Di Balik Isu Nonjob Pejabat Selatan: Politik Balas Dendam atau Hanya Desas-Desus?

- Penulis

Selasa, 26 Agustus 2025 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oplus_0

oplus_0

Gambar Kantor Bupati Dharmasraya (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net

 

Sejak pertama kali dilantik menjadi Bupati Dharmasraya, nama Anisa Suci Ramadani tak pernah lepas dari sorotan. Bukan hanya karena ia menjadi sosok muda yang dipercaya memimpin daerah ini, tetapi juga karena bisik-bisik yang terus berputar: bahwa ia akan melengserkan pejabat-pejabat dari selatan Dharmasraya—orang-orang yang selama ini dikenal sebagai lingkaran Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Isu itu menyusup pelan, lalu bergaung semakin keras. Dari warung-warung kopi yang tak pernah sepi obrolan, ke grup WhatsApp warga yang sibuk dengan diskusi panjang, hingga ke lorong-lorong birokrasi pemerintahan yang penuh tanda tanya. Nama demi nama disebut, seakan menunggu giliran: siapa berikutnya yang akan tersingkir?

Namun, sampai hari ini, sederet pejabat dari selatan Dharmasraya itu masih menduduki kursinya. Sebuah tanda bahwa, bagaimanapun, mereka masih dipercaya Bupati Anisa untuk ikut menjalankan roda pemerintahan di bawah kepemimpinannya.

Mereka yang Selalu Jadi Topik

Daftar nama itu bukan sembarang daftar. Mereka adalah wajah-wajah birokrasi yang setiap hari bekerja untuk pelayanan publik:

Andi Sumanto, Kepala Inspektorat Dharmasraya.

Darisman, Kepala Dinas Pertanian.

Silaturahim, Kepala Dinas Perkimtan.

M. Sukri Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan

Imam Mahfuri, Sekretaris DPRD.
Dan sejumlah pejabat lainnya yang selalu dikaitkan dengan “orangnya Sutan Riska.

“Bagi sebagian orang, mereka dianggap sebagai bayang-bayang masa lalu yang harus digeser. Bagi yang lain, mereka adalah birokrat yang masih punya kapasitas untuk bekerja, terlepas dari siapa bupati yang berkuasa.

Ketika Isu Menjadi Luka Kolektif

Gelombang isu ini memuncak ketika Adlisman dan Pariyanto lebih dulu memilih mengundurkan diri. Sejak itu, gosip soal “pembersihan” pejabat selatan semakin kencang, dan nama-nama seperti Andi Sumanto atau Darisman kerap dijadikan contoh: “Tunggu saja, sebentar lagi mereka juga akan disingkirkan,” begitu bisik-bisik yang beredar.

Baca Juga :  Wilmar dan Luka Agraria: Saat Negara Membiarkan Rakyat Terpinggirkan

Namun, kita sering lupa: di balik setiap nama, ada manusia. Ada keluarga yang ikut menanggung beban isu. Ada harga diri yang terluka ketika setiap hari mendengar dirinya disebut “hanya menunggu waktu untuk dilengserkan.”

Isu yang terus dipelihara ini bukan hanya meruntuhkan ketenangan birokrasi, tetapi juga mencederai martabat pribadi mereka. Bayangkan bagaimana rasanya bekerja setiap hari dengan stigma bahwa jabatan yang dipangku hanya sementara, bahwa apa pun kinerja yang ditunjukkan akan sia-sia, karena pada akhirnya mereka akan disingkirkan.

Bupati, Saatnya Menjawab dengan Tindakan

Seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk membuat kebijakan, tetapi juga untuk menenangkan hati yang resah. Jika benar isu ini hanya desas-desus, maka Bupati Anisa mesti berani memberikan klarifikasi yang menenteramkan. Jika pun ada langkah mutasi, semestinya disampaikan secara transparan, agar publik paham bahwa itu adalah bagian dari penyegaran birokrasi, bukan permainan politik dendam.

Karena Dharmasraya tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayang isu. Rakyat berhak atas pemerintahan yang menyejukkan, bukan yang membuat mereka curiga dan saling menduga.

Akhir yang Masih Menggantung

Hari-hari ini, Dharmasraya ibarat panggung drama yang naskahnya ditulis dengan gosip. Nama Andi Sumanto, Darisman, Silaturahim, Imam Mahfuri, dan lain-lain menjadi karakter yang selalu diperdebatkan: siapa yang akan bertahan, siapa yang akan tersingkir?

Dan di tengah semua tanda tanya itu, satu hal pasti: rakyat hanya ingin kepemimpinan yang adil, merangkul, dan tidak terjebak dalam balas dendam masa lalu.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan menulis siapa yang duduk di kursi jabatan hari ini. Sejarah hanya akan mengingat apakah Bupati Anisa Suci Ramadani mampu menjadi pemimpin yang memelihara kepercayaan, atau sekadar penguasa yang sibuk mengukir dendam.(**)

Baca Juga :  Hindari Lemas Setelah Berbuka, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Babak Baru Literasi Pasaman Barat Dimulai, Pelantikan Pengurus Forum TBM Berlanjut dengan Workshop Inspiratif
PLTU Banjarsari Mati Berbulan-bulan, CERI Desak PTBA Diaudit dan Manajemen Dievaluasi
Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian
SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!
Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami
LUAR BIASA! Di Tangan Kepsek Muharni, SD Negeri 01 Pasar Palembayan Bertransformasi, Gudang Piala Penghargaan, Sekolah Bersih dan Jadi Kebanggaan Siswa
KEREN DAN MENDIDIK! Begini Cara SMKN 1 Palembayan Terapkan Disiplin Humanis, Siswa Terlambat Tidak Dimarahi, Tapi Dibina Jadi Generasi Hebat
BIKIN BETAH! Intip Potret SMA Negeri 1 Palembayan yang Bersih, Asri dan Nyaman, Sekolah Idaman di Ujung Agam – Jumat, 2 Oktober 2026
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Babak Baru Literasi Pasaman Barat Dimulai, Pelantikan Pengurus Forum TBM Berlanjut dengan Workshop Inspiratif

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:38 WIB

PLTU Banjarsari Mati Berbulan-bulan, CERI Desak PTBA Diaudit dan Manajemen Dievaluasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:12 WIB

Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:11 WIB

SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:12 WIB

Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami

Berita Terbaru