Dari Etnik ke Etik

- Penulis

Kamis, 1 Mei 2025 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi. (Dok. Freepik)

Peralihan dari Identitas Berbasis Etnik (Al Betawi) 

Menuju Etika dan Nilai Kebangkitan (Jakartawi).

Oleh Dr. Chairul Hakim, SP.,SE.,MM.

Di tengah dinamika sosial Jakarta, munculnya gerakan identitas baru bernama “Jakartawi” menandai gejala transformatif yang menarik untuk dikaji—bukan hanya secara sosiokultural, tetapi juga dari kacamata manajemen sumber daya manusia (SDM) dan filsafat pengembangan organisasi. Ini bukan sekadar pergulatan antara “yang lama” dan “yang baru”, tetapi pertarungan paradigma antara identitas berbasis etnik dengan etos etik berbasis kebangkitan kolektif.

Etnik sebagai Pondasi, Bukan Menara Tunggal

Marga “Al Betawi” adalah bentuk konkret penghormatan pada warisan budaya Betawi—sebuah upaya pelestarian nilai historis yang patut dihargai. Namun ketika identitas etnik menjadi eksklusif dan resistif terhadap perubahan, ia menjelma menjadi tembok—bukan jembatan.

Dalam konteks SDM dan organisasi modern, hal serupa terjadi ketika kultur perusahaan atau komunitas terlalu kaku pada asal-usulnya. Ia kehilangan agilitas, inovasi, dan relevansi. Dunia hari ini bukan lagi tentang siapa asalmu, tetapi apa kontribusimu, dan bagaimana etos kerjamu beresonansi dengan nilai kebersamaan yang inklusif.

Jakartawi: Narasi Etik, Bukan Etnik

Gerakan Jakartawi muncul bukan sebagai upaya menghapus Betawi, melainkan melampauinya—dalam makna eksistensial. Ia mengajukan tawaran etik baru: bahwa menjadi “orang Jakarta” adalah soal tanggung jawab etis, bukan sekadar klaim garis keturunan.

Di sinilah letak nilai kebangkitan itu. Bukan kebangkitan biologis, tapi kebangkitan spiritual-sosial—dimana manusia Jakarta (Jakartawi) dipanggil untuk menghidupi nilai keteladanan, keberanian, gotong royong, dan meritokrasi.

Dari Warisan ke Visi: Paradigma Filsafat SDM

Dalam pendekatan filsafat SDM, identitas manusia tidak dibekukan oleh asal-usulnya, melainkan ditentukan oleh visinya. Organisasi-organisasi besar dunia bertransformasi bukan dengan menolak sejarahnya, tapi dengan mentransendensikan warisan itu menjadi nilai universal.

Baca Juga :  Night Owls Café & Eatery: Tempat Nongkrong Baru di Manahan yang Nyaman dan Seru

Jakartawi adalah langkah menuju itu: identitas yang lahir bukan dari tanah dan darah, melainkan dari etos dan pilihan sadar. Bahwa setiap warga Jakarta, apapun latarnya, bisa menjadi Jakartawi—asal ia memikul nilai dan etika pembangunan bersama.

Penutup: Jakarta sebagai Ruang Etnis-Etik

Identitas etnik adalah bagian dari mozaik Jakarta, tapi Jakartawi adalah narasi payungnya. Ia bukan antitesis Betawi, tapi tesis baru yang menggabungkan lokalitas dan universalitas. Sebuah visi ke depan yang tidak bertanya, “Kamu anak siapa?” tapi “Apa yang kamu bangun bersama kami?” Jadi, Anda lebih setuju yang mana—Fulan Al Betawi atau Fulan Jakartawi? Yang berpegang pada nama, atau yang memperjuangkan nilai?

Editor: Shendy Marwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian
SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!
Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami
LUAR BIASA! Di Tangan Kepsek Muharni, SD Negeri 01 Pasar Palembayan Bertransformasi, Gudang Piala Penghargaan, Sekolah Bersih dan Jadi Kebanggaan Siswa
KEREN DAN MENDIDIK! Begini Cara SMKN 1 Palembayan Terapkan Disiplin Humanis, Siswa Terlambat Tidak Dimarahi, Tapi Dibina Jadi Generasi Hebat
BIKIN BETAH! Intip Potret SMA Negeri 1 Palembayan yang Bersih, Asri dan Nyaman, Sekolah Idaman di Ujung Agam – Jumat, 2 Oktober 2026
Alat Berat Bongkar Bangunan Lapas Cibinong, Siapa Bertanggung Jawab?
Randai Gurindam IV Koto Palembayan Latihan Pakai Karung Goni, Galembong dan Gandang Rusak Butuh Bantuan
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:12 WIB

Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:11 WIB

SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:12 WIB

Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:23 WIB

LUAR BIASA! Di Tangan Kepsek Muharni, SD Negeri 01 Pasar Palembayan Bertransformasi, Gudang Piala Penghargaan, Sekolah Bersih dan Jadi Kebanggaan Siswa

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:03 WIB

KEREN DAN MENDIDIK! Begini Cara SMKN 1 Palembayan Terapkan Disiplin Humanis, Siswa Terlambat Tidak Dimarahi, Tapi Dibina Jadi Generasi Hebat

Berita Terbaru