Ketika Air Berubah Hitam: Cerita dari Bantaran Sungai Koto Balai di Dharmasraya Sumatera Barat

- Penulis

Kamis, 11 Desember 2025 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penampakan Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Foto DOK IST

Penampakan Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Foto DOK IST

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net Biasanya, sebelum matahari naik, suara cipratan air sudah terdengar di tepian Sungai Koto Balai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Anak-anak berlarian sambil membawa ember kecil. Perempuan mencuci pakaian sambil saling bercakap.

Laki-laki yang pulang dari kebun mampir membasuh wajah dan kaki. Sungai adalah tempat mereka memulai hari.

Tetapi pagi itu berbeda.

Air yang mengalir perlahan tampak hitam legam, memantulkan langit seperti genangan oli. Bau menyengat menusuk hidung, membuat orang yang mendekat spontan menutup mulut dengan kain atau ujung kaos.

Di bawah jembatan kecil itu, seseorang berdiri diam cukup lama: MJ, 34 tahun. Ia menatap air itu seperti menatap kabar buruk.

“Air ini dulu jernih. Tempat anak saya belajar berenang. Sekarang lihat… seperti racun.”

Ia menarik napas panjang, tetapi bau itu membuatnya batuk kecil.

Sungai dan Kenangan Warga

Bagi warga Nagari Koto Padang, sungai ini bukan sekadar air yang mengalir.
Ia adalah ruang hidup.

  • Tempat mencuci pakaian bersama
  • Tempat mandi sore setelah hari panjang di sawah
  • Tempat bermain bagi anak-anak
  • Tempat memancing ikan kecil untuk lauk makan malam
  • Tempat mencuci hasil panen sebelum dibawa ke rumah

Masrul, seorang petani 54 tahun, mengingat masa-masa ketika sungai menjadi penanda ritme hidup kampung.

“Kalau suara air deras, itu tanda hujan kemarin malam. Kalau air agak keruh, berarti di hulu ada yang buka lahan. Tapi kalau hitam begini… seumur hidup tidak pernah saya lihat.”

Baginya, perubahan warna bukan sekadar peristiwa alam.
Itu adalah retaknya hubungan panjang antara warga dan sungai.

Anak-anak yang Kehilangan Tempat Bermain

Di dekat tikungan sungai, ada sebuah batu besar yang bagi anak-anak adalah “markas rahasia”. Mereka sering melompat dari batu itu ke air, tertawa sambil memercikkan air ke teman-temannya.

Baca Juga :  Pertama Kali, Trans Padang Dinaiki Wakil Menteri

Kini batu itu sepi. Hanya daun kering yang menempel di permukaannya.

Diva, 10 tahun, duduk di tepi sungai sambil memegang bola plastik kecil. Ia mengelus tepi bola itu pelan.

“Biasanya kalau habis sekolah kami main di sini. Tapi Ibu melarang. Katanya airnya beracun.”

Ia menatap air hitam itu, lalu menunduk.

“Aku kangen sungai yang dulu.”

Ibu-Ibu yang Tak Lagi Berani Menyentuh Air

Bagi ibu-ibu rumah tangga, sungai adalah tempat di mana percakapan, tawa, dan gosip kampung bercampur dengan suara gemericik air.

Sekarang mereka harus mencari air bersih dari sumur yang lokasinya lebih jauh.

Yanti, 29 tahun, menunjukkan lengannya yang kemerahan.

“Ini cuma kena air sedikit ketika saya tengok kemarin. Gatal sekali. Dokter bilang mungkin karena iritasi.”

Ia kini harus membawa ember besar dari sumur setiap dua hari sekali.
Dulu ia bisa mencuci piring dan baju sambil mendengarkan cerita dari tetangga.

Sekarang kegiatan itu terasa sunyi dan melelahkan.

Nelayan Sungai yang Kehilangan Penghasilan

Ada sekelompok warga yang menggantungkan hidup pada sungai secara lebih langsung: penjala ikan sungai.

Salah satunya adalah Daman, 40 tahun, yang setiap malam turun ke sungai membawa lampu petromaks dan jala.

Malam setelah air berubah hitam, ia mencoba turun seperti biasa. Hasilnya membuatnya terpaku: hanya dua ikan kecil, keduanya tampak pucat seperti hilang warna.

“Biasanya dapat satu ember kecil. Ini cuma dua ekor. Kalau begini terus, saya makan apa?”

Ia berkata tanpa marah, hanya kecewa dan bingung. Sungai adalah penghasilannya, bukan sekadar tempat mandi dan mencuci.

Ketakutan yang Tidak Terlihat

Selain masalah fisik, ada ketakutan mental yang merayap ke warga: ketidakpastian.

  • Apa yang terjadi pada sungai mereka?
  • Apa yang masuk ke air itu?
  • Apakah berbahaya untuk kesehatan?
  • Apakah sawah yang dialiri sungai ikut tercemar?
  • Apa masa depan kampung ini?
Baca Juga :  *Pelepasan Pawai Takbiran Hari Raya Idul Adha 1446 / 2025 M, Dilepas Oleh Walikota Sibolga*

Ketakutan paling sering muncul dari para orang tua.

Seorang ibu berbisik lirih:

“Kalau air sumur ikut terpengaruh, kami harus minum apa? Mau pindah ke mana? Ini kampung kami.”

Di banyak rumah, bisikan serupa terdengar.
Sungai bukan hanya sumber air—ia adalah sumber rasa aman.

Ketika sungai sakit, warga ikut merasa sakit.

Menunggu Jawaban

Warga kini menunggu hasil investigasi resmi. Mereka tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti, tetapi mereka ingin jawaban.

Mereka ingin kepastian bahwa hidup mereka, anak-anak mereka, dan masa depan kampung mereka aman.

MJ, yang sejak pagi berdiri memandang aliran hitam itu, akhirnya menyimpulkan dengan suara lirih:

“Kami tidak minta banyak.
Kami hanya ingin sungai kami kembali.”

Di banyak tempat, sungai hanya dilihat sebagai garis biru di peta.
Tetapi di Koto Balai, sungai adalah:

  • ruang keluarga,
  • ruang sosial,
  • ruang ekonomi,
  • dan ruang kenangan.

Air mungkin mengalir. Tetapi cerita warga tidak akan hilang. Dan hingga sungai itu kembali jernih, kisah-kisah ini akan terus menuntut perhatian.***Rully Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I
Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi
My Rubel Literasi Center Gebrak Festival Literasi Pasaman Barat 2026, Siap Lahirkan Generasi Emas 2045
Hermawan Rahman Adalah Sosok Pemimpin Cerdas Masuk Pada Bursa Calon Kepala Desa (Cakades) Kota Bobong
 Komitmen Lapas Bersih Narkoba, Razia Gabungan & Tes Urin di Lapas Bukittinggi Negatif
Muhammad Herindra Pimpin PB ESI 2026–2030, ESI Soppeng Harap Prestasi Atlet Makin Bersinar.
Mini turnamen merdeka cup desa Rejosari 2026 Belitang jaya berjalan sukses dan meriah
Lampung Jadi Tuan Rumah HUT ke-19 PPWI, Husin Muchtar: Momentum Mempererat Persatuan dan Berdampak bagi Ekonomi Daerah
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 18:28 WIB

Read Aloud Pasbar Bikin Kejutan di Festival Literasi 2026, Stan Terbaik Raih Juara I

Jumat, 18 September 2026 - 11:57 WIB

Fera Susanti, S.Pd Terima Piagam Penghargaan Insan Literasi

Jumat, 18 September 2026 - 10:36 WIB

Hermawan Rahman Adalah Sosok Pemimpin Cerdas Masuk Pada Bursa Calon Kepala Desa (Cakades) Kota Bobong

Kamis, 17 September 2026 - 11:30 WIB

 Komitmen Lapas Bersih Narkoba, Razia Gabungan & Tes Urin di Lapas Bukittinggi Negatif

Rabu, 16 September 2026 - 18:53 WIB

Muhammad Herindra Pimpin PB ESI 2026–2030, ESI Soppeng Harap Prestasi Atlet Makin Bersinar.

Berita Terbaru