Banjir dan Longsor Berulang, Pasaman Barat Sumbar Darurat SOP Kebencanaan

- Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 22:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rapat evaluasi kebencanaan di Posko TDB Nagari Sinuruik Talamau, Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar). Foto DOK PMI Pasaman Barat

Rapat evaluasi kebencanaan di Posko TDB Nagari Sinuruik Talamau, Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar). Foto DOK PMI Pasaman Barat

Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net — Bencana banjir dan longsor yang melumpuhkan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), selama lebih dari sepuluh hari terakhir menjadi peringatan keras bagi daerah rawan bencana di Indonesia.

Enam warga meninggal dunia, akses lintas provinsi lumpuh total, dan sejumlah kecamatan terisolasi.

Di balik tragedi ini, satu persoalan besar kembali mencuat: absennya SOP kebencanaan yang benar-benar siap diterapkan di lapangan.

Wilayah dengan topografi pegunungan curam di bagian timur dan permukiman pesisir di bagian barat ini menyimpan potensi bencana dari berbagai arah—longsor, banjir bandang, abrasi, hingga ancaman tsunami.

Namun hingga kini, sistem kesiapsiagaan masih sangat bergantung pada respons spontan masyarakat dan relawan.

“Kami bergerak karena refleks kemanusiaan, bukan karena sistem yang siap,” ujar Dedi, relawan lokal.

Banjir dan longsor kali ini bukan hanya menguji ketangguhan alam, tetapi juga ketangguhan sistem penanggulangan bencana daerah.

Tanpa SOP yang jelas, bencana di Pasaman Barat dinilai bukan lagi soal “jika”, melainkan tinggal menunggu “kapan”.

Pemerintah daerah telah menurunkan langsung bupati dan wakil bupati ke lokasi terdampak serta berencana membuka jalur alternatif untuk wilayah terisolasi seperti Talamau.

Namun para pemerhati kebencanaan menilai, solusi jangka panjang hanya akan tercapai jika Pasaman Barat segera membangun SOP kebencanaan yang terstruktur, terlatih, dan diuji lewat simulasi rutin.

Alarm dari Talamau: Dapur Umum Bergerak, Sistem Terseok, SOP Kebencanaan Dipertaruhkan

Gerak tim gabungan membantu warga terdampak bencana di Pasaman Barat, Sumbar. (Foto: DOK Pos SAR Pasaman Barat)

Di sebuah ruangan sederhana di Nagari Sinuruik, Talamau, asap dapur terus mengepul tanpa henti. Kompor menyala sejak subuh, dandang besar mendidih tanpa jeda.

Dari tempat inilah hampir seratus relawan, petugas, dan pejabat daerah bertahan di tengah operasi pencarian korban dan penanganan bencana.

Baca Juga :  Padang - Hildesheim, Kota Kembar Semakin Hangat Bersahabat

Ironisnya, saat sebagian unsur Muspika Kecamatan Talamau terkesan lumpuh akibat akses terputus dan fasilitas rusak, Dapur Umum Posko TDB Sinuruik justru menjadi sistem paling stabil.

“Kalau kami berhenti masak, yang di lapangan bisa tumbang,” ujar Uni Upik, relawan dapur.
“Nasi di sini rasanya seperti makan harapan,” timpal Afdal, relawan SAR.

Dapur ini hidup bukan karena perintah resmi, tapi karena inisiatif warga. Sebuah potret bahwa di saat sistem goyah, solidaritaslah yang mengambil alih peran negara.

Enam Nyawa dan Luka yang Tertinggal

Bencana ini merenggut enam korban jiwa: lima dari Nagari Sinuruik, Jorong Harapan, dan satu dari Aek Mais, Nagari Parik. Mereka tertimbun longsor yang datang tanpa peringatan panjang.

“Yang meninggal itu bukan korban, itu keluarga kami,” ujar seorang warga dengan suara bergetar.

Wilayah dengan Risiko Lengkap: Gunung, Sungai, Laut

Pasaman Barat adalah daerah dengan risiko bencana yang nyaris “lengkap”:

  • Pegunungan curam rawan longsor,
  • Sungai besar rawan banjir bandang,
  • Permukiman pesisir rawan abrasi dan tsunami.

“Kalau hujan di gunung dan ombak di laut datang bersamaan, kami seperti diapit bahaya,” ujar Samsul (47), nelayan pesisir.

Dengan kondisi ini, bencana bukan lagi skenario terburuk—melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.

Sistem Tanggap Darurat Masih Bertumpu pada Spontanitas

Selama masa kritis, banyak proses berjalan karena inisiatif warga dan relawan. Evakuasi dilakukan swadaya.

Logistik bergerak lewat jejaring personal. Dapur umum hidup karena gotong royong.

“Kami sering bingung sebenarnya siapa komando utamanya,” kata Arman (38).
“Kalau SOP jelas, kami tidak perlu menebak-nebak di tengah situasi genting.”

Inilah celah besar yang kini disorot:
Pasaman Barat belum memiliki SOP kebencanaan yang benar-benar hidup di lapangan.

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Nias Utara Gelar Rapat Paripurna Terkait Keputusan Persetujuan KUA Dan PPAS

Talamau Terisolasi 10 Hari, Jalur Alternatif Jadi Ujian Nyata

Lebih dari 10 hari Kecamatan Talamau terputus total. Jalan utama runtuh. Logistik harus masuk lewat jalur ekstrem.

Pemerintah daerah mulai mengkaji jalur alternatif Kajai–Talu hingga Jembatan Panjang Bangkok.

Namun warga bertanya:
apakah ini akan menjadi bagian dari sistem permanen, atau sekadar solusi darurat yang akan dilupakan setelah bencana berlalu?

Pasaman Barat Darurat SOP Kebencanaan

Dari seluruh rangkaian peristiwa ini, satu benang merah menguat:

Pasaman Barat tidak sedang krisis alam semata, tetapi krisis kesiapsiagaan sistem.

Tanpa SOP kebencanaan yang jelas:

  • Jalur evakuasi simpang siur
  • Komando tumpang tindih
  • Muspika rawan lumpuh
  • Warga kembali jadi korban pertama

“Kalau kami tidak belajar dari bencana ini, berarti kami siap mengulang dukanya,” ujar Pak Nasir (55).***Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sorotan Jalan Menuju TPU Desa Nggele Penuh Sampah, Ketua Investigasi Nasional LPK‑GPI La Omy La Tua Desak Pemkab‑Pemdes Bertindak Cepat
Mantan Kapolri Ditahan bersama Dua Jenderal Aktif Lainnya: Terseret Kasus Penyadapan Presiden?
KANTOR DESA BUKAN KERAJAAN KELUARGA! Jimmy: Jabatan Sekdes Bukan Warisan Dinasti
Tiga Kapolda Berganti, 19 Bulan Laporan Tanah Samota Belum Naik Penyidikan
SMSI Tanah Datar Gelar Rapat Pemantapan Persiapan Pelantikan Pengurus Periode 2026‑2031
Ditresnarkoba Polda Sumbar Ungkap Peredaran Sabu di Kota Padang, Dua Pria Diamankan dengan Puluhan Paket Barang Bukti
Program Jumat Keliling, Kapolres Banggai Kepulauan Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Cegah Kebakaran Lahan
Dugaan Kuat Karhutla Pulau Taliabu Bukan Bencana Alam, Diduga Dirancang Demi Kepentingan Tambang‑Sawit
Berita ini 90 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:00 WIB

Sorotan Jalan Menuju TPU Desa Nggele Penuh Sampah, Ketua Investigasi Nasional LPK‑GPI La Omy La Tua Desak Pemkab‑Pemdes Bertindak Cepat

Rabu, 4 November 2026 - 00:49 WIB

Mantan Kapolri Ditahan bersama Dua Jenderal Aktif Lainnya: Terseret Kasus Penyadapan Presiden?

Selasa, 3 November 2026 - 18:48 WIB

KANTOR DESA BUKAN KERAJAAN KELUARGA! Jimmy: Jabatan Sekdes Bukan Warisan Dinasti

Senin, 2 November 2026 - 16:37 WIB

Tiga Kapolda Berganti, 19 Bulan Laporan Tanah Samota Belum Naik Penyidikan

Senin, 2 November 2026 - 13:00 WIB

SMSI Tanah Datar Gelar Rapat Pemantapan Persiapan Pelantikan Pengurus Periode 2026‑2031

Berita Terbaru