Menu

Mode Gelap

Bisnis

Harga Emas vs Perak Hari Ini: Emas Melejit Tembus US$4.000, Perak Ikut Ngebut! Siapa Paling Bersinar?

badge-check


					ilustrasi. Perbandingan Emas dan Perak, Siapa Lebih Unggul? (Foto; DOK IST) Perbesar

ilustrasi. Perbandingan Emas dan Perak, Siapa Lebih Unggul? (Foto; DOK IST)

Jakarta, Mediainvestigasi.net – Pasar logam mulia lagi-lagi tampil dramatis, Selasa pagi (25/11/2025). Emas melonjak hampir 2% dan sukses meninggalkan level psikologis US$4.000 per troy ons.

Sementara itu, perak tidak mau kalah dan justru mencetak kenaikan harian lebih besar dari emas.

Keduanya kompak naik berkat sentimen pemangkasan suku bunga The Fed dan sederet data ekonomi AS yang sedang jadi sorotan pasar.

Langsung saja kita bahas duel panas emas vs perak minggu ini.

Emas Melejit: Tinggalkan US$4.000 dan Cetak Tiga Rekor Sekaligus

Harga emas terbang tinggi pada perdagangan Senin (24/11/2025). Emas spot melesat 1,82% ke US$4.139,19 per troy ons, sekaligus mencatat tiga pencapaian penting dalam satu hari.

Pertama, emas akhirnya benar-benar menembus dan meninggalkan level psikologis US$4.000 setelah beberapa kali terpental.

Kedua, level kemarin jadi yang tertinggi dalam 12 hari terakhir. Dan ketiga, kenaikan hampir 2% sehari menjadi performa terbaik sejak pertengahan November.

Namun pada Selasa pagi (25/11/2025), harga emas terkoreksi tipis 0,06% ke US$4.136,79 per troy ons—sebuah gerakan normal setelah reli besar.

Apa yang bikin emas “meledak”?

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed benar-benar jadi bahan bakar utamanya. Pasar sekarang menilai peluang penurunan suku bunga Desember mencapai 79%, naik drastis dari 30% di akhir pekan lalu.

Komentar dovish dari Presiden The Fed New York, John Williams, juga membuat pelaku pasar makin pede bahwa suku bunga bisa dipangkas tanpa mengganggu target inflasi.

Selain itu, investor sedang menunggu rilis data ekonomi penting yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah AS, mulai dari penjualan ritel hingga harga produsen. Jika datanya lebih lemah, peluang emas untuk naik lebih jauh semakin terbuka.

Di luar faktor ekonomi, tensi geopolitik juga ikut bermain. AS dan Ukraina kembali melakukan pembicaraan terkait proposal penyelesaian perang Rusia–Ukraina, yang membuat permintaan aset aman seperti emas semakin hidup.

Perak Ikut Pesta: Lonjakan Harian Lebih Kencang dari Emas

Ilustrasi Perak. Foto DOK IST

Sementara emas mencetak rekor, perak juga tampil luar biasa. Pada perdagangan Senin (24/11/2025), harga perak spot melonjak 2,79% ke US$51,40 per troy ons—lebih tinggi dari kenaikan emas di hari yang sama.

Pergerakan ini membuat perak menjadi salah satu logam mulia dengan performa paling agresif saat pasar tersulut euforia suku bunga.

Pada Selasa pagi, perak melemah tipis 0,11% ke US$51,34, tapi secara keseluruhan masih menunjukkan momentum kuat.

Kenapa perak naik setinggi itu?

Selain ikut terdorong sentimen suku bunga The Fed seperti emas, perak juga didukung permintaan besar dari sektor industri.

Mulai dari panel surya, elektronik, hingga teknologi canggih—semuanya meningkatkan permintaan perak ketika ekonomi terlihat lebih stabil.

Pergerakan harga perak juga biasanya lebih volatil dibanding emas, jadi ketika sentimen pasar membaik, lonjakannya bisa lebih agresif.

Mana yang Lebih Bersinar Minggu Ini?

Jika dilihat dari persentase kenaikan, perak sebenarnya unggul tipis karena lonjakannya nyaris 3%.

Namun dari sisi daya tahan, status safe haven, dan kestabilan harga, emas tetap jadi bintang utama, apalagi setelah sukses menembus level US$4.000 yang jadi patokan penting di pasar global.

Keduanya menunjukkan tren positif dan sama-sama diuntungkan oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga, kondisi geopolitik, dan rilis data ekonomi yang akan datang.

Pasar Logam Mulia Masih Panas dan Penuh Peluang

Emas dan perak kompak memamerkan kekuatan di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Emas diperkirakan bertahan di kisaran US$4.000–US$4.150, sementara perak punya peluang menguji area US$52–53 per troy ons dalam waktu dekat.

Buat investor jangka pendek maupun panjang, fase seperti ini adalah waktu yang tepat untuk memantau pergerakan harga lebih dekat, karena volatilitas tinggi sering jadi sinyal peluang.***Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

15 April 2026 - 09:09 WIB

Komdigi Bongkar ‘Dosa’ Platform Digital Meta

5 Maret 2026 - 12:38 WIB

Gelar Buka Bersama BPJPH dan BSN, AMKI Jakarta Dorong Sinergi Penguatan Daya Saing UMKM Produk Halal 

27 Februari 2026 - 15:56 WIB

Trending di Bisnis