Pengangkatan Pahlawan Nasional 2025: Langkah Rekonsiliasi, Tapi Publik Sumbar Masih Punya Catatan

- Penulis

Selasa, 11 November 2025 - 06:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Saat Pengangkatan Pahlawan Nasional 2025 oleh Presiden RI Prabowo kepada ahli waris almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, Sumbar (Dok, Istimewa) 

 

PADANG, MEDIAINVESTIGASI.NET – Penetapan 10 Pahlawan Nasional tahun 2025 jadi topik hangat di berbagai daerah, termasuk di Sumatera Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain karena munculnya nama tokoh asal Ranah Minang, Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, publik juga ramai membahas keputusan pemerintah mengangkat Soeharto, Gus Dur, dan Marsinah di tahun yang sama—tiga nama yang selama ini dikenal punya “jalan sejarah” yang berbeda bahkan bertolak belakang.

Banyak yang menganggap langkah Presiden RI Prabowo Subianto ini sebagai upaya menyatukan memori bangsa, sementara sebagian lainnya menilai keputusan tersebut masih menyisakan tanda tanya.

 

Sumbar Bangga: Hajjah Rahmah El Yunusiyyah Diakui Negara

Warga Sumatera Barat tentu punya alasan tersendiri untuk ikut menyoroti penetapan Pahlawan Nasional tahun ini.

Tokoh pendidikan perempuan asal Padang Panjang, Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Beliau dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan dan pendiri Diniyyah Puteri  warisan besar bagi dunia pendidikan.

“Rahmah El Yunusiyyah itu inspirasi bagi perempuan Indonesia jauh sebelum kata emansipasi populer. Kita tentu bangga gelar ini akhirnya datang,” ujar Nur Azizah, penggiat pendidikan perempuan di Sumbar.

Ramai Dibahas: Soeharto & Marsinah “Ditempatkan Bersama” dalam Satu Tahun

Yang membuat media sosial heboh, khususnya di kalangan muda, adalah dimasukkannya nama Soeharto bersama Gus Dur dan Marsinah.

Soeharto — presiden kedua RI, identik dengan pembangunan dan stabilitas Orde Baru.

Marsinah — aktivis buruh yang tewas secara tragis di era yang sama.

Gus Dur — presiden keempat RI, simbol demokrasi, kemanusiaan, dan keberagaman.

Baca Juga :  Kepala BKN Tinjau Ujian PPPK di Kota Padang, Tekankan Fokus dan Kejujuran

Pull Quote:

“Nama dengan latar perjuangan yang kontras disatukan dalam momen yang sama. Banyak yang kaget, sebagian agak bingung.”

Wajar jika publik bertanya, “Apa pesan besar di balik ini?”

 

Pemerintah: Ini Upaya Merajut Persatuan

Pemerintah menilai penetapan ini sebagai langkah merawat persatuan dan menyatukan berbagai babak sejarah bangsa.

Pengamat sosial politik Sumbar, Nofrial Hadi, memberikan sudut pandang menarik:

“Prabowo ingin menunjukkan bahwa sejarah Indonesia bukan hitam-putih. Ada perjuangan dari banyak sisi. Kalau bangsa ingin maju, memori sejarah juga harus dipersatukan, bukan dipertentangkan terus.”

Artinya, negara ingin semua cerita perjuangan baik dari sisi rakyat kecil, pemimpin bangsa, maupun tokoh pembaruan diakui bersama sebagai bagian dari perjalanan Indonesia.

 

Tapi Publik Masih Punya Catatan…

Meski banyak yang memahami tujuan persatuan, masih ada suara keberatan, termasuk dari komunitas aktivis, mahasiswa, hingga jaringan pro-demokrasi seperti Gusdurian.

Bagi mereka, penempatan nama Marsinah dan Soeharto dalam satu momen penghargaan masih terasa seperti “belum tepat waktu”, karena luka sejarah belum sepenuhnya dipulihkan.

Namun, masyarakat Sumbar rata-rata melihat sisi positifnya:

Ini membuka diskusi baru soal sejarah.

Mendorong generasi muda belajar lebih terbuka, tidak satu versi saja.

Mengingatkan bahwa pahlawan punya banyak bentuk: guru bangsa, aktivis, pemimpin, hingga pejuang akar rumput.

 

Yang Terpenting, Nilai Kepahlawanan Jangan Hilang

Terlepas dari pro dan kontra, masyarakat di berbagai daerah termasuk Sumbar sepakat bahwa nilai kepahlawanan jangan hanya berhenti di upacara dan gelar, tetapi harus jadi inspirasi untuk:

*memperbaiki pendidikan

*menjaga keberagaman

*menghormati pejuang keadilan

*menjaga integritas dalam memimpin

Pada akhirnya, penghargaan pahlawan adalah tentang meneladani perjuangan, bukan mengulang konflik masa lalu. (***)

Baca Juga :  Polda Lampung Imbau Masyarakat Kelola Sampah dengan Bijak di Hari Peduli Sampah Sedunia

 

Editor: Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kualitas Udara Pekanbaru Kembali Baik, Polda Riau: Penanganan Karhutla Tetap Berjalan
Tangis di Rumah Duka Pilubang, Bupati JKA Hadir Menguatkan Keluarga Korban, Ingatkan Orang Tua Awasi Anak
Lewat Tengah Malam,Tim Satria Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Hiburan Organ Tunggal
Jelang HUT ke-78, Polwan Polda Riau Berjibaku Lawan Karhutla hingga Dampingi Warga Terdampak
Kadis PMD Inhil Hadiri Rapat Persiapan Pelaksanaan TMMD dan Karya Bhakti TNI
Inhil Merdeka Run 2026 Diikuti Ratusan Pelari, Semangatkan Gaya Hidup Sehat
Polsek Kuindra Pantau Perkembangan Tanaman Jagung Ketahanan Pangan di Desa Tanjung Melayu
Menepis Isu Soal Jual Beli Proyek Mencitus Nama Baik H. Zainal Mus Itu Murni Fitnah Di Lakukan Oleh Manusia Jahanam Minta Polisi Tangkap Pelaku
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:55 WIB

Kualitas Udara Pekanbaru Kembali Baik, Polda Riau: Penanganan Karhutla Tetap Berjalan

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:45 WIB

Tangis di Rumah Duka Pilubang, Bupati JKA Hadir Menguatkan Keluarga Korban, Ingatkan Orang Tua Awasi Anak

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:36 WIB

Lewat Tengah Malam,Tim Satria Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Hiburan Organ Tunggal

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Jelang HUT ke-78, Polwan Polda Riau Berjibaku Lawan Karhutla hingga Dampingi Warga Terdampak

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:26 WIB

Kadis PMD Inhil Hadiri Rapat Persiapan Pelaksanaan TMMD dan Karya Bhakti TNI

Berita Terbaru