Gambar atas Junaindra Sumawan dan Presiden Prabowo Subianto, Bawah Anisa saat di Jakarta (Dok, Istimewa)
Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Aroma keretakan mulai tercium di tubuh Partai Gerindra Dharmasraya. Program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang seharusnya jadi panggung kebersamaan justru menampakkan jurang perbedaan antara dua kader utama: Junaindra Sumawan dan Bupati Anisa Suci Ramadhani.
Di tengah keraguan sejumlah pengusaha lokal soal keberlangsungan MBG, dukungan penuh justru datang dari Junaindra. Kader Gerindra ini tampil di garis depan, bergerak cepat sejak 5 Maret dengan membangun komunikasi bersama Polres Dharmasraya (AKP Rajulan), hingga kemudian melahirkan kesepakatan lokasi Sentra Pangan Program Gizi (SPPG) di lahan keluarganya, Blok E, Nagari Tiumang.
Survei dari Polda Sumbar dan Badan Gizi Nasional (BGN) menguatkan persiapan tersebut. Hasilnya, pada 26 Agustus 2025, program MBG resmi berjalan perdana di Dharmasraya. Kapasitas produksi hari pertama mencapai 2.000 porsi makanan bergizi, meningkat jadi 2.700 porsi di hari kedua, dan ditargetkan 4.000 porsi per hari.
Junaindra pun menuai pujian, disebut sebagai sosok di balik suksesnya MBG perdana di Dharmasraya.
“Program ini mampu menyerap tenaga kerja, menggerakkan ekonomi desa, mengatasi kelaparan, dan meningkatkan gizi masyarakat,” katanya.
SPPG Dharmasraya saat ini melayani wilayah Kecamatan Koto Baru dan Tiumang. “Semua ini tentu akan berpengaruh pada daya saing bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya dikutip dari radarsumbar.com
Anisa Justru di Jakarta
Namun di hari yang sama, 26 Agustus 2025, saat momentum perdana MBG berlangsung di Dharmasraya, Bupati Anisa Suci Ramadhani justru berada jauh di Jakarta. Agenda kunjungan kerja ke Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kepala Bapperida Frinaldi dilaporkan hanya sebatas rapat pembahasan percepatan pembangunan SPPG. Dikutip dari Release Dharmasraya.
Langkah Anisa itu memunculkan tanda tanya besar. Mengapa seorang bupati justru absen di lapangan pada momen perdana program nasional yang menjadi instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto, sekaligus Ketua Umum Gerindra?
Kondisi ini makin memperkeruh persepsi publik: apakah Anisa sengaja mengambil jarak dari instruksi partai, atau ada tarik-menarik kepentingan politik di balik program MBG?
Retakan Kader, Pertaruhan Marwah Gerindra
Fakta bahwa Junaindra berhasil mengawal MBG hingga terealisasi tanpa melibatkan bupati, jelas menjadi sorotan. Publik menilai, ada “dualisme” kepemimpinan kader Gerindra di Dharmasraya.
Di satu sisi, Junaindra tampil konkret di lapangan bersama Polres, Polda, hingga BGN. Di sisi lain, Anisa terlihat sibuk dengan agenda rapat di ibu kota, alih-alih mendampingi program prioritas presiden di daerah yang dipimpinnya sendiri.
Pengamat: “Sinyal Bahaya untuk Anisa”
Seorang pengamat politik lokal berinisial A, yang tidak mau disebutkan namanya menilai perbedaan langkah Junaindra dan Anisa ini lebih dari sekadar perbedaan agenda.
“Ini sinyal bahaya untuk Anisa. Ketika program besar Presiden Prabowo berjalan di daerahnya, lalu orang yang dipuji publik adalah kader lain dari partai yang sama, maka secara politik itu menegaskan lemahnya posisi bupati di mata partai dan rakyat,” ucapnya.
Dia menambahkan, absennya Anisa pada momentum perdana MBG justru bisa ditafsirkan sebagai ketidakpatuhan terhadap instruksi presiden sekaligus ketua umum partai.
“Gerindra sangat tegas soal loyalitas. Kalau ada kader yang tampak menjauh dari garis instruksi, tentu itu akan dibaca sebagai masalah serius,” ujarnya.
Masyarakat Mulai Bertanya
Di warung kopi hingga grup WhatsApp warga, publik mulai membandingkan: mengapa Junaindra bisa hadir dengan langkah nyata, sementara Anisa memilih jalur rapat di Jakarta?
Apalagi, MBG adalah program yang menyentuh langsung dapur rakyat. Ketidakhadiran Anisa di lapangan membuat sebagian warga beranggapan bupati lebih sibuk membangun citra birokrasi ketimbang menjawab kebutuhan perut rakyatnya.
Gerindra di Persimpangan
Kini, Gerindra Dharmasraya dihadapkan pada ujian serius. Retakan yang ditunjukkan dua kadernya bisa berimplikasi besar, terutama menjelang konsolidasi menuju Pemilu 2029. Apakah bupati Anisa akan sejalan dengan kader Gerindra Dharmasraya atau justru mulai melirik partai lain. Saat ini publik menilai Junaindra lah yang terbukti bekerja nyata di lapangan.
Satu hal yang pasti, publik Dharmasraya sudah melihat siapa yang turun tangan langsung, dan siapa yang memilih absen.
Editor: Yanti













1 Komentar
**back biome official**
Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.