Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net — Bencana banjir dan longsor yang melumpuhkan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), selama lebih dari sepuluh hari terakhir menjadi peringatan keras bagi daerah rawan bencana di Indonesia.
Enam warga meninggal dunia, akses lintas provinsi lumpuh total, dan sejumlah kecamatan terisolasi.
Di balik tragedi ini, satu persoalan besar kembali mencuat: absennya SOP kebencanaan yang benar-benar siap diterapkan di lapangan.
Wilayah dengan topografi pegunungan curam di bagian timur dan permukiman pesisir di bagian barat ini menyimpan potensi bencana dari berbagai arah—longsor, banjir bandang, abrasi, hingga ancaman tsunami.
Namun hingga kini, sistem kesiapsiagaan masih sangat bergantung pada respons spontan masyarakat dan relawan.
“Kami bergerak karena refleks kemanusiaan, bukan karena sistem yang siap,” ujar Dedi, relawan lokal.
Banjir dan longsor kali ini bukan hanya menguji ketangguhan alam, tetapi juga ketangguhan sistem penanggulangan bencana daerah.
Tanpa SOP yang jelas, bencana di Pasaman Barat dinilai bukan lagi soal “jika”, melainkan tinggal menunggu “kapan”.
Pemerintah daerah telah menurunkan langsung bupati dan wakil bupati ke lokasi terdampak serta berencana membuka jalur alternatif untuk wilayah terisolasi seperti Talamau.
Namun para pemerhati kebencanaan menilai, solusi jangka panjang hanya akan tercapai jika Pasaman Barat segera membangun SOP kebencanaan yang terstruktur, terlatih, dan diuji lewat simulasi rutin.
Alarm dari Talamau: Dapur Umum Bergerak, Sistem Terseok, SOP Kebencanaan Dipertaruhkan

Gerak tim gabungan membantu warga terdampak bencana di Pasaman Barat, Sumbar. (Foto: DOK Pos SAR Pasaman Barat)
Di sebuah ruangan sederhana di Nagari Sinuruik, Talamau, asap dapur terus mengepul tanpa henti. Kompor menyala sejak subuh, dandang besar mendidih tanpa jeda.
Dari tempat inilah hampir seratus relawan, petugas, dan pejabat daerah bertahan di tengah operasi pencarian korban dan penanganan bencana.
Ironisnya, saat sebagian unsur Muspika Kecamatan Talamau terkesan lumpuh akibat akses terputus dan fasilitas rusak, Dapur Umum Posko TDB Sinuruik justru menjadi sistem paling stabil.
“Kalau kami berhenti masak, yang di lapangan bisa tumbang,” ujar Uni Upik, relawan dapur.
“Nasi di sini rasanya seperti makan harapan,” timpal Afdal, relawan SAR.
Dapur ini hidup bukan karena perintah resmi, tapi karena inisiatif warga. Sebuah potret bahwa di saat sistem goyah, solidaritaslah yang mengambil alih peran negara.
Enam Nyawa dan Luka yang Tertinggal
Bencana ini merenggut enam korban jiwa: lima dari Nagari Sinuruik, Jorong Harapan, dan satu dari Aek Mais, Nagari Parik. Mereka tertimbun longsor yang datang tanpa peringatan panjang.
“Yang meninggal itu bukan korban, itu keluarga kami,” ujar seorang warga dengan suara bergetar.
Wilayah dengan Risiko Lengkap: Gunung, Sungai, Laut
Pasaman Barat adalah daerah dengan risiko bencana yang nyaris “lengkap”:
- Pegunungan curam rawan longsor,
- Sungai besar rawan banjir bandang,
- Permukiman pesisir rawan abrasi dan tsunami.
“Kalau hujan di gunung dan ombak di laut datang bersamaan, kami seperti diapit bahaya,” ujar Samsul (47), nelayan pesisir.
Dengan kondisi ini, bencana bukan lagi skenario terburuk—melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.
Sistem Tanggap Darurat Masih Bertumpu pada Spontanitas
Selama masa kritis, banyak proses berjalan karena inisiatif warga dan relawan. Evakuasi dilakukan swadaya.
Logistik bergerak lewat jejaring personal. Dapur umum hidup karena gotong royong.
“Kami sering bingung sebenarnya siapa komando utamanya,” kata Arman (38).
“Kalau SOP jelas, kami tidak perlu menebak-nebak di tengah situasi genting.”
Inilah celah besar yang kini disorot:
Pasaman Barat belum memiliki SOP kebencanaan yang benar-benar hidup di lapangan.
Talamau Terisolasi 10 Hari, Jalur Alternatif Jadi Ujian Nyata
Lebih dari 10 hari Kecamatan Talamau terputus total. Jalan utama runtuh. Logistik harus masuk lewat jalur ekstrem.
Pemerintah daerah mulai mengkaji jalur alternatif Kajai–Talu hingga Jembatan Panjang Bangkok.
Namun warga bertanya:
apakah ini akan menjadi bagian dari sistem permanen, atau sekadar solusi darurat yang akan dilupakan setelah bencana berlalu?
Pasaman Barat Darurat SOP Kebencanaan
Dari seluruh rangkaian peristiwa ini, satu benang merah menguat:
Pasaman Barat tidak sedang krisis alam semata, tetapi krisis kesiapsiagaan sistem.
Tanpa SOP kebencanaan yang jelas:
- Jalur evakuasi simpang siur
- Komando tumpang tindih
- Muspika rawan lumpuh
- Warga kembali jadi korban pertama
“Kalau kami tidak belajar dari bencana ini, berarti kami siap mengulang dukanya,” ujar Pak Nasir (55).***Rully Firmansyah











