Gambar: Sejumlah Siswa di ruang kesehatan diduga keracunan massal MBG Sungai Rumbai (Dok, istimewa)
Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Dugaan keracunan massal akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, semakin mengkhawatirkan. Hingga Jumat (07/02/2026) pukul 08.30 WIB, jumlah korban tercatat 221 orang, terdiri dari siswa, guru, ibu hamil, balita, hingga masyarakat umum.
Namun ironisnya, tiga hari pascakejadian pada Rabu (04/02/2026), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dharmasraya belum juga membuka hasil resmi pemeriksaan laboratorium BPOM yang diduga menjadi kunci utama untuk memastikan penyebab keracunan MBG tersebut.
Lambannya kejelasan ini memicu kemarahan publik dan menambah trauma keluarga korban.
Berdasarkan laporan perkembangan kejadian yang dihimpun media ini, dari total 221 pasien, sebanyak 15 orang masih menjalani perawatan intensif, sementara 206 orang lainnya telah menjalani rawat jalan dan dipulangkan. Tidak terdapat pasien yang saat ini berstatus observasi.
Adapun pasien yang masih dirawat tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni:
1 orang dirawat di Klinik Nurjinis
3 orang dirawat di Klinik PMC
11 orang dirawat di RSUD Sungai Rumbai
Yang lebih memprihatinkan, dampak dugaan keracunan MBG ini tidak hanya menimpa siswa penerima manfaat di sekolah, tetapi meluas hingga ke keluarga dan masyarakat sekitar.
Rincian korban hingga Jumat (07/02) adalah sebagai berikut:
Siswa: 176 orang
Ibu hamil: 8 orang
Guru: 8 orang
Balita: 8 orang
Lansia: 1 orang
Ahli gizi SPPG: 1 orang
Kader: 2 orang
Keluarga ibu hamil: 9 orang
Balita keluarga ibu hamil: 2 orang
Keluarga balita: 4 orang
Penjaga sekolah: 1 orang
Ibu menyusui: 1 orang
Data tersebut memperlihatkan betapa seriusnya dampak program pemerintah yang seharusnya menjamin pemenuhan gizi, namun justru diduga berubah menjadi ancaman kesehatan massal.
Hingga berita ini ditayangkan, Pemkab Dharmasraya belum mengonfirmasi hasil laboratorium dari BPOM yang disebut-sebut sebagai penentu penyebab keracunan MBG.
Ketiadaan informasi resmi ini dinilai sebagai bentuk kelalaian dan lemahnya transparansi pemerintah daerah, mengingat peristiwa ini menyangkut keselamatan ratusan warga.
Upaya konfirmasi media ini juga dilakukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dharmasraya, Yosta Devina, terkait perkembangan hasil uji laboratorium serta langkah penanganan lanjutan.
Namun hingga berita ini dipublikasikan, yang bersangkutan belum memberikan respons, meskipun telah dihubungi.
Kekecewaan masyarakat pun memuncak. Salah seorang keluarga korban, Sinta (nama samaran) menilai pemerintah daerah tidak menunjukkan sense of crisis terhadap peristiwa tersebut.
“Sampai hari ini pemkab belum memberikan kejelasan hasil resmi penyebab keracunan dari laboratorium. Atau bisa jadi belum digarap sama sekali. Ini keracunan, bukan hal sepele yang bisa diabaikan oleh bupati,” ujarnya dengan nada geram.
Ia menambahkan, di tengah krisis kesehatan yang menimpa ratusan warga, hanya segelintir pejabat yang menunjukkan empati.
“Di saat ratusan masyarakat keracunan MBG, yang datang dan peduli hanya wakil bupati. Dia turun langsung ke lokasi. Inilah pemimpin yang punya empati,” tambahnya.
Kasus dugaan keracunan massal MBG di Sungai Rumbai kini menjadi tamparan keras bagi Pemkab Dharmasraya, khususnya dalam aspek pengawasan keamanan pangan, respons cepat terhadap krisis kesehatan, serta keterbukaan informasi publik.
Masyarakat mendesak agar hasil pemeriksaan laboratorium BPOM segera diumumkan secara terbuka dan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG, termasuk dapur penyedia dan rantai distribusinya.
Media ini akan terus memantau perkembangan kasus tersebut dan menyajikan informasi terbaru kepada publik.
Editor: Mitra Yuyanti














