Suasana di acara penyembelihan Kerbau oleh seluruh Niniek mamak Simalidu (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)
Dharmasraya, mediainvestigasi.net — Asa baru bersemi di Nagari Simalidu. Di bawah kepemimpinan Wali Nagari Saleh, benih-benih perselisihan yang selama ini memecah belah para Ninik Mamak akhirnya luluh. Bukti persatuan ini pun ditandai dengan penyembelihan seekor kerbau di Lapangan Bola Kampung Baru, Simalidu, Kecamatan Kota Salak, Kabupaten Dharmasraya, Sabtu (20/7), sebagai wujud syukur dan era baru membangun nagari bersama.

Bertahun-tahun, konflik di kalangan Ninik Mamak kerap memicu ketegangan, bahkan sampai pada tindakan anarkis yang meresahkan warga. Sekarang, kerja keras dan komitmen Saleh dibantu tokoh masyarakat membuahkan hasil manis di tahun ketiga kepemimpinannya.
“Persoalan antar Ninik Mamak selama ini, di hampir tiga tahun saya menjabat, hari ini akhirnya tercapai menyatukan Ninik Mamak. Kita rayakan dengan penyembelihan kerbau sebagai rasa syukur kita bersama,” tutur Wali Nagari Saleh penuh haru.

Menurut Saleh, ia percaya, kebersamaan ini akan menjadi pondasi menuju nagari yang makmur,” Tabang alah saduyun, hingok lah sa dahan, kok bumi sanang padi lah manjadi, bersama-sama bergerak, bersama-sama sejahtera,” tambahnya.
Tak sekadar simbolis, Saleh mengikat tekadnya melalui hajatan: kerbau akan disembelih jika persatuan terwujud. Hajatan itu kini terpenuhi, menegaskan kesungguhan sang Wali dalam menjaga amanah.
Enam Suku Kembali Satu Suara
Nagari Simalidu dihuni enam suku besar: Piliang, Melayu, Patapang, Caniago, Mandailing, dan Tigo Nini. Kini, keenamnya kembali dalam satu ikatan adat yang kokoh. Tokoh masyarakat setempat menegaskan, penyembelihan kerbau bukan sekadar tradisi, melainkan penanda bahwa janji telah ditepati.
“Ini tekad Pak Wali Saleh. Beliau juga menuntaskan janji politik yakni pelebaran jalan menuju ke pusat pemerintahan nagari. Semua terlaksana,” ungkap seorang tokoh masyarakat.

Dampak Positif: Cucu Kemenakan Merasakan Manfaat
Persatuan para Ninik Mamak membawa harapan besar bagi cucu kemenakan dan seluruh masyarakat Simalidu. Suasana rukun memperkuat gotong royong, membuka ruang pembangunan infrastruktur, dan mencegah upaya adu domba yang kerap mengganggu ketenteraman nagari.

“Harapan saya tentu itu juga yang menjadi harapan masyarakat Simalidu, Jangan lagi kita terpecah belah, jangan lagi kita mau di adu-adu domba,” ujar Saleh mengakhiri.
Warga pun berharap semangat rukun ini terus terjaga, menjadi warisan berharga untuk anak cucu di Simalidu. Dengan bersatu, impian membangun nagari yang aman, maju, dan sejahtera tak lagi sekadar wacana.
Editor: Yanti











