Menu

Mode Gelap

Opini

Dari Etnik ke Etik

badge-check


					Dari Etnik ke Etik Perbesar

Gambar ilustrasi. (Dok. Freepik)

Peralihan dari Identitas Berbasis Etnik (Al Betawi) 

Menuju Etika dan Nilai Kebangkitan (Jakartawi).

Oleh Dr. Chairul Hakim, SP.,SE.,MM.

Di tengah dinamika sosial Jakarta, munculnya gerakan identitas baru bernama “Jakartawi” menandai gejala transformatif yang menarik untuk dikaji—bukan hanya secara sosiokultural, tetapi juga dari kacamata manajemen sumber daya manusia (SDM) dan filsafat pengembangan organisasi. Ini bukan sekadar pergulatan antara “yang lama” dan “yang baru”, tetapi pertarungan paradigma antara identitas berbasis etnik dengan etos etik berbasis kebangkitan kolektif.

Etnik sebagai Pondasi, Bukan Menara Tunggal

Marga “Al Betawi” adalah bentuk konkret penghormatan pada warisan budaya Betawi—sebuah upaya pelestarian nilai historis yang patut dihargai. Namun ketika identitas etnik menjadi eksklusif dan resistif terhadap perubahan, ia menjelma menjadi tembok—bukan jembatan.

Dalam konteks SDM dan organisasi modern, hal serupa terjadi ketika kultur perusahaan atau komunitas terlalu kaku pada asal-usulnya. Ia kehilangan agilitas, inovasi, dan relevansi. Dunia hari ini bukan lagi tentang siapa asalmu, tetapi apa kontribusimu, dan bagaimana etos kerjamu beresonansi dengan nilai kebersamaan yang inklusif.

Jakartawi: Narasi Etik, Bukan Etnik

Gerakan Jakartawi muncul bukan sebagai upaya menghapus Betawi, melainkan melampauinya—dalam makna eksistensial. Ia mengajukan tawaran etik baru: bahwa menjadi “orang Jakarta” adalah soal tanggung jawab etis, bukan sekadar klaim garis keturunan.

Di sinilah letak nilai kebangkitan itu. Bukan kebangkitan biologis, tapi kebangkitan spiritual-sosial—dimana manusia Jakarta (Jakartawi) dipanggil untuk menghidupi nilai keteladanan, keberanian, gotong royong, dan meritokrasi.

Dari Warisan ke Visi: Paradigma Filsafat SDM

Dalam pendekatan filsafat SDM, identitas manusia tidak dibekukan oleh asal-usulnya, melainkan ditentukan oleh visinya. Organisasi-organisasi besar dunia bertransformasi bukan dengan menolak sejarahnya, tapi dengan mentransendensikan warisan itu menjadi nilai universal.

Jakartawi adalah langkah menuju itu: identitas yang lahir bukan dari tanah dan darah, melainkan dari etos dan pilihan sadar. Bahwa setiap warga Jakarta, apapun latarnya, bisa menjadi Jakartawi—asal ia memikul nilai dan etika pembangunan bersama.

Penutup: Jakarta sebagai Ruang Etnis-Etik

Identitas etnik adalah bagian dari mozaik Jakarta, tapi Jakartawi adalah narasi payungnya. Ia bukan antitesis Betawi, tapi tesis baru yang menggabungkan lokalitas dan universalitas. Sebuah visi ke depan yang tidak bertanya, “Kamu anak siapa?” tapi “Apa yang kamu bangun bersama kami?” Jadi, Anda lebih setuju yang mana—Fulan Al Betawi atau Fulan Jakartawi? Yang berpegang pada nama, atau yang memperjuangkan nilai?

Editor: Shendy Marwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Akibat Bupati Taliabu Sashabila Mus Buat Janji Palsu Saat Kampanye Politik Masyarakat Akhirnya Tanami Pohon Kelapa Jalan Tanjakan Gunung Sampe

22 Mei 2026 - 20:03 WIB

Hambalang Boy dan Krisis Suksesi Elite

8 Mei 2026 - 22:45 WIB

Salah Baca Kritik

6 Mei 2026 - 20:26 WIB

Trending di Berita