Pers: Pilar Demokrasi yang Ingin Dijinakkan

- Penulis

Jumat, 22 Agustus 2025 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar para jurnalis menolak di bungkam (Dok, Istimewa)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat 

 

Mediainvestigasi.net – Demokrasi tanpa pers ibarat rumah tanpa pilar. Rapuh, mudah runtuh, dan kehilangan arah. Sejatinya, pers adalah pilar keempat demokrasi—penyeimbang yang memastikan roda pemerintahan berjalan pada rel yang benar. Namun, marwah pers kerap dipaksa direduksi, dipersempit hanya sebagai pengeras suara penguasa.

Padahal, tugas pers jelas: menjadi mata hati rakyat, menulis dengan nurani, memberi masukan kritis kepada pemerintah, sekaligus menyebarluaskan informasi pencapaian yang benar, tanpa intervensi siapa pun. Bukan bupati, bukan gubernur, bukan presiden, apalagi Kominfo yang sering membungkus relasi dengan dalih “kerja sama”.

 

Ketika Pers Dipaksa Jinak

Mirisnya, masih ada segelintir penguasa yang ingin menjinakkan pers. Kritik dianggap ancaman, pertanyaan tajam dituding pembangkangan. Padahal, pers yang kritis adalah vitamin bagi demokrasi, bukan racun.

Pemerintah yang sehat seharusnya membuka ruang dialog, bukan membungkam. Sebab, ketika pers dipaksa tunduk, yang dirampas sejatinya bukan sekadar kebebasan jurnalis, melainkan hak rakyat atas informasi jujur dan berimbang.

Kebebasan Pers Bukan Slogan

Kebebasan pers bukan sekadar tempelan kalimat di undang-undang. Ia adalah roh demokrasi. Tanpa pers yang merdeka, publik hanya akan dijejali propaganda, pencitraan murahan, dan laporan keberhasilan semu yang penuh polesan.

Di sinilah ujiannya: apakah insan pers mau tetap tegak menjaga jarak sehat dengan kekuasaan, atau tergoda jadi corong dengan iming-iming “kerja sama” demi sekadar bertahan hidup?

 

Akun Siluman, Politik Busuk

Lebih memilukan lagi, di era digital justru muncul ironi baru. Alih-alih menjaga keterbukaan informasi, ada pihak—bahkan diduga dekat dengan lingkaran pemerintah daerah—yang memberdayakan akun siluman. Akun-akun anonim ini dipakai untuk menyerang suara kritis, membolak-balik fakta, dan membohongi publik.

Baca Juga :  Bahaya Tak Kasat Mata: Polusi Udara Pabrik Sawit Ancam Kesehatan Warga Sekitar

Fenomena ini sudah terasa di Dharmasraya. Beberapa buzzer digital memproduksi video, unggahan Facebook, hingga konten TikTok yang menyudutkan karya jurnalistik wartawan lokal. Publik disesatkan, opini dibelokkan, dan kebenaran dikubur oleh suara-suara palsu yang disebar akun bayangan.

Apa artinya? Bukan hanya serangan pada insan pers, tetapi juga pengkhianatan pada rakyat. Sebab rakyat yang berhak atas informasi benar justru dicekoki manipulasi.

 

Pers Bukan Musuh

Pers bukan musuh pemerintah. Ia adalah cermin, penyejuk, sekaligus pemandu. Tulisan yang tajam lahir bukan dari kebencian, melainkan dari cinta pada kebenaran dan tekad memperbaiki jalannya pemerintahan.

Membungkam pers sama saja dengan menutup mata rakyat. Pers yang independen adalah benteng terakhir agar masyarakat tidak tersesat dalam gelapnya propaganda.

 

Menjaga Marwah Pers, Menyelamatkan Demokrasi

Mari tempatkan pers pada martabatnya: pilar keempat demokrasi yang tidak boleh ditundukkan. Jika pers dipaksa jinak dan dibungkam dengan buzzer-buzzer bayaran, yang tersisa hanyalah panggung sandiwara politik. Rakyat jadi penonton, kebenaran kehilangan suara.

Kepada masyarakat Dharmasraya, jangan mudah percaya pada akun-akun siluman yang menyerang wartawan dan media. Bedakan mana informasi berbasis fakta jurnalistik dan mana yang hanya propaganda murahan. Jangan biarkan buzzer menguasai ruang publik kita. Karena ketika pers kehilangan marwahnya, kitalah—rakyat Dharmasraya—yang pertama kali menjadi korban kebohongan. (**)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi
Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?
Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan
Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi
Gang Sandiwara Kembali Disorot, Dugaan Perbuatan Cabul demi Keuntungan — Polsek Kemang Ditantang Buktikan Fakta
KPK Geledah Disdik Kabupaten Bogor, Dua Koper Dibawa Penyidik
Budi Arie dan Godaan Menjadi Pemerintahan Bayangan
PENUNDAAN TRANSAKSI REKENING AKTIVIS PATI: JANGAN MEMBALIK LOGIKA HUKUM DAN JANGAN GUNAKAN INSTRUMEN TPPU UNTUK MEMBATASI HAK KONSTITUSIONAL WARGA
Berita ini 13 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 09:21 WIB

Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi

Kamis, 10 September 2026 - 11:05 WIB

Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?

Selasa, 8 September 2026 - 17:04 WIB

Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi

Selasa, 1 September 2026 - 10:08 WIB

Gang Sandiwara Kembali Disorot, Dugaan Perbuatan Cabul demi Keuntungan — Polsek Kemang Ditantang Buktikan Fakta

Berita Terbaru

Headline

Senin, 14 Sep 2026 - 14:55 WIB