Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?
Oleh: Amiluddin
Kaperwil Mediainvestigasi.net Sulawesi Selatan
OPINI — Bayangkan satu hari dalam kehidupan masyarakat.
Subuh belum benar-benar terang, warga sudah sibuk menadah air. Pagi belum lama dimulai, antrean BBM mengular. Siang hari bukan digunakan untuk bekerja dengan tenang, tetapi berkeliling mencari tabung gas. Malam datang, lilin kembali dicari ketika listrik padam.
Subuh tadah air. Pagi antre bensin. Siang cari gas. Malam cari lilin.
Kalimat itu sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ada kritik sosial yang cukup keras: mengapa untuk mendapatkan kebutuhan dasar saja masyarakat harus menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan kesabaran?
Air adalah kebutuhan pokok. BBM menopang mobilitas. LPG menjadi kebutuhan rumah tangga. Listrik menerangi kehidupan. Ketika empat hal tersebut bermasalah dalam waktu yang berdekatan, yang terganggu bukan hanya kenyamanan, tetapi juga aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
Rakyat tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin air tersedia ketika keran dibuka, BBM dapat diperoleh tanpa antrean yang menguras waktu, gas tidak menjadi barang yang harus diburu dari satu tempat ke tempat lain, dan listrik menyala ketika dibutuhkan.
Sesederhana itu.
Karena itu, keluhan masyarakat jangan buru-buru dianggap sebagai kegaduhan. Bisa jadi, keluhan tersebut merupakan alarm bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.
Pemerintah bersama pihak terkait harus berani melakukan evaluasi secara serius. Jika masalahnya distribusi, benahi distribusinya. Jika persoalannya pasokan, pastikan pasokan tersedia. Jika ada permainan atau penyimpangan di lapangan, tindak secara tegas.
Jangan biarkan masyarakat terus-menerus menjadi pihak yang harus beradaptasi terhadap masalah.
Sebab terlalu lama beradaptasi dengan kelangkaan dapat melahirkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: hilangnya kepercayaan.
Namun kritik juga harus memiliki batas kewarasan. Masyarakat jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Jangan pula menjadikan situasi sulit sebagai alasan untuk memperkeruh keadaan.
Ketenangan bukan berarti diam. Kritik bukan berarti provokasi.
Masyarakat tetap dapat menyampaikan keluhan, sementara pemerintah wajib menunjukkan bahwa keluhan tersebut benar-benar ditangani.
Kepercayaan publik tidak bisa diminta. Ia harus dibuktikan.
Ketika pemerintah mampu menghadirkan solusi, masyarakat akan melihat bahwa negara hadir. Sebaliknya, ketika masalah berulang tanpa kejelasan, wajar jika pertanyaan publik semakin keras: sebenarnya siapa yang bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar rakyat tetap tersedia?
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata tentang air, BBM, LPG, atau listrik.
Ini tentang kualitas hidup.
Ini tentang waktu masyarakat.
Ini tentang rasa aman.
Dan yang paling penting, ini tentang kepercayaan.
Jangan sampai suatu hari kita terbiasa melihat rakyat menjalani siklus yang sama: subuh menadah air, pagi mengantre BBM, siang berburu gas, malam mencari lilin.
Sebab jika itu menjadi rutinitas, yang sedang krisis bukan hanya pasokan.
Bisa jadi, yang perlahan habis adalah kesabaran rakyat.
Penulis : Amiludin
Editor : Atri
Sumber Berita: MI










