Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)
Mediainvestigasi.net–Sejarah adalah cermin dan sekaligus peringatan. Dalam tradisi Islam, sejarah dipandang sebagai rangkaian pelajaran yang ditata oleh kehendak ilahi agar manusia tidak tersandung pada kesalahan yang sama. Dalam konteks kebangsaan, sejarah berfungsi seperti urat nadi yang mengalirkan identitas, meneguhkan arah, dan menjaga kesinambungan. Ketika urat itu melemah, tubuh kebangsaan pun kehilangan daya hidupnya. Indonesia kini berada pada fase ketika ingatan kolektif perlahan tampak memudar. Globalisasi, yang datang membawa kecepatan, tentu memberi manfaat, tetapi sekaligus menggoyahkan fondasi kultural yang selama ini menjadi jangkar. Ironisnya, kita menyaksikan proses itu seperti menonton sinetron panjang dengan detasemen dari masa lalu, hilangnya kepekaan budaya, dan kaburnya nilai luhur yang mestinya menjadi penopang moral bangsa.
Delapan puluh tahun merdeka, kita justru kerap merasa seperti bangsa yang beranjak jauh dari akar sejarahnya. Banyak indikator yang menunjukkan gejala itu: pemaknaan sejarah yang dipermudah, kebiasaan publik yang lebih menonjolkan pencapaian material ketimbang integritas, serta politik yang terjebak dalam pragmatisme jangka pendek. Benedict Anderson pernah mengingatkan bahwa bangsa adalah “komunitas terbayang”, sebuah identitas yang hanya dapat hidup bila didukung memori bersama. Jika memori ini putus, bangsa kehilangan dirinya, bahkan ketika negara masih berdiri secara administratif. Dalam suasana semacam itu, tidak mengherankan bila kita menyaksikan keterbelahan, kegamangan moral, dan mudahnya orientasi publik berubah mengikuti arus kepentingan yang datang dari luar maupun dari dalam.
Persoalan identitas ini tampak jelas ketika kita melihat bagaimana narasi sejarah kemerdekaan Indonesia masih menyisakan perdebatan simbolik di berbagai forum internasional. Bahwa sebagian negara pernah melihat kemerdekaan Indonesia bukan sebagai kenyataan de jure pada 1945 semestinya menyalakan kembali detak nasionalisme, bukan untuk menumbuhkan permusuhan, tetapi untuk menegaskan bahwa kedaulatan tidak pernah lahir dari restu penjajah. Kedaulatan lahir dari tekad politik bangsa yang memilih bebas. Namun bacaan terhadap simbol sejarah ini sering tidak presisi di kalangan elite politik. Kekeliruan memahami konteks historis membuat keputusan publik sering kehilangan akar kebangsaannya. Pada titik itulah, masalah bukan terletak pada satu figur atau pemerintahan, tetapi pada kultur politik yang terlalu menekankan transaksi kekuasaan dan terlalu ringan menanggalkan martabat nasional demi kompromi jangka pendek.
Namun sejarah Indonesia tidak hanya memuat luka dan problem. Ia juga merekam kebesaran yang terlampau jarang kita rangkul sebagai penguat identitas. Pertempuran Surabaya 1945, yang disebut banyak penulis Barat sebagai perlawanan rakyat terbesar di Asia setelah Perang Dunia II, menunjukkan karakter keberanian yang menjadi fondasi bangsa ini. Dalam sejarah maritim, para ahli seperti Anthony Reid mencatat kemampuan pelaut Nusantara membangun kapal raksasa yang panjangnya melampaui standar Eropa pada abad ke-15. Dalam dunia sains modern, anak-anak Indonesia sejak 1970-an konsisten menorehkan prestasi internasional di bidang matematika, fisika, dan kimia. Dalam ranah peradaban kuno, Borobudur dan sejumlah temuan arkeologi termasuk Gunung Padang menghadirkan kembali wacana tentang tingginya kapasitas teknologi dan budaya nenek moyang. Semua fragmen ini seharusnya menjadi sumber kepercayaan diri nasional, bukan sekadar nostalgia. Bangsa-bangsa besar menata masa depan mereka dengan bertumpu pada kesadaran sejarah; mereka tidak mengurung diri dalam kemegahan masa lalu, tetapi menggunakannya sebagai pandu arah agar tidak kehilangan arah.
Jika demikian, mengapa kita justru tampak ragu atas jati diri sendiri? Salah satu jawabannya ada pada struktur sistem yang mengatur kehidupan kita. Politik kita kerap bergerak dalam orbit kepentingan modal, bukan gagasan. Institusi publik yang semestinya melayani kepentingan rakyat masih mudah dibajak oleh kepentingan sempit. Ilmuwan politik Daron Acemoglu dan James Robinson menjelaskan bahwa bangsa akan gagal ketika institusinya merosot menjadi instrumen elite yang menguras sumber daya, bukan menyejahterakan masyarakat. Indonesia tidak kebal dari risiko ini. Korupsi, ketimpangan, dan kebijakan yang tidak konsisten dalam menjaga kepentingan nasional hanyalah gejala permukaan. Akar masalahnya adalah kerapuhan etos kebangsaan yang tidak lagi kokoh memegang nilai budi pekerti, gotong royong, dan integritas yang dahulu menjadi mahakarya leluhur.
Karena itu, mengembalikan kejayaan bangsa bukan tugas retorik, tetapi rekonstruksi kolektif terhadap cara kita memandang diri sendiri. Kita tidak dapat hanya menyalahkan elite politik, meski banyak dari mereka gagal memainkan peran sebagai penjaga kepentingan nasional. Tugas yang lebih besar berada pada masyarakat sebagai pemilik kedaulatan: membangun kembali akal sehat publik, merawat ingatan sejarah, dan menegakkan nilai moral yang tidak bisa dibeli oleh kepentingan apa pun. Berdiri di atas kaki sendiri bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi memiliki orientasi dan keberanian moral untuk menentukan arah tanpa kehilangan martabat.
Sejarah, pada akhirnya, bukan benda mati yang tersimpan di buku pelajaran. Ia adalah medan yang kita pijak hari ini. Ia mengalir dari masa lalu, membentuk masa kini, dan menuntut pertanggungjawaban dari generasi yang hidup sekarang. Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: apakah kita masih mengenali fondasi tempat kita berpijak? Ataukah fondasi itu perlahan diretas oleh arus kepentingan yang tak pernah benar-benar berpihak kepada kita?
Masa depan bangsa ini tidak akan ditentukan oleh negara lain, tidak pula oleh kekuatan pasar global, tetapi oleh kemampuan kita menjaga memori, martabat, dan nilai-nilai yang membuat Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka. Jika fondasi kultural itu kembali kita tegakkan, maka sejarah tidak hanya menjadi pelajaran, melainkan juga janji, bahwa bangsa yang setia pada identitasnya tidak akan mudah dihapus dari percaturan dunia. Jika tidak, maka kita hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah bangsa lain.













1 Komentar
**mitolyn reviews**
Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.