Pemerhati Sosial Soroti Nasib Istri dan 5 Anak Meri Korban Pengeroyokan yang Meninggal: Negara Tak Boleh Tutup Mata di Pasaman Barat

- Penulis

Kamis, 22 Januari 2026 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net — Kasus pengeroyokan yang merenggut nyawa Meri (48) tak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka persoalan serius soal nasib keluarga korban.

Meri meninggalkan seorang istri dan lima orang anak yang kini kehilangan sumber nafkah utama.

Seorang pemerhati sosial dan isu perlindungan keluarga, Desi Syarif, menilai tragedi ini tidak boleh dilihat semata sebagai perkara pidana, tetapi juga sebagai krisis sosial dan kemanusiaan yang menuntut kehadiran negara.

ADVERTISEMENT

Jasa Pembuatan website profesional

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketika seorang kepala keluarga meninggal akibat kekerasan, dampaknya tidak berhenti di pemakaman. Yang paling berat justru dirasakan istri dan anak-anaknya dalam jangka panjang,” ujar pemerhati sosial tersebut saat dimintai tanggapan.

Anak Korban Terancam Jadi Korban Lanjutan

Menurutnya, tanpa intervensi yang adil dan terukur, anak-anak korban berisiko menjadi korban lanjutan dari kejahatan yang menimpa orang tuanya. Risiko itu meliputi:

  • putus sekolah,
  • tekanan psikologis,
  • kemiskinan struktural,
  • hingga kehilangan masa depan.

“Ini bukan soal belas kasihan. Ini soal hak anak dan keadilan sosial,” tegasnya.

Ia menyimpulkan bahwa untuk memastikan kehidupan yang layak dan bermartabat, keluarga korban membutuhkan dukungan jangka panjang dengan nilai keadilan mencapai Rp 3,35 hingga Rp 3,6 miliar.

Angka tersebut mencakup:

  • kebutuhan hidup dasar selama 18 tahun,
  • biaya pendidikan hingga perguruan tinggi,
  • kesehatan fisik dan mental,
  • serta kerugian imaterial akibat kehilangan kepala keluarga.

Bukan Menguangkan Nyawa, Tapi Menjaga Kehidupan

Pemerhati sosial itu menegaskan bahwa perhitungan tersebut bukan bentuk komersialisasi nyawa, melainkan pendekatan keadilan yang berorientasi pada keberlangsungan hidup manusia.

“Kalau negara hanya fokus menghukum pelaku, tapi membiarkan keluarga korban jatuh miskin, maka keadilan itu cacat,” ujarnya.

Ia menambahkan, mekanisme restitusi korban telah diatur dalam hukum Indonesia dan seharusnya dimaksimalkan, terutama dalam kasus yang melibatkan korban jiwa dan anak-anak.

Baca Juga :  Gugatan Perdata “Tipu-tipu Abunawas” Semestinya Ditolak Majelis Hakim PN Sorong, Ini Alasannya

Dorongan ke LPSK dan Lembaga Negara

Dalam pandangannya, negara melalui:

  1. LPSK,
  2. Kementerian Sosial,
  3. KPAI,
  4. dan pemerintah daerah,

harus segera hadir memberikan perlindungan konkret, bukan sekadar pernyataan simpati.

“Anak-anak ini tidak boleh membayar harga dari konflik dan kekerasan yang bukan mereka ciptakan,” katanya.

Keluarga Korban Harap Keadilan Menyeluruh

Sementara itu, pihak keluarga korban menyatakan harapannya agar proses hukum berjalan seiring dengan pemenuhan hak-hak korban.

Mereka menilai keadilan sejati bukan hanya vonis bagi pelaku, tetapi juga jaminan masa depan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kasus Meri kini menjadi cermin bagaimana penegakan hukum, keadilan sosial, dan perlindungan anak seharusnya berjalan beriringan.***

Penulis: Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Plh. Kabag PBJ Tapanuli Tengah dengan Tegas Bantah Pokja ULP Pemkab Tapanuli Tengah Makelar Proyek Tahun 2026
Diduga Tak Bisa Pertanggung Jawabkan Keuangan, Pengurus Bumdes Sisobahili Tak Hadir Saat Di Panggil Dinas PMD
Polres Tapteng Ringkus Pengedar Sabu di Pinangsori, Enam Paket Barang Bukti Diamankan
Saling Lempar Tanggung Jawab Kasus Pemerasan Rp75 Juta, Ketum PPWI Siap Seret Kapolda Sumsel ke Propam Polri
Konfirmasi Belum Terjawab, Dua Pelaksana Blokir Kontak Wartawan — PUPR/Pemkab Bogor Diminta Buka Terang
Guncang DPR! Ranny Fadh Arafiq Terseret OTT KPK Ratusan Miliar, PPWI Desak Pecat dan Miskinkan Koruptor
Polres Soppeng Amankan Terduga Pelaku Peredaran Sabu, Lima Paket Diduga Narkotika Disita
Satresnarkoba Polres Tapteng Bekuk Terduga Pengedar Sabu di Pinangsori
Berita ini 133 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 18:17 WIB

Plh. Kabag PBJ Tapanuli Tengah dengan Tegas Bantah Pokja ULP Pemkab Tapanuli Tengah Makelar Proyek Tahun 2026

Senin, 21 September 2026 - 18:13 WIB

Diduga Tak Bisa Pertanggung Jawabkan Keuangan, Pengurus Bumdes Sisobahili Tak Hadir Saat Di Panggil Dinas PMD

Senin, 21 September 2026 - 12:57 WIB

Polres Tapteng Ringkus Pengedar Sabu di Pinangsori, Enam Paket Barang Bukti Diamankan

Senin, 21 September 2026 - 05:51 WIB

Saling Lempar Tanggung Jawab Kasus Pemerasan Rp75 Juta, Ketum PPWI Siap Seret Kapolda Sumsel ke Propam Polri

Kamis, 17 September 2026 - 11:58 WIB

Konfirmasi Belum Terjawab, Dua Pelaksana Blokir Kontak Wartawan — PUPR/Pemkab Bogor Diminta Buka Terang

Berita Terbaru