H. Wigiono pembaca naskah proklamasi HUT RI ke 80 di Timpeh (Dok, Mediainvestigasi.net/Yanti)
Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat
Mediainvestigasi.net – Ada momen yang tidak biasa di lapangan upacara Kecamatan Timpeh, ketika peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia digelar. Sebelum bendera Merah Putih berkibar, semangat kebangsaan tiba-tiba menguat ketika suara lantang H. Wigiono, Anggota DPRD Dharmasraya dari Fraksi PDIP, menggema membaca naskah proklamasi.
Bukan sekadar membaca teks, Wigiono membawakan naskah itu dengan penuh penghayatan, berorasi layaknya Bung Karno pada pagi 17 Agustus 1945. Nada suaranya tegas, bergetar penuh keyakinan, seolah memanggil kembali ruh proklamasi ke tengah masyarakat Timpeh.

“Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta”
Kalimat-kalimat itu tidak hanya terdengar, tapi juga terasa. Mengalir ke telinga, menembus hati para peserta upacara. Suara Wigiono berhasil menghipnotis hadirin: para pelajar, guru, perangkat nagari, tokoh masyarakat, hingga warga yang memenuhi lapangan. Semua terdiam, larut dalam getar patriotisme yang lahir dari pembacaan naskah proklamasi itu.
Di tengah formasi upacara yang dipimpin Camat Timpeh Rizki Rulien Putra sebagai inspektur upacara, Serka Yusnardi dari Koramil 03/PP sebagai perwira upacara, serta Aipda Roni Candra dari Polsek Koto Agung sebagai komandan upacara—sosok Wigiono seakan menjadi ruh yang membangkitkan jiwa kemerdekaan.
Inilah esensi upacara: bukan hanya soal barisan rapi atau simbol protokoler, tapi tentang bagaimana nilai-nilai kemerdekaan bisa dirasakan kembali. Wigiono, dengan gaya orasinya, menghadirkan nostalgia Bung Karno—proklamator sekaligus bapak bangsa yang suaranya dulu mengguncang dunia.

Patriotisme tidak selalu lahir dari medan perang. Ia juga bisa tumbuh dari sebuah upacara sederhana di lapangan kecamatan. Ketika seorang pembaca naskah proklamasi mampu menghidupkan kembali semangat 1945, maka generasi muda mendapat teladan bahwa kemerdekaan bukan sekadar angka tahun, melainkan api yang harus terus dijaga.

Lebih dari itu, usai pembacaan naskah proklamasi, ia menunjukkan sisi lain kepemimpinannya. Wigiono menyalurkan bantuan sembako kepada warga Nagari Panyubarangan dan Ranah Palabi. Sebuah wujud nyata kepedulian seorang anggota DPRD kepada rakyatnya. Bagi masyarakat, aksi sosial ini bukan hanya sekadar paket sembako, tetapi simbol bahwa kemerdekaan juga bermakna menghadirkan kesejahteraan.

Di tengah hiruk pikuk politik dan rutinitas upacara kenegaraan, Wigiono menghadirkan pesan kuat: kemerdekaan bukan hanya diperingati, tapi juga diwujudkan. Dengan suara yang menggetarkan dan tindakan yang menyentuh, ia mengajarkan bahwa semangat 17 Agustus adalah tentang keberanian, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama.
Dan pagi itu di Timpeh, semangat Bung Karno seolah hidup kembali—melalui suara dan tindakan H. Wigiono. (**)










