Menu

Mode Gelap

Politik

Dekat dengan Bupati Anisa, Menpora Dito Ariotedjo Justru Tersingkir di Reshuffle Presiden

badge-check


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

Gambar Menpora Dito Ariotedjo pada Parade Talent olahraga (Dok Istimewa)

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat Mediainvestigasi.net

 

Dharmasraya kembali harus belajar pahitnya politik pusat. Nama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo—yang sempat dielu-elukan bak penyelamat dunia olahraga Dharmasraya—akhirnya tumbang di tangan Presiden Prabowo Subianto. Senin (8/9/2025), Istana Negara mengumumkan reshuffle kabinet, dan Dito termasuk salah satu menteri yang diberhentikan.

Kabar itu terasa bagai tamparan. Betapa tidak, baru dua bulan lalu, tepatnya 30 Juni 2025, Dharmasraya menggelar Parade Talenta Olahraga di Sport Center. Helikopter didatangkan, karpet merah digelar, sambutan meriah dipertontonkan. Anggaran APBD Rp140 juta melayang hanya untuk memastikan Dito merasa istimewa saat menjejakkan kaki di bumi Ranah Cati Nan Tigo.

Bupati Anisa Suci Ramadani kala itu berulang kali menegaskan, kedekatannya dengan Dito adalah “jalan emas” bagi olahraga Dharmasraya. Janji perubahan dilontarkan, mimpi besar dipompa ke ruang publik. Masyarakat dibuat percaya bahwa kedatangan Dito bukan sekadar seremoni, melainkan pintu menuju perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Namun, kini semua janji itu ambruk. Dito resmi diberhentikan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 86P Tahun 2025. Kursi Menpora bahkan masih dibiarkan kosong, sama halnya dengan posisi Menko Polhukam.

Di Jakarta, Mensesneg Prasetyo Hadi menjelaskan reshuffle ini hasil evaluasi berkelanjutan Presiden. Nama besar lain ikut tergeser: Budi Gunawan dari kursi Menko Polhukam, Sri Mulyani dari Menteri Keuangan, Abdul Kadir Karding dari Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, hingga Budi Arie Setiadi dari Menteri Koperasi. Pengganti mereka pun langsung dilantik sore ini (08/09). Sumber dari detikNews.

Tetapi tidak bagi Menpora. Posisi yang dulu dijabat Dito kini menggantung. Harapan Dharmasraya yang sempat dipupuk lewat hubungan pribadi Bupati Anisa dengan sang menteri, berubah jadi debu.

Inilah wajah nyata politik: cair, tak terduga, dan seringkali meninggalkan luka. Dharmasraya yang sudah mengorbankan anggaran besar, kini hanya bisa menggigit jari. Parade olahraga yang digadang-gadang sebagai awal kejayaan, justru berakhir sebagai monumen dari sebuah janji yang tak sempat ditepati.

Rakyat bertanya: untuk apa Rp140 juta itu dikeluarkan, bila hasilnya nihil?
Sementara di Jorong Lagan, jembatan maut menanti korban. Di Sembilan Koto, jalan-jalan penuh lobang tetap menganga. Semua masih di tempat yang sama, belum tersentuh perubahan.

Dito sudah tersingkir. Presiden telah membuat keputusan. Tetapi bagi masyarakat Dharmasraya, yang tersisa hanyalah ironi: ketika harapan ditukar dengan pesta penyambutan, dan janji perubahan terkubur bersama reshuffle kabinet. (**)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

29 April 2026 - 10:44 WIB

Dukungan Swiss Menguat: Inisiatif Otonomi Maroko Diakui Sebagai Solusi Paling Kredibel untuk Wilayah Sahara

29 April 2026 - 10:41 WIB

Inggris Tegaskan Dukungan pada Inisiatif Otonomi Maroko sebagai Basis Paling Kredibel bagi Perdamaian di Sahara

29 April 2026 - 10:38 WIB

Trending di Berita