Oleh: Dr. Chairul Hakim, S.P.,S.E.,M.M
MEDIAINVESTIGASI.NET – Kali Ciliwung bukan sekadar aliran air yang membelah ibu kota; ia adalah nadi sejarah, denyut budaya, dan refleksi dari kesadaran kolektif masyarakat Betawi. Di sepanjang alirannya, terdapat jejak-jejak eksistensial manusia yang melebur dengan alam: rumah panggung, langgam-langgam pantun, serta sisa-sisa cagar budaya yang kini terancam menjadi artefak bisu oleh deru ekskavator normalisasi.
Normalisasi Kali Ciliwung, sebagaimana proyek infrastruktur lainnya, sering kali dibalut retorika “kemajuan” dan “penataan ruang”. Namun, sebagaimana diingatkan Heidegger, manusia bukan sekadar das Man (makhluk massa yang dibentuk oleh sistem), melainkan Dasein—ia yang ‘ada-di-dunia’ dengan kesadaran akan tempat, warisan, dan kebermaknaan. Maka, upaya merapikan aliran sungai ini tanpa mengindahkan ruang hidup dan nilai-nilai budaya lokal adalah bentuk alienasi: mencabut manusia dari keterhubungannya dengan lingkungan eksistensialnya.
Pariwisata yang dibangun di atas reruntuhan memori dan kearifan lokal hanyalah simulakra, tiruan realitas yang kehilangan jiwa. Ciliwung bisa saja dipercantik dengan dermaga, taman, atau mural warna-warni, namun jika denyut budaya Betawi tak lagi terasa di sana—jika suara lenong, irama tanjidor, dan narasi rakyat tak turut hidup—maka pariwisata itu hanyalah panggung kosong tanpa naskah.
Lebih dari itu, proyek revitalisasi ini menunjukkan lemahnya integrasi organisasi dan manajemen SDM di tingkat daerah. Minimnya pelibatan masyarakat lokal, tidak adanya pendidikan budaya dalam perencanaan proyek, serta tiadanya peta jalan pengembangan kapasitas warga sebagai pelaku pariwisata—semua ini adalah tanda kegagalan organisasi dalam memahami ruang sebagai entitas sosial, bukan sekadar teknis.
Kali Ciliwung seharusnya tidak direduksi menjadi saluran drainase perkotaan atau sekadar koridor wisata. Ia adalah ruang hidup (Lebensraum) yang sarat dengan nilai historis, ekologis, dan antropologis. Masyarakat Betawi tak butuh modernisasi yang memutus akar. Mereka butuh pemberdayaan, ruang dialog, dan partisipasi sejati agar bisa menjadi subjek dari transformasi, bukan korban dari sistem.
Di sinilah letak tantangannya: bagaimana menghadirkan pembangunan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga berjiwa—yang merangkul alam, menghormati budaya, dan menghidupkan kembali masyarakat sebagai pemilik sah ruang ini.
Editor: Shendy Marwan














