik Biasa, Penyidikan Wajib Proaktif

Secara yuridis, kasus pengeroyokan yang menyebabkan meninggal dunia termasuk dalam kategori delik biasa, antara lain sebagaimana diatur dalam Pasal 170 KUHP dan ketentuan penganiayaan berat yang berakibat kematian.

Dalam delik biasa:

  1. Proses hukum tidak bergantung pada pengaduan korban
  2. Aparat penegak hukum wajib memproses perkara secara aktif
  3. Tanggung jawab pembuktian sepenuhnya berada pada penyidik dan penuntut umum

Menurut Rully, sejak peristiwa pidana terjadi dan korban meninggal dunia, kewajiban negara untuk mengungkap fakta hukum sudah melekat secara otomatis.

KUHAP Tegaskan Tugas Penyidik

Menurut Rully, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), penyidikan didefinisikan sebagai serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti guna membuat terang tindak pidana dan menemukan tersangkanya.

KUHAP memberikan kewenangan luas kepada penyidik, antara lain:

  • Memanggil dan memeriksa saksi
  • Melakukan upaya paksa sesuai ketentuan
  • Menggali alat bukti dari tempat kejadian perkara, barang bukti, dan keterangan ahli
Baca Juga :  Tampung Pecatan PT. Timah, BGN Disorot Tajam Sejumlah Pihak

“Tidak ada norma dalam KUHAP yang membebankan kewajiban pencarian saksi kepada keluarga korban, terlebih dalam perkara pidana berat,” kata Rully.

Risiko Reviktimisasi Korban

Keluarga korban menilai dorongan agar mereka terlibat aktif mencari saksi justru menimbulkan tekanan baru, baik secara psikologis maupun sosial.

Dalam konteks keadilan pidana, situasi ini berpotensi mengarah pada reviktimisasi, yakni kondisi di mana korban kembali mengalami penderitaan akibat proses hukum yang tidak sensitif.

“Korban sudah kehilangan nyawa, keluarga kehilangan sumber nafkah, lalu masih dibebani urusan teknis penyidikan. Ini tentu memunculkan rasa ketidakadilan,” ujar Rully.

Standar Profesionalitas Aparat Dipertanyakan

Dalam sejumlah regulasi internal kepolisian, penyidikan wajib dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan.

Kesulitan menghadirkan saksi dinilai sebagai tantangan teknis penyidikan yang harus diatasi melalui mekanisme hukum yang tersedia, bukan dengan mengalihkan peran tersebut kepada warga.

Para pemerhati hukum mengingatkan, apabila praktik semacam ini dibiarkan, dapat berdampak pada:

  1. Tidak terungkapnya fakta hukum secara utuh
  2. Potensi kekeliruan dalam penetapan tersangka
  3. Menurunnya kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum

Keluarga Korban Minta Pengawasan dan Transparansi

Atas dasar itu, keluarga korban berharap proses hukum dalam kasus ini mendapat pengawasan lebih luas agar berjalan sesuai prinsip keadilan dan kepastian hukum.

Mereka menegaskan tidak mencari sensasi, melainkan ingin memastikan seluruh pihak yang terlibat, baik pelaku langsung maupun pihak yang diduga lalai, dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.

“Kami hanya ingin kasus ini dibuka seterang-terangnya. Negara hadir untuk menegakkan keadilan, bukan sebaliknya,” pungkas Rully.

Sebelumnya, Satreskrim Polres Pasaman Barat menggelar rekonstruksi (reka ulang) kasus pengeroyokan yang menewaskan Meri (48), warga Jorong Durian Tigo Batang, Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat, Kamis siang (22/1/2026).

Baca Juga :  Tikam Kakak Ipar, Pria Tembilahan Ditangkap Polisi

Rekonstruksi dilaksanakan di halaman Mapolres Pasaman Barat dengan memperagakan 29 adegan, dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim AKP Fuat Habib Al Hafsi, serta dihadiri jajaran penyidik Reskrim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pasaman Barat.

Pada Kamis sore (22/1/2026), kuasa hukum korban secara resmi mengajukan dua orang saksi tambahan untuk diperiksa penyidik.

Menurut Ahmad Romi, berdasarkan keterangan saksi dari lingkungan keluarga, terdapat dugaan bahwa pengeroyokan terhadap korban tidak hanya dilakukan oleh dua orang, melainkan diduga melibatkan empat orang.

Selain itu, pihak kuasa hukum juga menolak satu adegan dari total 29 adegan dalam rekonstruksi karena dinilai tidak sesuai dengan fakta lapangan sebagaimana keterangan saksi pihak korban.***

Penulis: Dilvan Andeski

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merasa ditipu warga Semendawai suku 3 lapor ke Polisi, Hak orang pekerja sampai saat ini belum diberikan
Ketua Investigasi Nasional LPK-GPI Tegas Minta KPK RI Tak Harus Mati Suri Berantas Seluruh Kasus Korupsi Bersarang Di Wilayah Provinsi Maluku Utara
Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi
Polsek Padang Selatan Bekuk Juru Parkir Terduga Penggelapan Sepeda Motor
Kantor ATR/BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Dalami Dugaan Mafia Tanah PTSL 2019
1. CHAT WALI JORONG PILADANG TERUNGKAP: “SAMPAI KINI AMBO BENTUK INDAK DIANGGAP JO PEMBORONG”
Ketua Investigasi Nasional LPK-GPI Tegas Minta Seluruh Penegak Hukum Tangkap Seluruh Drakula Pelaku Pembongkaran RSUD Lama Bobong Pulau Taliabu
Ketua Investigasi Nasional LPK GPI La Omy La Tua Soroti Tiga Proyek Jalan Macan Tutul Terbengkalai Di Pulau Taliabu Alasan Dinas PUPR Keterlambatan Material
Berita ini 183 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:22 WIB

Merasa ditipu warga Semendawai suku 3 lapor ke Polisi, Hak orang pekerja sampai saat ini belum diberikan

Sabtu, 12 September 2026 - 10:02 WIB

Ketua Investigasi Nasional LPK-GPI Tegas Minta KPK RI Tak Harus Mati Suri Berantas Seluruh Kasus Korupsi Bersarang Di Wilayah Provinsi Maluku Utara

Sabtu, 12 September 2026 - 09:21 WIB

Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi

Sabtu, 12 September 2026 - 08:21 WIB

Polsek Padang Selatan Bekuk Juru Parkir Terduga Penggelapan Sepeda Motor

Jumat, 11 September 2026 - 23:07 WIB

Kantor ATR/BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Dalami Dugaan Mafia Tanah PTSL 2019

Berita Terbaru

Headline

Senin, 14 Sep 2026 - 14:55 WIB