Gambar: Etanol (Dok, Freepik)
JAKARTA, MEDIAINVESTIGASI.NET – Kabar segar datang dari dunia energi hijau! Pemerintah Indonesia resmi menyiapkan Provinsi Lampung sebagai kawasan industri bioetanol.
Langkah ini sejalan dengan rencana penerapan BBM campur etanol 10% (E10) yang akan mulai berjalan pada 2027.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengungkapkan hal itu setelah melakukan kunjungan kerja ke Jepang dan bertemu langsung dengan Masahiko Maeda, CEO Toyota Motor Corporation untuk wilayah Asia.
Indonesia dan Toyota Kolaborasi Bangun Ekosistem Bioetanol
Pertemuan tersebut fokus membahas rencana investasi Toyota dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia, yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto — mendorong swasembada energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi sumber daya alam di dalam negeri.
Toyota, lewat asosiasi risetnya di Jepang yaitu RABIT (Research Association of Biomass Innovation), kini tengah mengembangkan bioetanol generasi kedua.
Bedanya dengan versi lama, bahan bakunya bukan dari tanaman pangan, tapi dari biomassa non-pangan seperti limbah pertanian dan tanaman sorgum.
“Teknologi bioetanol generasi kedua ini bisa pakai berbagai jenis limbah pertanian, cocok banget buat Indonesia yang kaya akan bahan baku seperti tebu, padi, singkong, sawit, dan aren,” jelas Todotua Pasaribu, Rabu (12/11/2025).
Lampung Dipilih Jadi Pusat Produksi Bioetanol Nasional
Berdasarkan Roadmap Hilirisasi Investasi Strategis milik Kementerian Investasi/BKPM, Lampung jadi salah satu wilayah yang disiapkan jadi sentra industri bioetanol.
Kenapa Lampung?
Punya bahan baku melimpah (tebu, singkong, sorgum)
Infrastruktur industri energi sudah berkembang
Didukung lahan pertanian dan tenaga kerja lokal
Tak cuma itu, proyek ini juga diproyeksikan bakal:
Menciptakan ribuan lapangan kerja baru
Meningkatkan kesejahteraan petani lokal
Menguatkan rantai pasok energi bersih nasional
Kolaborasi Toyota – Pertamina: Energi Hijau Made in Lampung
Todotua menegaskan, proyek perdana (pilot project) akan digarap bareng Pertamina NRE (New Renewable Energy).
Nantinya, bahan baku bakal disuplai bukan hanya dari perusahaan besar, tapi juga dari petani dan koperasi lokal.
“Kami ingin petani ikut terlibat. Jadi industri ini nggak cuma soal energi bersih, tapi juga pemberdayaan ekonomi rakyat,” ujar Todotua.
Menariknya lagi, proyek ini akan diintegrasikan dengan pembangkit geothermal dan hidrogen Pertamina, menjadikan Lampung salah satu pusat energi hijau terlengkap di Indonesia!
Toyota Antusias Investasi, Target 2026 Sudah Jalan
Melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Toyota menyatakan minat besar berinvestasi di sektor bioetanol Indonesia.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi global Toyota untuk mengamankan pasokan bahan bakar kendaraan flex-fuel mobil yang bisa memakai campuran bioetanol.
“Indonesia punya keunggulan sumber daya alam, Jepang punya teknologi. Kalau dua kekuatan ini disatukan, hasilnya bisa luar biasa untuk ketahanan energi dan ekonomi hijau,” tegas Todotua.
Pasca kunjungan dari Tokyo, Toyota dan Pertamina dijadwalkan langsung melakukan joint study dan site visit ke Lampung. Targetnya, awal 2026 perusahaan patungan (joint venture) sudah terbentuk.
Investasi Rp2,5 Triliun & Kapasitas 60.000 KL per Tahun
Untuk mendukung kebijakan BBM E10, pemerintah juga menyiapkan fasilitas produksi bioetanol berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun, dengan nilai investasi sekitar Rp2,5 triliun.
“Investasi ini bukan cuma buat kebutuhan dalam negeri, tapi juga bisa jadi peluang ekspor biofuel ke negara lain,” tutup Todotua optimistis.
Indonesia Menuju Era Energi Hijau
Langkah ini jadi sinyal kuat bahwa Indonesia mulai serius beralih ke energi bersih dan berkelanjutan.
Dengan dukungan teknologi Jepang dan sumber daya lokal yang melimpah, Lampung berpotensi jadi episentrum energi hijau di Asia Tenggara. (***)
Editor: Rully Firmansyah











