Keracunan Massal MBG Sungai Rumbai, 221 Korban, Pemkab Dharmasraya Belum Buka Hasil Lab: Ada Apa?

- Penulis

Sabtu, 7 Februari 2026 - 17:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Sejumlah Siswa di ruang kesehatan diduga keracunan massal MBG Sungai Rumbai (Dok, istimewa) 

 

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Dugaan keracunan massal akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, semakin mengkhawatirkan. Hingga Jumat (07/02/2026) pukul 08.30 WIB, jumlah korban tercatat 221 orang, terdiri dari siswa, guru, ibu hamil, balita, hingga masyarakat umum.

‎Namun ironisnya, tiga hari pascakejadian pada Rabu (04/02/2026), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dharmasraya belum juga membuka hasil resmi pemeriksaan laboratorium BPOM yang diduga menjadi kunci utama untuk memastikan penyebab keracunan MBG tersebut.

‎Lambannya kejelasan ini memicu kemarahan publik dan menambah trauma keluarga korban.

‎Berdasarkan laporan perkembangan kejadian yang dihimpun media ini, dari total 221 pasien, sebanyak 15 orang masih menjalani perawatan intensif, sementara 206 orang lainnya telah menjalani rawat jalan dan dipulangkan. Tidak terdapat pasien yang saat ini berstatus observasi.

‎Adapun pasien yang masih dirawat tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni:

‎1 orang dirawat di Klinik Nurjinis

‎3 orang dirawat di Klinik PMC

‎11 orang dirawat di RSUD Sungai Rumbai

‎Yang lebih memprihatinkan, dampak dugaan keracunan MBG ini tidak hanya menimpa siswa penerima manfaat di sekolah, tetapi meluas hingga ke keluarga dan masyarakat sekitar.

‎Rincian korban hingga Jumat (07/02) adalah sebagai berikut:

‎Siswa: 176 orang

‎Ibu hamil: 8 orang

‎Guru: 8 orang

‎Balita: 8 orang

‎Lansia: 1 orang

‎Ahli gizi SPPG: 1 orang

‎Kader: 2 orang

‎Keluarga ibu hamil: 9 orang

‎Balita keluarga ibu hamil: 2 orang

‎Keluarga balita: 4 orang

‎Penjaga sekolah: 1 orang

‎Ibu menyusui: 1 orang

‎Data tersebut memperlihatkan betapa seriusnya dampak program pemerintah yang seharusnya menjamin pemenuhan gizi, namun justru diduga berubah menjadi ancaman kesehatan massal.

Baca Juga :  Publik Desak Pengusutan Tegas dan Transparan Kasus Dugaan Keracunan Massal MBG di Dharmasraya

‎Hingga berita ini ditayangkan, Pemkab Dharmasraya belum mengonfirmasi hasil laboratorium dari BPOM yang disebut-sebut sebagai penentu penyebab keracunan MBG.

‎Ketiadaan informasi resmi ini dinilai sebagai bentuk kelalaian dan lemahnya transparansi pemerintah daerah, mengingat peristiwa ini menyangkut keselamatan ratusan warga.

‎Upaya konfirmasi media ini juga dilakukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dharmasraya, Yosta Devina, terkait perkembangan hasil uji laboratorium serta langkah penanganan lanjutan.

‎Namun hingga berita ini dipublikasikan, yang bersangkutan belum memberikan respons, meskipun telah dihubungi.

‎Kekecewaan masyarakat pun memuncak. Salah seorang keluarga korban, Sinta (nama samaran) menilai pemerintah daerah tidak menunjukkan sense of crisis terhadap peristiwa tersebut.

‎“Sampai hari ini pemkab belum memberikan kejelasan hasil resmi penyebab keracunan dari laboratorium. Atau bisa jadi belum digarap sama sekali. Ini keracunan, bukan hal sepele yang bisa diabaikan oleh bupati,” ujarnya dengan nada geram.

‎Ia menambahkan, di tengah krisis kesehatan yang menimpa ratusan warga, hanya segelintir pejabat yang menunjukkan empati.

‎“Di saat ratusan masyarakat keracunan MBG, yang datang dan peduli hanya wakil bupati. Dia turun langsung ke lokasi. Inilah pemimpin yang punya empati,” tambahnya.

‎Kasus dugaan keracunan massal MBG di Sungai Rumbai kini menjadi tamparan keras bagi Pemkab Dharmasraya, khususnya dalam aspek pengawasan keamanan pangan, respons cepat terhadap krisis kesehatan, serta keterbukaan informasi publik.

‎Masyarakat mendesak agar hasil pemeriksaan laboratorium BPOM segera diumumkan secara terbuka dan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG, termasuk dapur penyedia dan rantai distribusinya.

Media ini akan terus memantau perkembangan kasus tersebut dan menyajikan informasi terbaru kepada publik.

Editor: Mitra Yuyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konfirmasi Belum Terjawab, Dua Pelaksana Blokir Kontak Wartawan — PUPR/Pemkab Bogor Diminta Buka Terang
Warga Desa Lumut Maju Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai, Polisi Lakukan Penyelidikan
Antrean BBM Mengular di SPBU, Polres Soppeng Perkuat Patroli dan Pengamanan
TANGGAPI KABUT ASAP, POLSEK PALEMBAYAN DAN SAKA BHAYANGKARA BAGIKAN MASKER GRATIS KEPADA WARGA
Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi
Kantor ATR/BPN Kabupaten Bogor Digeledah, Polisi Dalami Dugaan Mafia Tanah PTSL 2019
Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan
Berita ini 128 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 11:58 WIB

Konfirmasi Belum Terjawab, Dua Pelaksana Blokir Kontak Wartawan — PUPR/Pemkab Bogor Diminta Buka Terang

Selasa, 15 September 2026 - 16:44 WIB

Warga Desa Lumut Maju Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai, Polisi Lakukan Penyelidikan

Sabtu, 12 September 2026 - 17:23 WIB

Antrean BBM Mengular di SPBU, Polres Soppeng Perkuat Patroli dan Pengamanan

Sabtu, 12 September 2026 - 17:12 WIB

TANGGAPI KABUT ASAP, POLSEK PALEMBAYAN DAN SAKA BHAYANGKARA BAGIKAN MASKER GRATIS KEPADA WARGA

Sabtu, 12 September 2026 - 09:21 WIB

Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi

Berita Terbaru