Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Senin, 26 Agustus 2024, Aksi demonstrasi yang dipelopori oleh mahasiswa Dharmasraya di depan Gedung DPRD Kabupaten Dharmasraya berubah menjadi momen yang penuh emosi dan kekecewaan. Para mahasiswa yang datang dengan harapan besar untuk berdialog dengan wakil rakyat, harus menghadapi kenyataan pahit dari seluruh anggota DPRD yang baru dilantik, hanya delapan orang yang hadir untuk mendengarkan aspirasi mereka.
Momen ini terjadi kurang dari dua minggu setelah pelantikan para anggota DPRD Dharmasraya untuk periode 2024-2029 pada 14 Agustus lalu. Namun, masa jabatan yang baru dimulai ini tampaknya lebih banyak dihabiskan oleh sebagian besar anggota dewan untuk mengurus kepentingan partai daripada menjalankan tugas utama mereka sebagai wakil rakyat. Ketika mahasiswa berdiri tegak di depan gedung yang seharusnya menjadi simbol aspirasi masyarakat, hanya delapan dari seluruh anggota DPRD yang menyempatkan diri hadir.
Kehadiran yang minim ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga memanaskan situasi. Para mahasiswa, yang sudah meluangkan waktu untuk mengorganisir aksi dengan melakukan pemberitahuan resmi kepada pihak DPRD, merasa diabaikan. “Kami sangat menyayangkan hal ini, padahal kami sudah melakukan pemberitahuan secara tertulis bahwa hari ini kami akan melakukan aksi demo ke DPRD Dharmasraya. Namun aksi kami ini hanya dihadiri oleh delapan orang anggota dewan,” ucap salah satu mahasiswa dengan nada penuh kekecewaan.
Ketidakhadiran sebagian besar anggota DPRD bukan hanya soal absensi, tetapi mencerminkan apa yang mereka anggap sebagai kurangnya kepedulian terhadap suara rakyat yang mereka wakili. Seolah-olah, para anggota dewan yang tidak hadir telah terlena oleh kenyamanan kursi kekuasaan, mengesampingkan tugas utama mereka untuk mendengarkan dan menyuarakan aspirasi masyarakat, khususnya para mahasiswa yang mewakili generasi muda Dharmasraya.
Dari 30 anggota yang seharusnya hadir, hanya delapan yang benar-benar menunjukkan diri. Mereka adalah Pasdisata, Wigiono, Ade Perdana Saputra, Agusnadi, Adidas, Sugiono, Chuyank Boy, dan Emilayanti. Kehadiran mereka, meskipun diapresiasi, tidak cukup untuk meredakan kemarahan dan kekecewaan para mahasiswa yang merasa bahwa suara mereka tidak didengar dengan sepenuh hati.
Aksi demo ini menandai babak baru dalam hubungan antara mahasiswa Dharmasraya dan para wakil rakyat mereka. Ini adalah cerminan dari ketidakpuasan yang semakin membara di kalangan generasi muda terhadap para pemimpin yang mereka anggap lalai dalam menjalankan amanah. Para mahasiswa ini, yang dengan penuh semangat berdiri di depan Gedung DPRD, tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga kehadiran yang nyata dan responsif dari mereka yang telah dipilih untuk memimpin.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa jabatan sebagai anggota dewan bukanlah sekadar status, melainkan tanggung jawab besar untuk selalu mendengarkan dan merespons kebutuhan rakyat. Kekecewaan yang dirasakan para mahasiswa adalah sinyal kuat bahwa ada yang harus diperbaiki dalam cara para pemimpin daerah ini menjalankan tugas mereka.
Ke depan, aksi seperti ini bisa menjadi lebih besar dan lebih intens, seiring dengan semakin memburuknya kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin yang seharusnya mengabdi kepada mereka. Para mahasiswa Dharmasraya telah mengirimkan pesan yang jelas: mereka tidak akan tinggal diam, dan mereka menuntut para pemimpin mereka untuk hadir, mendengarkan, dan bertindak sesuai dengan harapan masyarakat.
(Yanti)











