Dharmasraya Didorong Anisa Jadi Kawasan Transmigrasi Lagi, Lalu Dimana Tempat Masyarakat Asli Bertahan Hidup?

- Penulis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 19:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Screenshot akun Facebook Release Dharmasraya (Dok, Istimewa) Dengan penuh percaya diri, ia mengusulkan agar Dharmasraya kembali ditetapkan sebagai kawasan prioritas transmigrasi nasional.

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net

 

Bupati Dharmasraya Anisa Suci Ramadhani baru saja melangkah ke Jakarta, menemui Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Selasa (26/8), Dikutip dari akun Facebook Release Dharmasraya.

Dengan penuh percaya diri, ia mengusulkan agar Dharmasraya kembali ditetapkan sebagai kawasan prioritas transmigrasi nasional. Ia menyorongkan nama besar Sitiung dan membicarakan kawasan baru Padang Hilalang II, seakan Dharmasraya adalah tanah kosong yang siap dibagi-bagi.

Ironinya, di saat bupati sibuk melobi agar orang luar kembali masuk, fakta di lapangan justru terbalik. Sekitar 40.000 hektare kebun rakyat di Dharmasraya saat ini teridentifikasi berada dalam kawasan hutan menurut peta terbaru, dikutip dari akun Facebook Release Dharmasraya lagi. Itu artinya, puluhan ribu keluarga asli Dharmasraya hidup dalam ketidakpastian hukum atas lahan yang mereka kelola turun-temurun.

Mereka, masyarakat asli, justru terjepit. Lahan yang sejak lama menjadi sumber hidup tiba-tiba dilabeli “kawasan hutan.” Ada yang sudah mengantongi sertifikat resmi, ada pula yang hanya mengandalkan tradisi ulayat. Tetapi semuanya sama: was-was menghadapi ancaman kehilangan hak.

Lantas, pertanyaannya: Mengapa bupati justru menambah beban dengan mengusulkan program transmigrasi baru? Bukankah tanda paling jelas bahwa lahan di Dharmasraya sudah tidak cukup adalah fakta rakyat harus menggarap hutan demi bertahan hidup?

Seorang tokoh masyarakat dari Kecamatan Sitiung, Syahril (53), menohok keras langkah itu.

“Dharmasraya diusulkan bupati untuk transmigrasi lagi, artinya Dharmasraya disuruh berbagi lagi dengan para transmigran. Padahal kami masyarakat asli saja sudah sampai mengelola kawasan hutan. Itu tanda lahan perkebunan untuk keluarga kami sudah kurang. Jangan dulu bicara menambah orang baru, selesaikan dulu persoalan kami yang 40 ribu hektare ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Jejak Sunyi di Balik Api : Menelusuri Bayang Korupsi Pertamina

Kritik ini bukan tanpa alasan. Mantan bupati terdahulu pun, seperti Ir. Adi Gunawan dan Sutan Riska Tuanku Kerajaan, pernah menolak keras gagasan membuka lagi transmigrasi. Bagi mereka, perkebunan Dharmasraya adalah untuk rakyat Dharmasraya, bukan untuk dibagi kepada pendatang baru. Bahkan Sutan Riska, kala menjabat bupati sekaligus Ketua Apkasi, menyatakan terang-terangan bahwa transmigrasi bukan lagi solusi untuk kesejahteraan daerah.

Namun Anisa melangkah berbeda. Ia bicara soal industrialisasi terpadu, pariwisata, dan pemicu ekonomi baru. Kata-kata yang indah di atas kertas, tetapi terasa hambar jika ditimbang dengan realitas pahit di lapangan.

Sebab, apa arti industrialisasi jika petani sawit masih dihantui status “ilegal” di kebun warisan? Apa arti pariwisata jika tanah ulayat masyarakat diseret jadi “kawasan hutan” tanpa kepastian?

Jangan sampai Dharmasraya kembali dijadikan lahan eksperimen transmigrasi dengan mengorbankan masyarakat asli yang sejak awal menjaga tanah ini.

Jika pemerintah pusat benar-benar peduli, maka prioritas pertama adalah membereskan status 40.000 hektare kebun rakyat itu. Berikan keadilan hukum, lindungi hak masyarakat, dan akui realitas sosial-ekonomi yang sudah puluhan tahun berdiri.

Sebelum berbicara tentang mendatangkan orang luar, seharusnya seorang bupati bertanya lebih dulu:

Apakah rakyat saya sudah sejahtera di atas tanahnya sendiri?

(**)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Babak Baru Literasi Pasaman Barat Dimulai, Pelantikan Pengurus Forum TBM Berlanjut dengan Workshop Inspiratif
PLTU Banjarsari Mati Berbulan-bulan, CERI Desak PTBA Diaudit dan Manajemen Dievaluasi
Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian
SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!
Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami
LUAR BIASA! Di Tangan Kepsek Muharni, SD Negeri 01 Pasar Palembayan Bertransformasi, Gudang Piala Penghargaan, Sekolah Bersih dan Jadi Kebanggaan Siswa
KEREN DAN MENDIDIK! Begini Cara SMKN 1 Palembayan Terapkan Disiplin Humanis, Siswa Terlambat Tidak Dimarahi, Tapi Dibina Jadi Generasi Hebat
BIKIN BETAH! Intip Potret SMA Negeri 1 Palembayan yang Bersih, Asri dan Nyaman, Sekolah Idaman di Ujung Agam – Jumat, 2 Oktober 2026
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Babak Baru Literasi Pasaman Barat Dimulai, Pelantikan Pengurus Forum TBM Berlanjut dengan Workshop Inspiratif

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:38 WIB

PLTU Banjarsari Mati Berbulan-bulan, CERI Desak PTBA Diaudit dan Manajemen Dievaluasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:12 WIB

Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:11 WIB

SOSOK INSPIRATIF DI PALEMBAYAN | PATUT DICONTOH!

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:12 WIB

Ketika Pikiran Presiden Sulit Dipahami

Berita Terbaru