Daerah

Pertanian yang Terkapar: Ketika Bencana Menghapus Harapan di Sawah Pasaman Barat Sumbar

28
×

Pertanian yang Terkapar: Ketika Bencana Menghapus Harapan di Sawah Pasaman Barat Sumbar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Situasi Bencana di Pasaman Barat, Sumatera Barat. (Foto: DOK Afdhal)

Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net Di balik deretan rumah rusak, posko pengungsian yang sibuk, dan jalan yang tertutup lumpur, ada kerugian besar lain yang tidak selalu terlihat mata: lahan pertanian yang hancur dalam sekejap.

Bencana hidrometeorologi yang menerjang Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), bukan hanya menggerus tebing dan merendam kampung, tetapi juga menelan harapan ribuan petani.

Di meja posko utama, data demi data masuk dari nagari dan kecamatan. Angka-angka itu dingin, tapi kisah di belakangnya sungguh hangat sekaligus pedih.

“Total kerugian sektor pertanian kita saat ini mencapai Rp3,94 miliar. Ini baru data sementara yang dihimpun dari lapangan,” jelas Zulkarnain, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pasaman Barat.

Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah biaya panen yang hilang, pupuk yang terbuang, benih yang hanyut, dan masa depan yang tertunda.

Sawah yang Tersapu, Jagung yang Tumbang

Bencana kali ini merusak 681,4 hektare lahan persawahan dan 70,25 hektare lahan jagung. Dari Ranah Batahan hingga Sungai Beremas, dari Kinali hingga Talamau, setiap kecamatan menyimpan kisah tentang ladang yang tak sempat diselamatkan.

  • Total Kerusakan Lahan Padi: 681,4 hektare
  1. Ranah Batahan: 298 ha
  2. Talamau: 50,7 ha
  3. Kinali: 50 ha
  4. Koto Balingka: 56 ha
  5. Sasak Ranah Pasisia: 23 ha
  6. Gunung Tuleh: 96 ha
  7. Pasaman: 40,2 ha
  8. Lembah Melintang: 65 ha
  9. Sungai Beremas: 1,5 ha
  • Total Kerusakan Lahan Jagung: 70,25 hektare
  1. Kinali: 0,75 ha
  2. Koto Balingka: 2 ha
  3. Sasak Ranah Pasisie: 17 ha
  4. Gunung Tuleh: 17,25 ha
  5. Sungai Aur: 1,5 ha
  6. Pasaman: 3,75 ha
  7. Sungai Beremas: 3 ha
  8. Luhak Nan Duo: 25 ha

Setiap hektare mewakili keluarga, dan setiap keluarga membawa beban baru setelah bencana: ketidakpastian.

Ketika Ladang Menjadi Genangan

Jika kita turun ke lapangan, persawahan di Ranah Batahan terlihat seperti danau kecil. Padi-padi yang seharusnya menguning kini rebah, bercampur lumpur. Di Luhak Nan Duo, jagung yang biasanya berdiri tegar kini patah satu per satu.

Koordinator Lapangan PMI Pasaman Barat, Ir. Rida Warsa, sempat melihat langsung kondisi itu ketika mendampingi pendistribusian bantuan.

“Hancurnya lahan pertanian itu punya efek panjang. Petani tidak hanya kehilangan panen, tapi siklus ekonomi keluarga mereka juga terputus. Ini yang perlu kita pikirkan bersama pasca-bencana,” ungkapnya.

Bupati: “Jangan biarkan bantuan menumpuk di posko.”

Rapat evaluasi kebencanaan di Posko TDB Nagari Sinuruik Talamau, Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar). Foto DOK PMI Pasaman Barat

Di tengah pendataan kerugian yang begitu besar, Bupati Pasaman Barat, Yulianto, menegaskan bahwa distribusi bantuan harus lebih cepat dan tepat sasaran.

“Bantuan sudah kami salurkan melalui posko kecamatan dan nagari. Kami tidak ingin ada bantuan menumpuk. Semua harus bergerak cepat agar warga bisa segera bangkit,” kata Yulianto.

Pemkab juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk memastikan langkah pemulihan berjalan terarah, mulai dari perbaikan jalan hingga rencana jangka panjang rehabilitasi pertanian.

Warga: “Kami mulai lagi dari nol.”

Di Jorong Pasir Bintungan, seorang petani bernama Marzuki (48) menunjukkan sawahnya yang baru saja digarap sebulan lalu. Hanya tinggal sisa batang padi yang terendam.

“Kami mulai lagi dari nol. Tapi mau bagaimana lagi? Alam sudah bicara, kita harus bangkit pelan-pelan,” ujarnya sambil mengecup keringat di pelipis.

Di seberang sana, ibu-ibu yang sebelumnya mengikuti sosialisasi PSEA dan Safeguarding oleh relawan PMI kini juga membicarakan bagaimana mereka harus mengatur ulang pendapatan rumah tangga tanpa hasil panen.

Kehilangan lahan bukan hanya kehilangan pekerjaan—itu kehilangan identitas.

Di Tengah Kerusakan, Solidaritas Tetap Mengalir

Meskipun kerugian nyaris mencapai Rp4 miliar, semangat gotong royong tetap menjadi wajah Pasaman Barat.

Warga saling membantu membersihkan saluran air, sampai membuat jalur darurat untuk mengangkut logistik.

PMI Pasaman Barat terus melakukan pendampingan psikososial, edukasi ruang aman, serta pemantauan kelompok rentan, memastikan warga tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga siap menghadapi pemulihan jangka panjang.*** Rully Firmansyah