Bupati Muda, Otot Kekuasaan, dan Hilangnya Sentuhan Empati

- Penulis

Selasa, 12 Agustus 2025 - 13:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar (Dok, Istimewa) 

 

Oleh: Mitra Yuyanti Kaperwil Sumatera Barat 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Dharmasraya, Mediainvestigasi.net – Baru beberapa bulan menapaki kursi kekuasaan, Bupati Dharmasraya Anisa Suci Ramadani sudah membuat langkah yang mencengangkan: usai salat Zuhur, ia akan melaporkan anak buahnya sendiri ke kepolisian atas dugaan penyelewengan dana di Badan Keuangan Daerah (BKD).

Tidak ada konferensi pers yang menenangkan. Tidak ada pesan pembinaan. Hanya kabar singkat dari Kabid Kominfo Amrizal, “Bupati pesan ke saya hanya siap Zuhur. Pukul berapa pastinya belum ada info lanjutan.” Sebuah instruksi yang dingin, seolah perkara ini hanyalah urusan teknis—padahal menyangkut masa depan dan martabat seorang bawahan.

Faktanya, kasus ini masih dalam tahap pemeriksaan Inspektorat. Dugaan penggandaan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) memang serius, tetapi aturan jelas memberi ruang 60 hari bagi pelaku untuk mengembalikan kerugian negara sebelum kasus berlabuh ke aparat penegak hukum.

 

Lalu mengapa bupati muda ini begitu cepat menarik pelatuk?

Bagi publik, jawabannya mulai terbentuk: Anisa memilih otot kekuasaan daripada sentuhan empati. “Belum setahun memimpin, anak buah sudah dilempar ke polisi. Besok-besok siapa lagi?” komentar sinis yang membanjiri ruang-ruang diskusi publik. Di balik dinding kantor pemerintahan, ASN berbisik dengan nada was-was—hubungan kerja bukan lagi soal kepercayaan, tapi rasa takut.

Seorang pengamat birokrasi lokal mengingatkan, “Pemimpin yang baru mulai harus membangun pondasi loyalitas, bukan ketakutan. Kalau awalnya keras seperti ini, masa jabatan lima tahun bisa terasa seperti lima dekade bagi tim kerjanya.”

Namun, kritik tak berhenti di situ. Dari lorong-lorong obrolan warung kopi hingga grup percakapan warga, muncul desas-desus lama: pencalonan Anisa di Pilkada lalu disebut-sebut hanya perpanjangan ambisi sang ayah, Marlon. Bagi yang percaya pada kabar itu, menjaga nama baik Dharmasraya bukanlah prioritasnya. Langkah melaporkan anak buah pun dilihat bukan semata penegakan disiplin, tetapi sebagai bagian dari kalkulasi politik keluarga.

Baca Juga :  Editorial | Bertahan Setelah Bencana: Sebuah Catatan Penting untuk Sumatera Barat

Masalahnya, politik tidak menunggu pembuktian. Sekali persepsi negatif melekat, citra sulit dibersihkan. Anisa kini berada di persimpangan: apakah ia akan menjadi pemimpin yang diingat karena ketegasan tanpa kompromi, atau bupati muda yang gagal membaca bahwa empati sering kali lebih kuat daripada kekuasaan?

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang paling cepat menghakimi, tapi siapa yang paling mampu menjaga kehormatan semua pihak sambil menegakkan aturan. Dan untuk itu, empati bukan pilihan—ia adalah syarat mutlak. (**)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi
Gang Sandiwara Kembali Disorot, Dugaan Perbuatan Cabul demi Keuntungan — Polsek Kemang Ditantang Buktikan Fakta
KPK Geledah Disdik Kabupaten Bogor, Dua Koper Dibawa Penyidik
Budi Arie dan Godaan Menjadi Pemerintahan Bayangan
PENUNDAAN TRANSAKSI REKENING AKTIVIS PATI: JANGAN MEMBALIK LOGIKA HUKUM DAN JANGAN GUNAKAN INSTRUMEN TPPU UNTUK MEMBATASI HAK KONSTITUSIONAL WARGA
Bogor Bersholawat 2026: Rakyat Bertahan, Pejabat Pergi — Seremoni Pemkab Bogor Dipertanyakan
Merajut Silaturahmi, Memperkokoh Ukhuwah: Presiden Komunitas Yaman Kunjungi Ketum PPWI
Bikin Gaduh! Ayat Suci Jadi Gimmick Promosi Miras, Advokat Persaudaraan Islam DKI Siap Tempuh Jalur Hukum
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi

Selasa, 1 September 2026 - 10:08 WIB

Gang Sandiwara Kembali Disorot, Dugaan Perbuatan Cabul demi Keuntungan — Polsek Kemang Ditantang Buktikan Fakta

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:41 WIB

KPK Geledah Disdik Kabupaten Bogor, Dua Koper Dibawa Penyidik

Jumat, 28 Agustus 2026 - 05:29 WIB

Budi Arie dan Godaan Menjadi Pemerintahan Bayangan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:13 WIB

PENUNDAAN TRANSAKSI REKENING AKTIVIS PATI: JANGAN MEMBALIK LOGIKA HUKUM DAN JANGAN GUNAKAN INSTRUMEN TPPU UNTUK MEMBATASI HAK KONSTITUSIONAL WARGA

Berita Terbaru