MEDIAINVESTIGASI.NET – Peringatan Hari Pers Nasional keempat puluh dimaknai Asosiasi Media Konvergensi Indonesia atau AMKI dengan cara yang khidmat dan sarat nilai sejarah.
AMKI memilih menundukkan kepala, menabur doa, dan merawat ingatan kolektif melalui ziarah ke makam dua pahlawan pers nasional, BM Diah dan Rosihan Anwar, yang berlangsung di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa, (3/2/2026).
Ziarah tersebut menjadi ruang perenungan bersama insan pers lintas platform, baik media cetak, elektronik, maupun digital, untuk kembali meneguhkan arah, etika, dan tanggung jawab jurnalisme Indonesia di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Ketua Umum AMKI Pusat, Tundra Meliala, memimpin langsung prosesi ziarah didampingi Ketua Dewan Pengawas AMKI Marsekal Madya TNI Purnawirawan Dede Rusamsi, Sekretaris Jenderal Dadang Rachmat, Ketua AMKI DKI Jakarta Heryanto, Ketua AMKI Jawa Barat Catur Aziyanto, serta jajaran pengurus pusat dan daerah lainnya.
Tundra menegaskan, pemilihan makam BM Diah dan Rosihan Anwar bukanlah kebetulan. Keduanya adalah representasi dua pilar utama sejarah pers nasional, yakni semangat perjuangan dan keberanian moral dalam menyuarakan kebenaran.
“Pers Indonesia lahir dari perbedaan pandangan, namun tumbuh dan bertahan karena dialog, etika, serta kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Itulah pelajaran besar yang diwariskan BM Diah dan Rosihan Anwar,” ujar Tundra.
BM Diah dikenal sebagai wartawan pejuang yang berperan penting dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebagai pendiri harian Merdeka dan mantan Menteri Penerangan, ia menegaskan bahwa pers adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan negara, bukan sekadar pencatat sejarah.
Sementara itu, Rosihan Anwar dikenang sebagai sosok pers yang kritis, independen, dan produktif. Melalui harian Pedoman dan berbagai karya tulisnya, Rosihan konsisten menjaga api kebebasan berpikir serta tanggung jawab moral wartawan, bahkan di masa ketika kebebasan pers berada dalam tekanan kuat.
Sejarah pers Indonesia mencatat bahwa perbedaan sikap politik antara BM Diah dan Rosihan Anwar sempat memicu ketegangan serius di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia pada awal dekade 1970. Namun perbedaan tersebut tidak berakhir pada perpecahan abadi. Dialog dan rekonsiliasi menjadi jalan yang menyatukan kembali insan pers nasional.
Bagi AMKI, kisah rekonsiliasi itu memiliki makna yang sangat relevan dengan tantangan pers hari ini, ketika media dihadapkan pada disrupsi teknologi, tekanan ekonomi, serta polarisasi informasi yang kian tajam.
“Ziarah ini adalah pengingat bahwa pers tidak boleh terjebak pada ego, kepentingan sempit, atau sekadar kecepatan. Etika, tanggung jawab publik, dan semangat kebangsaan harus tetap menjadi kompas utama,” tegas Tundra.
Keberadaan makam BM Diah dan Rosihan Anwar dalam satu kompleks Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata kini menjadi simbol perjalanan panjang pers Indonesia. Pers lahir dari perjuangan, diuji oleh perbedaan, dan dikuatkan oleh kesadaran untuk bersatu demi kepentingan yang lebih besar.
Bagi AMKI, Hari Pers Nasional bukan sekadar perayaan profesi, melainkan ikhtiar merawat ingatan dan nilai kepahlawanan, agar pers Indonesia tetap berdiri tegak di atas prinsip, bukan sekadar mengikuti arus zaman.














