Radiasi di Sekitar Meja Goyang Timah Diduga Sebabkan Penyakit Serius di Beltim

- Penulis

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 12:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Beltim, Novis Ezuar, saat memberikan statment bahaya radiasi meja goyang. (Dok. Istimewa)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Beltim, Novis Ezuar, saat memberikan statment bahaya radiasi meja goyang. (Dok. Istimewa)

Belitung Timur – Mediainvestigasi.net–Sebuah temuan mengejutkan muncul dari hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN): tingkat radiasi yang terdeteksi di sekitar meja goyang, alat pemurnian timah tradisional, berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat di Kabupaten Belitung Timur (Beltim).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Beltim, Novis Ezuar, ST, M.I.L, mengungkapkan temuan itu seusai audiensi antara pihaknya, Bupati Beltim, dan para pemilik meja goyang pada Kamis (2/10/2025).

“Dari penelitian BRIN, ditemukan paparan radiasi yang cukup besar di sekitar meja goyang. Ini dikhawatirkan berdampak pada kesehatan, terutama pada sel tubuh, DNA, hingga kromosom. Efeknya memang tidak instan, bisa muncul lima hingga sepuluh tahun ke depan,” jelas Novis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Radiasi dan Lonjakan Penyakit Kronis

Temuan tersebut semakin menguatkan kekhawatiran publik, terutama setelah pemerintah daerah mencatat peningkatan signifikan kasus penyakit kronis seperti kanker, gagal ginjal yang berujung pada cuci darah, serta gangguan kesehatan lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

“Di lapangan, kami temukan fakta bahwa semakin banyak warga yang menderita penyakit berat. Pak Bupati juga sudah menyinggung ini. Maka sangat mungkin, paparan radiasi dari meja goyang menjadi salah satu faktor penyebab,” tambah Novis.

Meskipun belum ada studi epidemiologis langsung yang menghubungkan kedua hal ini, korelasi antara aktivitas pertambangan timah dengan dampak kesehatan menjadi sorotan serius.

183 Meja Goyang Masih Aktif, Banyak di Tengah Pemukiman

Hasil pendataan terbaru DLH bersama perangkat desa mencatat sebanyak 183 unit meja goyang masih aktif beroperasi di Beltim. Jumlah ini berbeda dari angka sebelumnya yang sempat disebut mencapai 300 unit.

“Dulu memang disebutkan ada 300 unit, tapi belum ada data resmi. Kini setelah inventarisasi oleh para kepala desa, jumlah validnya 183,” jelas Novis.

Baca Juga :  Polisi Gerebek Penimbun BBM Subsidi di Dharmasraya, Pelaku Pakai Mobil Modifikasi

Ironisnya, sebagian besar meja goyang itu berlokasi di dekat atau bahkan di tengah pemukiman warga, menimbulkan risiko paparan radiasi tidak hanya bagi para penambang, tetapi juga masyarakat sekitar, termasuk anak-anak dan lansia.

DLH Desak Relokasi dan Penggunaan APD

Sebagai respons atas temuan ini, DLH Belitung Timur mengeluarkan rekomendasi agar seluruh aktivitas pemurnian timah menggunakan meja goyang dipindahkan ke zona pertambangan yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.

“Aktivitas seperti ini seharusnya dilakukan di kawasan yang memang diperuntukkan untuk pertambangan, bukan di pemukiman. Kami minta relokasi segera dilakukan,” tegas Novis.

Dok, foto: salahsatu lokasi meja goyang pemurnian biji timah, yang dekat dengan pemungkiman warga belum beraktifitas saat shot foto”.

DLH juga mengimbau agar seluruh pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD), terutama masker, untuk meminimalkan risiko paparan langsung. Selain itu, sisa mineral ikutan dari proses pemurnian harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman untuk menghindari pencemaran lanjutan.

Warga Jadi Korban Senyap

Di balik aktivitas pertambangan rakyat yang menjadi tulang punggung ekonomi sebagian warga, tersembunyi ancaman lingkungan dan kesehatan yang tidak kasat mata. Radiasi bukanlah ancaman yang langsung terasa. Ia bekerja secara perlahan, diam-diam merusak sel, memicu mutasi genetik, hingga memicu kanker dan penyakit kronis lain.

“Harapan kita, masyarakat yang tinggal di sekitar meja goyang tidak terkena dampak kesehatan di kemudian hari,” ujar Novis menutup pernyataannya.

Hingga kini, belum ada langkah tegas dari pemerintah pusat maupun provinsi terkait temuan ini. Namun, tekanan terhadap kebijakan relokasi dan perlindungan masyarakat dipastikan akan terus menguat, seiring kian terkuaknya fakta-fakta di lapangan.***(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polres Inhil Musnahkan Ratusan Gram Sabu dan Ribuan Ekstasi Hasil Pengungkapan 5 Kasus
Kualitas Udara Pekanbaru Kembali Baik, Polda Riau: Penanganan Karhutla Tetap Berjalan
Tangis di Rumah Duka Pilubang, Bupati JKA Hadir Menguatkan Keluarga Korban, Ingatkan Orang Tua Awasi Anak
Lewat Tengah Malam,Tim Satria Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Hiburan Organ Tunggal
Jelang HUT ke-78, Polwan Polda Riau Berjibaku Lawan Karhutla hingga Dampingi Warga Terdampak
Kadis PMD Inhil Hadiri Rapat Persiapan Pelaksanaan TMMD dan Karya Bhakti TNI
Inhil Merdeka Run 2026 Diikuti Ratusan Pelari, Semangatkan Gaya Hidup Sehat
Polsek Kuindra Pantau Perkembangan Tanaman Jagung Ketahanan Pangan di Desa Tanjung Melayu
Berita ini 27 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:25 WIB

Polres Inhil Musnahkan Ratusan Gram Sabu dan Ribuan Ekstasi Hasil Pengungkapan 5 Kasus

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:55 WIB

Kualitas Udara Pekanbaru Kembali Baik, Polda Riau: Penanganan Karhutla Tetap Berjalan

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:45 WIB

Tangis di Rumah Duka Pilubang, Bupati JKA Hadir Menguatkan Keluarga Korban, Ingatkan Orang Tua Awasi Anak

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:36 WIB

Lewat Tengah Malam,Tim Satria Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Hiburan Organ Tunggal

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Jelang HUT ke-78, Polwan Polda Riau Berjibaku Lawan Karhutla hingga Dampingi Warga Terdampak

Berita Terbaru