BeritaOpiniPeristiwa

Diskusi Terik di Warung Kopi Susi: “Predator Anak, Ancaman di Balik Pintu”

375
×

Diskusi Terik di Warung Kopi Susi: “Predator Anak, Ancaman di Balik Pintu”

Sebarkan artikel ini

Sejumlah wartawan lokal tengah membahas kasus pencabulan anak dibawah umur di Dharmasraya (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)

 

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net-Siang itu, matahari terasa tak kenal ampun. Panasnya menyengat, membuat gerah tubuh para kuli tinta. Meski terik dan keringat menambah lelah, semangat mereka tetap tinggi, apalagi saat topik bahasan yang menarik mencuat yakni kasus predator anak di bawah umur yang kian marak di Dharmasraya. Diskusi di sudut warung kopi milik Susi (45 Tahun), yang letaknya persis di samping kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Dharmasraya, segera menghangat.

“Apakah si Ayah berpikir, Anak tiri, serasa istri,” celetuk Ridwan Syarif, seorang wartawan senior, mengawali diskusi. Ucapannya mengingatkan para wartawan yang hadir pada kenyataan pahit yang kini menghantui masyarakat. Kasus pelecehan terhadap anak bukan lagi hal yang asing; ia telah menjadi bayang-bayang yang menakutkan, terutama bagi anak-anak perempuan dan ibu-ibu.

Para awak media mulai mengulas rentetan kasus yang menggemparkan, seperti yang terjadi dari Nagari Gunung Medan, Nagari Sungai Duo, Nagari Ampang Kuranji, hingga Nagari Koto Baru. Seakan tak ada habisnya, termasuk kasus terbaru di Nagari Ampek Koto Pulau Punjung kembali menguak luka lama: seorang ayah tiri tega menggagahi anak tirinya sebanyak empat kali. Kini, pria tersebut telah mendekam di tahanan, rumah “tanpa dapur” istilah para wartawan untuk penjara.

“Terkait kasus iko, yo ayah yang tidak beradab dan indak punyo hati,” tegas Yanti Abel, seorang wartawati dari Investigasi.net, dengan suara penuh kemarahan.

Kalimatnya menggambarkan perasaan masyarakat yang geram melihat perbuatan keji ini. Diskusi semakin dalam, menyentuh sisi gelap kemanusiaan dan sisi rapuh perlindungan anak di tengah masyarakat yang kerap mengabaikan tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga.

Menyoal Kejahatan Tak Berperikemanusiaan: Perlindungan Anak yang Kian Mendalam

Dalam diskusi itu, seorang tokoh masyarakat, Datuk Kampung, yang kebetulan duduk bergabung di warung tersebut menyampaikan bahwa Sembilan Koto relatif aman dari kasus serupa. Namun, Yanti menambahkan, “Perbuatan abnormal seperti ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Dimana pelaku tidak punya kendali atas pikirannya lebih ke arah gangguan kejiwaan, ancaman seperti ini bisa kapan saja muncul.”

Yanti juga mengingatkan pentingnya perlindungan ekstra bagi anak-anak, baik anak kandung maupun anak tiri. Sebagai generasi penerus, anak-anak tidak hanya harus dijaga fisiknya tetapi juga mentalnya.

Ia mengungkapkan,“Pemerintah sudah menjamin perlindungan perempuan dan anak melalui undang-undang, agama juga mengajarkan begitu. Sayangnya, belum semua orang tua memahami bahwa menjadi pelindung itu adalah amanah besar.”

Warung Kopi yang Jadi Saksi Diskusi Masyarakat.

Warung kopi Susi di samping kantor Baznas ini memang kerap menjadi saksi diskusi hangat warga dan wartawan. Bukan sekali dua kali tempat ini menghidupkan percakapan serius soal isu-isu yang mengusik keseharian. Di sinilah sering kali para awak media, tokoh masyarakat, dan warga berkumpul, berbagi opini tentang kondisi terkini, mulai dari berita politik hingga kasus kriminal seperti predator anak yang kini menjadi kekhawatiran bersama.

Dalam percakapan itu, satu pesan seolah terlantun dengan jelas kebutuhan akan keamanan untuk anak-anak. Para wartawan dan masyarakat berharap, baik pemerintah maupun lembaga sosial akan memperkuat perlindungan dan memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, tumbuh dalam lingkungan yang aman.

Ketika matahari mulai bergeser dari puncaknya, para kuli tinta meninggalkan warung kopi Susi dengan satu harapan, agar setiap langkah dan berita yang mereka kabarkan bisa menjadi bagian dari perlindungan bagi mereka yang belum mampu melindungi diri.

Editor: Yanti