Suasana di depan pintu ruang rapat Asestensi Perubahan Anggaran 2025 di DPRD Dharmasraya (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)
Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Rapat Asestensi Perubahan Anggaran 2025 akhirnya digelar di gedung DPRD Kabupaten Dharmasraya, Selasa (02/09/2025). Agenda vital yang menentukan arah pembangunan daerah itu kembali menorehkan ironi: bupati tak hadir. Kursi eksekutif hanya diisi oleh Wakil Bupati Leli Arni dan Pj Sekda Jasman.
Di lokasi terpantau pintu rapat tertutup, perwakilan TAPD menunggu di lorong, dan para legislator berdebat di ruang rapat lantai II. Semua berlangsung tanpa kehadiran kepala daerah yang seharusnya menjadi penentu utama arah kebijakan anggaran.
Yang membuat publik kian menggelengkan kepala, sehari sebelumnya beredar sebuah video berdurasi 1 menit 06 detik di akun Facebook Kaba Dharmasraya. Dalam video tersebut tampak Bupati Anisa bersama Wakil Bupati Leli Arni, Ketua DPRD Jemi Hendra, Wakil Ketua DPRD Sujito SM dan Ade Sudarman, serta sejumlah anggota dewan sepakat untuk menyegerakan asestensi perubahan anggaran 2025.
“Hari ini kami pemerintah daerah bersama-sama dengan anggota dewan yang terhormat baru saja menyelesaikan rapat, yang pada intinya kita sepakat akan menyelenggarakan perubahan APBD demi terlaksananya program pembangunan pro masyarakat,” ucap Anisa di hadapan kamera.
Namun faktanya, saat rapat asestensi benar-benar berlangsung, sang bupati justru tak tampak. Kontradiksi inilah yang kemudian memicu tanda tanya besar di tengah publik: bagaimana bisa seorang kepala daerah tampil percaya diri di media sosial, tetapi menghilang ketika forum penting yang menentukan arah anggaran daerah digelar?
Konfirmasi soal jalannya rapat disampaikan Anggota DPRD Fraksi PAN, Yulindo Sari Mukhtar.
“Benar, hari ini kami bersama TAPD menggelar rapat asestensi perubahan anggaran 2025,” kata Yulindo saat keluar dari ruang rapat di lantai II gedung DPRD.
Diketahui, rapat asestensi bukanlah agenda sepele. Ini menyangkut perubahan APBD 2025—uang rakyat, kebijakan untuk rakyat, dan masa depan pembangunan Dharmasraya.
Bupati boleh saja berteriak “segera” dalam video, tapi apa gunanya kata-kata jika tubuhnya tak hadir di forum sesungguhnya? Rakyat Dharmasraya tak butuh pemimpin yang hidup dalam pencitraan maya—mereka butuh pemimpin yang benar-benar hadir, mendengar, dan bekerja bersama wakil rakyat.
Editor: Yanti











