Menu

Mode Gelap

Opini

Gemerlap Kota, Rapuhnya Pemuda: Tiga Masalah Mendesak Hari Ini

badge-check


					Ketua umum BKPRMI Jakarta Nanang jahidin. (Dok Pribadi) Perbesar

Ketua umum BKPRMI Jakarta Nanang jahidin. (Dok Pribadi)

Oleh: Nanang Jahidin, Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta

MEDIAINVESTIGASI.NET – Perkembangan kota-kota besar, termasuk Jakarta, menghadirkan dua wajah yang tidak bisa dipisahkan. Di satu sisi, kemajuan infrastruktur, teknologi, dan ekonomi membuka peluang yang luas bagi generasi muda. Namun di sisi lain, dinamika tersebut juga melahirkan tantangan sosial yang semakin kompleks, khususnya bagi pemuda urban.

Dalam berbagai interaksi dan pembinaan yang kami lakukan di lingkungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DKI Jakarta, terlihat bahwa persoalan pemuda hari ini tidak lagi sekadar pada akses, melainkan pada arah, nilai, dan ruang aktualisasi diri. Ada tiga masalah utama yang patut menjadi perhatian bersama.

Krisis Arah di Tengah Kelimpahan Pilihan

Pemuda urban saat ini hidup dalam lingkungan yang penuh dengan pilihan. Kemudahan akses informasi, beragam peluang karier, dan arus globalisasi membuka banyak kemungkinan. Namun tanpa fondasi yang kuat, kelimpahan pilihan justru berpotensi menimbulkan kebingungan.

Fenomena ini kerap terlihat dalam bentuk ketidakjelasan tujuan hidup, kecenderungan mengikuti tren tanpa pertimbangan nilai, hingga munculnya kecemasan sosial akibat perbandingan yang berlebihan di media digital. Banyak pemuda yang bergerak cepat, tetapi tidak selalu tahu ke mana arah yang dituju.

Dalam konteks ini, penting untuk menghadirkan kembali proses pembinaan yang mampu membantu pemuda menemukan orientasi hidupnya. Lingkungan yang suportif, kehadiran mentor, serta ruang-ruang pengembangan diri berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak.

Melemahnya Dimensi Spiritual

Selain krisis arah, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah melemahnya keterikatan pemuda terhadap nilai-nilai spiritual. Ritme kehidupan kota yang serba cepat seringkali membuat dimensi ini terpinggirkan.

Padahal, nilai spiritual memiliki peran penting sebagai penyangga ketahanan mental dan moral. Tanpa fondasi ini, pemuda rentan mengalami kekosongan makna, mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan, serta kesulitan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Oleh karena itu, penguatan spiritualitas perlu dilakukan dengan pendekatan yang kontekstual. Tempat ibadah, termasuk masjid, perlu dihidupkan kembali sebagai pusat pembinaan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga edukatif dan sosial. Kegiatan yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda menjadi kunci agar nilai-nilai tersebut dapat diterima dengan baik.

Minimnya Ruang Ekspresi Positif

Masalah ketiga yang tidak kalah krusial adalah terbatasnya ruang ekspresi positif bagi pemuda. Padahal, masa muda merupakan fase dengan energi, kreativitas, dan potensi yang sangat besar.

Ketika ruang untuk menyalurkan potensi tersebut tidak tersedia atau kurang optimal, sebagian pemuda mencari alternatif yang tidak selalu konstruktif. Berbagai fenomena kenakalan remaja, termasuk tawuran dan perilaku destruktif lainnya, seringkali berakar dari tidak adanya wadah yang tepat.

Dalam hal ini, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan ruang-ruang ekspresi yang sehat dan produktif. Kegiatan sosial, olahraga, kreativitas, serta program pembinaan berbasis komunitas dan masjid dapat menjadi solusi yang efektif. Lebih dari itu, pemuda perlu dilibatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek, dalam setiap proses pembangunan.

Penutup

Tiga persoalan tersebut krisis arah, melemahnya spiritualitas, dan minimnya ruang ekspresi merupakan tantangan nyata yang dihadapi pemuda urban saat ini. Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar untuk melakukan pembenahan secara lebih terarah.

Sebagai organisasi kepemudaan berbasis masjid, BKPRMI DKI Jakarta memandang pentingnya menghadirkan ekosistem pembinaan yang holistik, menggabungkan penguatan karakter, nilai spiritual, dan pengembangan kapasitas diri. Upaya ini tentu tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

Pada akhirnya, kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh kemajuan fisiknya, tetapi juga oleh kualitas generasi mudanya. Investasi terbaik bagi masa depan adalah memastikan bahwa pemuda hari ini tumbuh sebagai pribadi yang berarah, berkarakter, dan berkontribusi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hambalang Boy dan Krisis Suksesi Elite

8 Mei 2026 - 22:45 WIB

Salah Baca Kritik

6 Mei 2026 - 20:26 WIB

Karina Rasmita Sembiring Luncurkan Buku DIALOG, Panduan Menguasai Diri dan Membangun Pengaruh

3 Mei 2026 - 10:51 WIB

Trending di Berita