RELIMA Pasaman Barat untuk Siapa?
Pasaman Barat | mediainvestigasi.net
Literasi adalah cahaya. Ia semestinya menerangi setiap sudut nagari, menyapa setiap rumah baca, menghidupkan perpustakaan, menguatkan sekolah, dan menumbuhkan harapan bagi siapa saja yang mencintai buku. Namun, ketika cahaya itu terasa hanya menerangi lingkaran tertentu, pertanyaan pun tak dapat dihindarkan: Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Pasaman Barat sesungguhnya hadir untuk siapa?
Program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) merupakan program yang didanai melalui APBN oleh Perpustakaan Nasional RI. Harapannya sederhana namun mulia, yakni memperkuat budaya baca dan membangun ekosistem literasi yang merata di tengah masyarakat.
Namun, harapan itu ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh sebagian penggiat literasi di Kabupaten Pasaman Barat.
Salah seorang penggiat literasi yang juga merupakan penulis kepada mediainvestigasi.net mengaku sangat menyayangkan pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, Imawan Azhari yang dipercaya sebagai RELIMA Pasaman Barat sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Forum Penggerak Literasi (FPL) Pasaman Barat dinilai belum mampu menunjukkan keberpihakan kepada seluruh komunitas literasi.
“Yang tampak di lapangan, kegiatan RELIMA seolah hanya berputar di lingkungan FPL. Hampir seluruh aktivitas selalu melibatkan kelompok yang sama. Akibatnya, muncul kesan bahwa program negara ini hanya dinikmati oleh satu komunitas tertentu,” ujarnya.
Ia menilai, kegiatan yang dilakukan lebih banyak berorientasi pada pemenuhan laporan administratif daripada memperluas manfaat kepada seluruh taman bacaan, sekolah, maupun komunitas literasi yang tersebar di Pasaman Barat.
RELIMA: Semua Sudah Sesuai Juknis
Menanggapi kritik tersebut, Imawan Azhari saat dihubungi mediainvestigasi.net menjelaskan bahwa seluruh pelaksanaan program telah berjalan sesuai petunjuk teknis dari Perpustakaan Nasional RI.
Ia mengatakan, sebanyak 360 Relawan Literasi Masyarakat dari seluruh Indonesia telah mengikuti Bimbingan Teknis sebelum menjalankan tugas. Selama pelaksanaan program, setiap relawan didampingi oleh PIC, satuan tugas RELIMA, serta para mentor. Seluruh kegiatan juga dilaporkan secara berkala dan berada dalam proses monitoring serta evaluasi berkelanjutan.
“Kalau RELIMA Pasaman Barat, tidak ada permasalahan terkait kesesuaian pelaksanaan program,” tegasnya.
Menjawab anggapan bahwa kegiatan hanya menyasar kelompok tertentu, Imawan menjelaskan bahwa sasaran RELIMA memang diarahkan kepada kelompok-kelompok yang menjadi bagian dari ekosistem literasi, seperti sekolah, perpustakaan, rumah baca, guru, penggiat literasi, pemerintah nagari, komunitas literasi, serta masyarakat yang memiliki minat mengembangkan budaya baca.
Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan strategi agar program berjalan lebih efektif dan mampu memberikan dampak yang optimal.
Kritik: Literasi Tidak Boleh Berhenti pada Kelompok Tertentu
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari salah seorang tokoh masyarakat Pasaman Barat yang juga dikenal sebagai penulis dan penggiat literasi tingkat nasional.
Menurutnya, penjelasan Imawan Azhari lebih merupakan pembelaan diri dibanding jawaban atas kegelisahan para penggiat literasi di daerah.
“Kalau memang program ini untuk seluruh masyarakat, mengapa yang terlihat dalam berbagai kegiatan justru orang-orang yang itu-itu saja? Nagari mana saja yang telah dikunjungi selain Kapa? Sekolah yang didatangi pun umumnya memiliki keterkaitan dengan anggota FPL. Rumah baca yang dikunjungi juga didominasi TBM miliknya sendiri, TBM Ketua FPL, maupun TBM yang berada di lingkungan FPL,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa laporan yang disampaikan kepada Perpustakaan Nasional belum tentu menggambarkan kondisi riil di lapangan.
“Pihak Perpustakaan Nasional tentu menerima laporan administrasi. Namun, realitas yang dirasakan para penggiat literasi di Pasaman Barat belum tentu sama dengan isi laporan tersebut. Banyak taman bacaan, sekolah, dan komunitas literasi yang merasa belum pernah merasakan kehadiran program RELIMA,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, ia berharap proses seleksi Relawan Literasi Masyarakat ke depan lebih melibatkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten maupun Provinsi, sehingga tidak ada kesan keberpihakan kepada kelompok tertentu.
“Program yang dibiayai oleh APBN ini semestinya menjadi milik seluruh masyarakat. Literasi tidak mengenal sekat organisasi, tidak mengenal kelompok, dan tidak boleh berhenti pada satu komunitas saja. Sebab ilmu yang baik adalah ilmu yang dibagikan seluas-luasnya, bukan yang berputar di lingkaran yang sama,” tutupnya.
Ka Biro Pasaman Barat











