Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net – Sebuah infografis yang beredar luas di media sosial menarik perhatian masyarakat Sumatera Barat.
Dalam unggahan tersebut, Pasaman Barat disebut berada di peringkat kedua daerah dengan angka kriminalitas tertinggi di Sumatera Barat dengan jumlah 1.163 kasus.
Data yang tercantum dalam infografis itu menampilkan daftar 10 kabupaten dan kota dengan jumlah kasus kriminalitas tertinggi di Sumbar.
Posisi pertama ditempati wilayah Padang dengan 3.459 kasus, disusul Pasaman Barat di posisi kedua, kemudian Pesisir Selatan di urutan ketiga dengan 1.127 kasus.
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut langsung memancing berbagai tanggapan dari masyarakat, khususnya warga Pasaman Barat.
Sebagian mempertanyakan validitas data, sementara lainnya menilai tingginya angka kriminalitas tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Warganet Soroti Kondisi Keamanan Daerah
Kolom komentar pada unggahan tersebut dipenuhi beragam respons.
Ada yang menyayangkan tingginya angka kriminalitas, namun tidak sedikit pula yang menganggap data tersebut perlu dijelaskan lebih rinci.
Salah satu komentar yang cukup menyita perhatian datang dari akun media sosial bernama Marjohan yang menulis, “Ada apa denganmu peterpen masa lalu.”
Komentar tersebut diduga merupakan sindiran terhadap kondisi Pasaman Barat yang dahulu dikenal sebagai salah satu daerah yang berkembang pesat di sektor perkebunan, perdagangan, dan pertanian, namun kini dinilai menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.
Angka Kriminalitas Tidak Selalu Berarti Daerah Tidak Aman
Pemerhati sosial yang sekaligus anggota DPRD Pasaman Barat, H Rommy Chandra, menilai masyarakat perlu memahami bahwa tingginya angka kriminalitas tidak selalu berarti suatu daerah lebih berbahaya dibanding daerah lain.
Dalam banyak kasus, tingginya jumlah laporan tindak pidana juga dapat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor, efektivitas pencatatan kasus oleh aparat penegak hukum, hingga luasnya wilayah dan jumlah penduduk.
Selain itu, data kriminalitas biasanya mencakup berbagai kategori kasus, mulai dari pencurian, penipuan, penganiayaan, narkotika, hingga tindak pidana lainnya.
Karena itu, diperlukan penjelasan lebih detail mengenai jenis-jenis kasus yang mendominasi sehingga masyarakat dapat memahami kondisi sebenarnya.
Tantangan Pasaman Barat
Menurut H Rommy, sebagai salah satu kabupaten dengan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi di wilayah pantai barat Sumatera Barat, Pasaman Barat memiliki berbagai tantangan tersendiri.
Selain persoalan kriminalitas umum, daerah ini juga beberapa kali menjadi sorotan terkait aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI), peredaran narkoba, konflik lahan, pencurian hasil perkebunan, hingga tindak pidana ekonomi lainnya.
Faktor-faktor tersebut sering kali menjadi perhatian aparat penegak hukum maupun pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Tingkat Penyelesaian Kasus Jadi Sorotan
Menariknya, selain jumlah kasus, infografis tersebut juga menampilkan tingkat penyelesaian perkara di masing-masing daerah.
Pasaman Barat tercatat memiliki tingkat penyelesaian sebesar 58 persen. Angka ini menjadi salah satu yang terendah dibanding beberapa daerah lain yang masuk dalam daftar.
Meski demikian, data tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada instansi terkait untuk mengetahui periode penghitungan, metode pendataan, serta jenis perkara yang dimasukkan dalam statistik tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum terus meningkatkan upaya pencegahan dan penindakan terhadap berbagai bentuk tindak kriminal.
Penguatan patroli keamanan, pemberantasan narkoba, penanganan aktivitas ilegal, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka kriminalitas di masa mendatang.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan melalui sistem pengawasan berbasis komunitas juga dianggap memiliki peran penting dalam menciptakan situasi yang lebih kondusif.***
Penulis: Rully Firmansyah
Redaktur: Rully Firmansyah









