Menu

Mode Gelap

Feature

Anisa Suci Ramadani: Tegas, Lembut, dan Tak Pernah Lelah Melindungi Perempuan dan Anak

badge-check


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

Gambar: Bupati Dharmasraya Anisa Suci Ramadani (Dok, Istimewa)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net

 

Dharmasraya — Senin, 5 Mei 2025 lalu, acara konferensi pers di Mako Polres Dharmasraya dipenuhi awak media. Suasana tegang terasa, sebab yang dibicarakan bukan sekadar kasus hukum biasa, melainkan tragedi yang menyayat hati: pencabulan anak di bawah umur.

Di hadapan mikrofon, Bupati Anisa Suci Ramadani yang didampingi Kapolres Dharmasraya AKBP Purwanto Hari Subekti S.Sos serta turut hadir Dinas Sosial, Dinas Kesehatan tak ketinggalan pelaku kejahatan pencabulan anak dibawah umur.

Sebagai seorang perempuan, seorang ibu, sekaligus kepala daerah, raut wajah Anisa menyiratkan kepedihan. Namun, ketika suara lantangnya keluar, yang terdengar bukan hanya duka—tetapi juga tekad yang tak tergoyahkan.

“Terkait dengan kasus pencabulan anak di bawah umur ini, tentunya saya sebagai wanita, perempuan sekaligus kepala daerah sangat prihatin. Begitu menerima laporan, langkah pertama kami adalah mengamankan korban. Saya langsung meminta pendampingan penuh selama 24 jam dari tim UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak di bawah Dinas Sosial,” ucap Anisa, mantap.

 

Melindungi yang Terluka, Merawat yang Rapuh

Bagi Anisa, kasus ini bukan sekadar angka dalam laporan kriminal. Di baliknya, ada seorang anak yang masa depannya tercabik, ada keluarga yang patah hati, dan ada luka yang tak bisa dihapus begitu saja.

Maka, selain memastikan visum dilakukan sebagai barang bukti, fokus utama diarahkan pada pemulihan psikologis korban. Anak itu dibawa ke psikiater, untuk memastikan kesehatan mentalnya tetap terjaga. Hasil awal menunjukkan kondisi korban cukup stabil, meski perjalanan pemulihan tentu masih panjang.

 

Gebrakan: SOP Baru dan Hotline Darurat

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak, tetapi Anisa tidak membiarkannya berlalu tanpa perubahan. Ia bersama Dinas Sosial segera memperbarui SOP perlindungan perempuan dan anak.

Langkah itu dimulai dari pencegahan. Sosialisasi masif digalakkan kembali, mengenalkan masyarakat pada berbagai bentuk kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan, agar siapa pun bisa mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Lebih dari itu, Anisa menghidupkan kembali hotline darurat pelaporan kekerasan. Dengan adanya saluran cepat ini, laporan bisa segera diterima, dan tindak lanjut dari aparat maupun pemerintah daerah bisa dilakukan tanpa menunggu lama.

“Harapannya, setiap laporan yang masuk akan langsung kami tindaklanjuti bersama pihak kepolisian. Kita ingin memberi efek jera yang nyata bagi pelaku, sekaligus memastikan perempuan dan anak-anak benar-benar terlindungi,” tegas Anisa.

 

Perempuan yang Menolak Diam

Bagi banyak orang, langkah-langkah ini bukan hanya kebijakan, melainkan cerminan dari jiwa seorang pemimpin yang menolak diam ketika perempuan dan anak-anak terancam. Anisa hadir bukan sekadar sebagai bupati, tetapi sebagai suara bagi mereka yang sering dibungkam, sebagai pelindung bagi yang paling rapuh.

Ia tahu betul, setiap tindakan kekerasan seksual adalah ancaman terhadap masa depan generasi Dharmasraya. Maka, ketegasan dan kelembutan ia padukan: hukum ditegakkan, korban dirangkul, dan masyarakat diajak berjaga bersama.

 

Namun Realita Masih Menyakitkan

Sayangnya, hingga Oktober 2025, laporan kasus pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan di Dharmasraya masih terus bertambah. Fakta ini menjadi pil pahit: bahwa sekalipun pemerintah daerah sudah berusaha keras, tantangan di lapangan tidak pernah sederhana.

 

Lalu bagaimana masyarakat menilai langkah dan ucapan Anisa?

Seorang aktivis perempuan di Dharmasraya, menyebut langkah bupati sebagai “awal yang baik, tapi belum cukup.” Menurutnya, selain SOP dan hotline, perlu ada program pemberdayaan keluarga serta edukasi berbasis komunitas agar pencegahan berjalan menyeluruh.

Sementara itu, seorang warga Pulau Punjung berpendapat berbeda. “Saya lihat Ibu Bupati serius. Minimal sekarang ada tempat melapor, ada yang mendampingi korban. Dulu kasus-kasus begini sering didiamkan,” ujarnya.

Kontrasnya suara publik ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan. Gebrakan Anisa memang diapresiasi, tetapi masyarakat menunggu lebih banyak bukti bahwa efek jera benar-benar dirasakan pelaku, dan rasa aman benar-benar dirasakan perempuan dan anak-anak.

 

Harapan untuk Dharmasraya yang Aman

Gebrakan Anisa seolah memberi secercah cahaya di tengah gelapnya kabar kekerasan seksual. Ia ingin Dharmasraya menjadi tanah yang aman, di mana anak-anak bisa tumbuh tanpa rasa takut, dan perempuan bisa berjalan dan bekerja tanpa bayang-bayang ancaman.

Namun, pertanyaan besar masih bergema di hati publik: apakah langkah ini cukup untuk membendung gelombang kasus yang terus bertambah?

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Halal Bihalal Kominfo Dharmasraya 2026: Kehangatan Ramadan Satukan Wakil Bupati dan Ketua DPRD

18 Februari 2026 - 16:51 WIB

Ade Perdana Putra, Dari Lapak Daging ke Kursi Legislatif: Sosok yang Selalu Dicari Warga Dharmasraya

18 Februari 2026 - 11:54 WIB

Antusias Sambut Kajari Baru, Ucapan Selamat Mengalir ke Kejari Jakarta Timur

20 Januari 2026 - 14:15 WIB

Trending di Feature