Foto Nyonya Rafnelly Marlon berdampingan Ketua PKK Yosta Defina (Dok, istimewa)
Dharmasraya, Mediainvestigasi.net– Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Dharmasraya kini berada di bawah kepemimpinan Ibunda Bupati Anisa Suci Ramadani. Usai dilantik di Auditorium Gubernur Sumatera Barat, (06/03) Nyonya Rafnelly Marlon resmi menjabat sebagai Ketua Dekranasda dan memikul tanggung jawab besar: membangkitkan industri kerajinan lokal agar mampu bersaing di pasar nasional, bahkan internasional.

Sebagai organisasi yang berperan dalam pembinaan perajin dan pengembangan ekonomi kreatif, Dekranasda bukan sekadar simbol seremonial. Keberadaannya harus memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) serta mengangkat identitas budaya Dharmasraya melalui produk kerajinan unggulan.
Tantangan di Depan Mata
Di bawah komando Rafnelly Marlon, Dekranasda Dharmasraya diharapkan tidak hanya menjadi wadah bagi para perajin, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman: meningkatkan daya saing produk, membuka akses pasar yang lebih luas, serta menguatkan inovasi berbasis budaya lokal.
Namun, apakah itu cukup? Sejauh mana kepemimpinannya mampu mengakselerasi sektor kerajinan Dharmasraya agar tidak hanya eksis di lingkup lokal, tetapi juga mendapat tempat di kancah yang lebih besar?
Dekranasda: Fungsi dan Harapan
Sebagai mitra strategis pemerintah, Dekranasda memiliki beberapa fungsi utama:
✅ Pembinaan Perajin – Memberikan pelatihan dan pendampingan agar produk yang dihasilkan berkualitas tinggi.
✅ Pengembangan Industri Kerajinan – Mendorong inovasi berbasis budaya lokal agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
✅ Promosi dan Pemasaran – Memperluas jangkauan produk hingga ke tingkat nasional dan internasional.
✅ Kemitraan dan Kolaborasi – Menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna mempercepat pertumbuhan industri kreatif.
Mampukah Rafnelly Marlon Mengharumkan Nama Dharmasraya?
Menjadi Ketua Dekranasda bukan hanya soal jabatan, tetapi juga soal aksi nyata. Dengan tantangan globalisasi dan digitalisasi, Dekranasda harus lebih dari sekadar penyelenggara pameran atau bazar produk lokal. Akses pasar daring, kolaborasi dengan e-commerce, serta pendampingan intensif bagi perajin harus menjadi prioritas.
Jika Rafnelly Marlon mampu menjalankan perannya dengan optimal, bukan tidak mungkin produk kerajinan Dharmasraya akan menjadi ikon baru yang membanggakan. Namun, jika hanya berputar pada kegiatan seremonial, maka harapan masyarakat akan kebangkitan ekonomi kreatif Dharmasraya bisa jadi hanya sebatas wacana.
Kini, semua mata tertuju pada gebrakan Rafnelly Marlon. Akankah kepemimpinannya membawa angin segar bagi industri kerajinan Dharmasraya? Waktu yang akan menjawab.
Editor: Yanti










