Menu

Mode Gelap

Daerah

Ketika Air Berubah Hitam: Cerita dari Bantaran Sungai Koto Balai di Dharmasraya Sumatera Barat

badge-check


					Penampakan Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Foto DOK IST Perbesar

Penampakan Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Foto DOK IST

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net Biasanya, sebelum matahari naik, suara cipratan air sudah terdengar di tepian Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Anak-anak berlarian sambil membawa ember kecil. Perempuan mencuci pakaian sambil saling bercakap.

Laki-laki yang pulang dari kebun mampir membasuh wajah dan kaki. Sungai adalah tempat mereka memulai hari.

Tetapi pagi itu berbeda.

Air yang mengalir perlahan tampak hitam legam, memantulkan langit seperti genangan oli. Bau menyengat menusuk hidung, membuat orang yang mendekat spontan menutup mulut dengan kain atau ujung kaos.

Di bawah jembatan kecil itu, seseorang berdiri diam cukup lama: MJ, 34 tahun. Ia menatap air itu seperti menatap kabar buruk.

“Air ini dulu jernih. Tempat anak saya belajar berenang. Sekarang lihat… seperti racun.”

Ia menarik napas panjang, tetapi bau itu membuatnya batuk kecil.

Sungai dan Kenangan Warga

Bagi warga Nagari Koto Padang, sungai ini bukan sekadar air yang mengalir.
Ia adalah ruang hidup.

  • Tempat mencuci pakaian bersama
  • Tempat mandi sore setelah hari panjang di sawah
  • Tempat bermain bagi anak-anak
  • Tempat memancing ikan kecil untuk lauk makan malam
  • Tempat mencuci hasil panen sebelum dibawa ke rumah

Masrul, seorang petani 54 tahun, mengingat masa-masa ketika sungai menjadi penanda ritme hidup kampung.

“Kalau suara air deras, itu tanda hujan kemarin malam. Kalau air agak keruh, berarti di hulu ada yang buka lahan. Tapi kalau hitam begini… seumur hidup tidak pernah saya lihat.”

Baginya, perubahan warna bukan sekadar peristiwa alam.
Itu adalah retaknya hubungan panjang antara warga dan sungai.

Anak-anak yang Kehilangan Tempat Bermain

Di dekat tikungan sungai, ada sebuah batu besar yang bagi anak-anak adalah “markas rahasia”. Mereka sering melompat dari batu itu ke air, tertawa sambil memercikkan air ke teman-temannya.

Kini batu itu sepi. Hanya daun kering yang menempel di permukaannya.

Diva, 10 tahun, duduk di tepi sungai sambil memegang bola plastik kecil. Ia mengelus tepi bola itu pelan.

“Biasanya kalau habis sekolah kami main di sini. Tapi Ibu melarang. Katanya airnya beracun.”

Ia menatap air hitam itu, lalu menunduk.

“Aku kangen sungai yang dulu.”

Ibu-Ibu yang Tak Lagi Berani Menyentuh Air

Bagi ibu-ibu rumah tangga, sungai adalah tempat di mana percakapan, tawa, dan gosip kampung bercampur dengan suara gemericik air.

Sekarang mereka harus mencari air bersih dari sumur yang lokasinya lebih jauh.

Yanti, 29 tahun, menunjukkan lengannya yang kemerahan.

“Ini cuma kena air sedikit ketika saya tengok kemarin. Gatal sekali. Dokter bilang mungkin karena iritasi.”

Ia kini harus membawa ember besar dari sumur setiap dua hari sekali.
Dulu ia bisa mencuci piring dan baju sambil mendengarkan cerita dari tetangga.

Sekarang kegiatan itu terasa sunyi dan melelahkan.

Nelayan Sungai yang Kehilangan Penghasilan

Ada sekelompok warga yang menggantungkan hidup pada sungai secara lebih langsung: penjala ikan sungai.

Salah satunya adalah Daman, 40 tahun, yang setiap malam turun ke sungai membawa lampu petromaks dan jala.

Malam setelah air berubah hitam, ia mencoba turun seperti biasa. Hasilnya membuatnya terpaku: hanya dua ikan kecil, keduanya tampak pucat seperti hilang warna.

“Biasanya dapat satu ember kecil. Ini cuma dua ekor. Kalau begini terus, saya makan apa?”

Ia berkata tanpa marah, hanya kecewa dan bingung. Sungai adalah penghasilannya, bukan sekadar tempat mandi dan mencuci.

Ketakutan yang Tidak Terlihat

Selain masalah fisik, ada ketakutan mental yang merayap ke warga: ketidakpastian.

  • Apa yang terjadi pada sungai mereka?
  • Apa yang masuk ke air itu?
  • Apakah berbahaya untuk kesehatan?
  • Apakah sawah yang dialiri sungai ikut tercemar?
  • Apa masa depan kampung ini?

Ketakutan paling sering muncul dari para orang tua.

Seorang ibu berbisik lirih:

“Kalau air sumur ikut terpengaruh, kami harus minum apa? Mau pindah ke mana? Ini kampung kami.”

Di banyak rumah, bisikan serupa terdengar.
Sungai bukan hanya sumber air—ia adalah sumber rasa aman.

Ketika sungai sakit, warga ikut merasa sakit.

Menunggu Jawaban

Warga kini menunggu hasil investigasi resmi. Mereka tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti, tetapi mereka ingin jawaban.

Mereka ingin kepastian bahwa hidup mereka, anak-anak mereka, dan masa depan kampung mereka aman.

MJ, yang sejak pagi berdiri memandang aliran hitam itu, akhirnya menyimpulkan dengan suara lirih:

“Kami tidak minta banyak.
Kami hanya ingin sungai kami kembali.”

Di banyak tempat, sungai hanya dilihat sebagai garis biru di peta.
Tetapi di Koto Balai, sungai adalah:

  • ruang keluarga,
  • ruang sosial,
  • ruang ekonomi,
  • dan ruang kenangan.

Air mungkin mengalir. Tetapi cerita warga tidak akan hilang. Dan hingga sungai itu kembali jernih, kisah-kisah ini akan terus menuntut perhatian.***Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polres Sibolga Gelar Jumat Curhat di Masjid Al Mujahidin, Serap Aspirasi dan Sampaikan Pesan Kamtibmas

8 Mei 2026 - 22:52 WIB

Polsek Enok Ungkap Kasus Narkotika, Dua Pengedar Shabu Diamankan

8 Mei 2026 - 22:49 WIB

80 Tahun Indonesia Merdeka, Akhirnya Listrik Menerangi Dusun Untemungkur Kolang

8 Mei 2026 - 12:10 WIB

Trending di Berita