Ketika Negara Absen di Ruang Kelas Kecil: Krisis Empati Pendidikan Dasar di Kota Tangerang

- Penulis

Sabtu, 22 November 2025 - 23:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Negara Absen di Ruang Kelas Kecil: Krisis Empati Pendidikan Dasar di Kota Tangerang

Penulis : Sri Radjasa, MBA (Pemerhati Intelijen)

Mediainvestigasi.net–Di tengah upaya pemerintah pusat memperkuat fondasi pendidikan nasional melalui Program Indonesia Pintar, kisah dari Kota Tangerang justru menampilkan kontras yang memprihatinkan. Ketika Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan adalah syarat mutlak menuju Indonesia Emas, sebagian birokrasi daerah tampak tidak bergerak seirama. Mereka berdiri di pinggir panggung, bahkan ketika masyarakat di wilayahnya sendiri tengah menorehkan prestasi tingkat nasional.

ADVERTISEMENT

Jasa Pembuatan website profesional

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ita Budiarti, seorang warga biasa dengan tekad luar biasa, selama lebih dari 15 tahun membangun PAUD Sekolah Islam Jayawinata di Kunciran Pinang. Tidak dengan modal besar, tidak dengan dukungan penuh negara, tetapi dengan keikhlasan, ketahanan, dan kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan keluar dari ketimpangan hidup. Di tangan Ita, PAUD Jayawinata tumbuh menjadi ruang belajar yang hidup, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak di lingkungannya.

Puncaknya, lembaga ini terpilih sebagai salah satu dari hanya 40 PAUD se-Indonesia yang ditetapkan Kementerian Pendidikan sebagai PAUD Model Deep Learning—predikat yang menunjukkan kemampuan pedagogis tingkat tinggi, inovasi pembelajaran, serta kesiapan untuk menjadi percontohan nasional. Sebuah kehormatan yang bahkan tidak semua kota besar mampu raih.

Namun di balik prestasi tersebut, ironi menganga. Ketika Kemendikdas mengundang seluruh pemerintah daerah untuk mendampingi verifikasi PAUD terpilih, 39 daerah hadir melalui dinas pendidikan masing-masing. Hanya Kota Tangerang yang tidak hadir. Satu kota, satu absen, satu sinyal buruk, bahwa keberhasilan warganya sendiri tidak cukup untuk membuat pemerintah daerah bergerak.

Absensi itu bukan sekadar kesalahan administratif. Ia adalah bentuk ketidakhadiran negara pada momen ketika negara seharusnya paling hadir, mendukung dan mengakui capaian pendidikan dasar. Lebih ironis lagi, ketika media meminta klarifikasi kepada Wali Kota Tangerang, tidak ada pernyataan, tidak ada penjelasan, tidak ada sikap. Hening, sebuah respons yang jauh dari esensi kepemimpinan publik.

Baca Juga :  GRIB Jaya Inhil Gelar Aksi Simpatik Dukung RUU TNI dan Bagikan Takjil

Padahal, dalam kajian-kajian pembangunan manusia, pendidikan anak usia dini adalah fondasi inti. UNESCO menegaskan bahwa investasi pada PAUD memberi dampak jangka panjang terhadap literasi, kecakapan numerasi, kemampuan berpikir kritis, dan perkembangan karakter sosial. OECD menyebutkan bahwa ketimpangan kualitas PAUD akan tercermin langsung pada ketimpangan kualitas SDM di tingkat pendidikan berikutnya. Dan Bank Dunia secara tegas menyatakan bahwa kualitas PAUD menentukan sebagian besar kesiapan anak memasuki sekolah dasar hingga 60 persen menurut laporan 2023 lalu.

Dengan fakta ilmiah sebesar itu, ketidakhadiran Dinas Pendidikan Kota Tangerang pada undangan resmi kementerian menjadi lebih dari sekadar pelanggaran etika birokrasi. Ia menunjukkan kegagalan memahami arah kebijakan nasional, sekaligus kegagalan menangkap makna filosofis pendidikan, bahwa membangun manusia bukan dimulai pada kursi kuliah, tetapi sejak masa bermain dan masa bertanya pertama anak-anak.

Dalam filsafat pendidikan, negara memiliki kewajiban moral untuk menjamin keadilan akses dan kualitas PAUD. Ketika negara gagal hadir pada tahap paling awal, maka seluruh bangunan kebijakan pendidikan berikutnya menjadi rapuh. John Dewey pernah mengingatkan, bahwa masyarakat yang meremehkan pendidikan dasar sedang memelihara krisis masa depan.

Krisis inilah yang mengintip Kota Tangerang. Ketika pemerintah daerah tidak memberi dukungan kepada lembaga berprestasi nasional, bagaimana nasib ratusan PAUD lain yang tidak memiliki predikat apa-apa? Jika yang luar biasa saja diabaikan, bagaimana yang biasa-biasa?

Pada titik ini, publik berhak bertanya, Apakah pendidikan anak usia dini benar-benar menjadi prioritas pemerintah kota?
Apakah penyelenggaraan pendidikan dipandang sebagai tugas negara, atau sekadar daftar administratif? Dan yang lebih mendasar, apakah pemerintah kota menyadari bahwa masa depan warganya dimulai dari ruang kelas kecil bernama PAUD?

Baca Juga :  Pendidikan Harus Berubah Total: 7 Gagasan Gila Jika Saya Jadi Menteri Pendidikan

Sebuah kota boleh membangun gedung tinggi, jalan lebar, taman indah, dan jembatan megah. Tetapi jika negara absen di ruang kelas kecil tempat anak-anak belajar menyebut huruf pertama nama mereka, maka sesungguhnya negara telah gagal memahami makna pembangunan itu sendiri.

PAUD Jayawinata telah membuktikan bahwa prestasi nasional tidak harus lahir dari fasilitas mewah, cukup dari komitmen yang tulus dan kerja keras tanpa henti. Sayangnya, pada momentum penting, negara justru tidak hadir.

Dan itulah krisis sebenarnya,
bukan kekurangan dana, bukan minim regulasi, melainkan ketidakpedulian.

Kota Tangerang masih memiliki waktu untuk memperbaiki langkah. Tetapi langkah itu harus dimulai dari kesadaran bahwa pendidikan dasar bukan sekadar agenda birokrasi, melainkan proyek kemanusiaan. Dan proyek kemanusiaan hanya dapat berjalan jika negara hadir, bukan sekadar di atas kertas, tetapi di ruang kelas kecil tempat masa depan bangsa sedang belajar membaca dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumira Putri Digadang Pimpin Forum TBM Pasaman Barat, Sosok Pejuang Literasi dari Pelosok yang Kini Jadi Sorotan
Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I
Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi
My Rubel Literasi Center Gebrak Festival Literasi Pasaman Barat 2026, Siap Lahirkan Generasi Emas 2045
Lampung Jadi Tuan Rumah HUT ke-19 PPWI, Husin Muchtar: Momentum Mempererat Persatuan dan Berdampak bagi Ekonomi Daerah
Gubernur Jabar Dituding Framing Profesi Wartawan, FWJ: Jangan Generalisasi dan Menghakimi
Subuh Tadah Air, Pagi Antre BBM, Siang Berburu Gas, Malam Cari Lilin: Kapan Rakyat Bisa Bernapas?
Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan
Berita ini 36 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 13:56 WIB

Sumira Putri Digadang Pimpin Forum TBM Pasaman Barat, Sosok Pejuang Literasi dari Pelosok yang Kini Jadi Sorotan

Jumat, 18 September 2026 - 18:28 WIB

Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I

Jumat, 18 September 2026 - 11:57 WIB

Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi

Jumat, 18 September 2026 - 11:51 WIB

My Rubel Literasi Center Gebrak Festival Literasi Pasaman Barat 2026, Siap Lahirkan Generasi Emas 2045

Rabu, 16 September 2026 - 15:58 WIB

Lampung Jadi Tuan Rumah HUT ke-19 PPWI, Husin Muchtar: Momentum Mempererat Persatuan dan Berdampak bagi Ekonomi Daerah

Berita Terbaru