Pancasila 1 Juni: Warisan Luhur yang Kian Jauh dari Kenyataan

- Penulis

Minggu, 1 Juni 2025 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis oleh Mitra Yuyanti, Wartawati media online di Dharmasraya (1 Juni 2025) Gambar Lambang Negara Indonesia Burung Garuda tanpa warna (Dok, Istimewa)

 

Mediainvestigasi.net – Hari ini, 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila—sebuah fondasi ideologis yang digali dari nilai-nilai luhur oleh para pendiri bangsa pada tahun 1945. Lima sila yang tertuang dalam Pancasila adalah hasil renungan mendalam dan visi besar untuk membebaskan bangsa dari penjajahan serta membangun negara yang berkeadilan, bermoral, dan bersatu.

Namun, 79 tahun berlalu sejak rumusan itu disampaikan di depan sidang BPUPKI, kini Pancasila seakan hanya tinggal teks dalam pidato, hiasan dalam baliho, dan jargon di dinding instansi. Dalam praktik bernegara, nilai-nilainya semakin jauh dari realita. Lalu, bagaimana kondisi kelima sila Pancasila hari ini?

 

1. Ketuhanan yang Maha Esa: Moral Terkikis di Negeri Religius

Indonesia dikenal sebagai negara religius. Namun, praktiknya, nilai-nilai Ketuhanan kian terkikis. Agama tak lagi dijadikan pondasi moral, tapi sering dijadikan simbol atau alat politisasi belaka.

Kita menyaksikan peningkatan kekerasan seksual terhadap anak, maraknya peredaran narkoba, hingga kasus kriminal yang melibatkan orang-orang berpendidikan dan berstatus sosial tinggi. Ketika nilai Ketuhanan tidak lagi hidup dalam perilaku, maka yang tersisa hanyalah simbol kosong yang tak bermakna.

 

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Hukum yang Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

Keadilan di negeri ini masih belum berpihak pada kemanusiaan. Rakyat kecil terus menjadi korban sistem hukum yang diskriminatif. Mereka yang miskin, tidak berpendidikan, dan tak punya kuasa mudah dijadikan tumbal hukum, sementara para koruptor triliunan rupiah hanya divonis ringan dan bahkan hidup mewah di balik jeruji.

Baca Juga :  Pemda Pulau Taliabu Memberi Dukungan Pengamanan PSU, Teken Kesepakatan NPHD Bersama Polri dan TNI

Hukum tak hanya tumpul ke atas, tapi juga mulai kehilangan kepercayaan dari rakyat. Lalu, di mana letak “keadilan” dan “keberadaban” yang dijanjikan sila kedua?

 

3. Persatuan Indonesia: Retak oleh Diskriminasi dan Polarisasi

Sila ketiga adalah tentang persatuan, namun realitasnya kita masih sibuk mendiskreditkan sesama atas dasar suku, ras, agama, dan daerah asal. Warga di wilayah terpencil masih diperlakukan sebagai warga kelas dua. Polarisasi sosial akibat politik identitas juga belum selesai, bahkan justru kian menguat setiap menjelang pemilu.

Persatuan Indonesia hari ini lebih sering jadi slogan kampanye ketimbang kesadaran kolektif.

 

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Demokrasi yang Bisu

Apakah rakyat benar-benar menjadi pusat dari sistem perwakilan hari ini? Atau hanya menjadi objek yang dimobilisasi saat pemilu tiba?

Kritik rakyat sering tak digubris, suara-suara dari bawah diabaikan. Keputusan-keputusan penting sering lahir dari ruang-ruang elitis, bukan hasil musyawarah dengan rakyat. Demokrasi kita mulai kehilangan substansinya: bukan lagi dari, oleh, dan untuk rakyat—melainkan untuk kekuasaan.

 

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Masih Jauh dari Timur ke Barat

Masihkah kita bisa bicara tentang “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” saat melihat kondisi Papua yang terus bergolak, hak hidup masyarakat Rempang yang terusik, hingga ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa yang begitu mencolok?

Keadilan sosial bukan hanya tentang subsidi dan bansos. Ia adalah tentang hak dasar: pendidikan, kesehatan, tanah, pekerjaan, dan martabat. Selama rakyat di berbagai daerah masih merasa sebagai warga negara kelas dua, maka sila kelima belum sepenuhnya hadir.

Pancasila Butuh Dihidupkan, Bukan Sekadar Diperingati

Hari Lahir Pancasila mestinya bukan hanya jadi rutinitas seremonial. Ia harus jadi momen refleksi nasional. Sudahkah negara menjadikan Pancasila sebagai dasar kebijakan dan perilaku? Atau justru menjadikannya alat pembungkam kritik, slogan untuk legitimasi, dan perisai bagi kepentingan kekuasaan?

Baca Juga :  PIMPINAN REDAKSI SOROT REPUBLIKA 'ALAN SOMANTRI, : " BERITA YANG KAMI TAYANGKAN ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB PENUH REDAKSI"

Pancasila adalah warisan luhur. Tapi ia akan jadi peninggalan mati jika tak dihidupkan dalam tindakan nyata. Bangsa ini harus kembali pada nilai-nilai asli yang digariskan para pendiri republik: ber-Tuhan dengan moral, berperikemanusiaan dengan adil, bersatu tanpa diskriminasi, berdemokrasi dengan hati, dan menjunjung keadilan sosial yang merata.

Karena sejatinya, merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah, tapi bebas dari ketidakadilan.

 

Selamat Memperingati Hari Pancasila 1 Juni 2025.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakaran Kembali Melanda Lahan Perkebunan Cengkeh Milik Warga Desa Ufung, Taliabu Utara
Ketua Bhayangkari Cabang Pulau Taliabu Ny. Desy Adnan Wahyu Kunjungi Posko Darurat Karhutla TBL Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak
Setibanya Bupati Taliabu Sashabila L Mus Langsung Tinjau Posko Darurat Karhutla Di Taliabu Barat Laut Untu Memasrikan Wilayah Dampak
Bupati Batu Bara: Pendampingan BKN Bantu Kaderisasi ASN dan Atasi Keterbatasan SDM di Daerah
Pers Diduga Diusir dari Kantor DLH, AWIBB Tantang Pemkab Bekasi: Berani Periksa Kadis?
Akibat Karhutla Di Kabupaten Pulau Taliabu Meluas, Citra Puspasari Mus Bagi Peduli Salurkan Bantuan Ke Warga Tani Terdampak Di TBL
Uang Publik Dipertanyakan, Warga Dadok Tunggul Hitam Tuntut LPJ dan Audit Total
Nah.. kan akhirnya jembatan didesa gedung Rejo kecamatan belitang amblas lagi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:16 WIB

Kebakaran Kembali Melanda Lahan Perkebunan Cengkeh Milik Warga Desa Ufung, Taliabu Utara

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Ketua Bhayangkari Cabang Pulau Taliabu Ny. Desy Adnan Wahyu Kunjungi Posko Darurat Karhutla TBL Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:42 WIB

Setibanya Bupati Taliabu Sashabila L Mus Langsung Tinjau Posko Darurat Karhutla Di Taliabu Barat Laut Untu Memasrikan Wilayah Dampak

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Bupati Batu Bara: Pendampingan BKN Bantu Kaderisasi ASN dan Atasi Keterbatasan SDM di Daerah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Pers Diduga Diusir dari Kantor DLH, AWIBB Tantang Pemkab Bekasi: Berani Periksa Kadis?

Berita Terbaru