Gambar: Bendi Bukittinggi sepi penumpang (Dok, Mediainvestigasi.net/Refika)
Bukittinggi, Mediainvestigasi.net – 10 November 2025 – Dentang lonceng bendi yang dulu riuh di kawasan Tugu Tak Dikenal, Kota Bukittinggi, kini mulai jarang terdengar. Di pagi hari yang biasanya ramai oleh derap kaki kuda dan sorak wisatawan, suasana tampak lebih lengang. Para kusir bendi mengaku pendapatan mereka menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Meski begitu, semangat untuk menjaga warisan budaya khas Bukittinggi itu tak padam. Para kusir terus berupaya mempertahankan daya tarik bendi dengan berbagai cara. Ada yang menghias kendaraannya dengan warna cerah, menambahkan ornamen khas Minangkabau, bahkan mengecat kudanya agar tampak lebih menarik di mata wisatawan.
“Pendapatan menurun, tapi kami tetap berusaha membuat bendi terlihat menarik. Rumput untuk pakan kadang harus dibeli lewat jasa pencari rumput, sedangkan sagu untuk makanan tambahan kuda kami upayakan sendiri,” ujar Edi, salah seorang kusir bendi yang sudah puluhan tahun menekuni profesinya.
Edi menceritakan, hari-hari biasa seperti Senin hingga Kamis menjadi masa paling sulit. Dalam sehari, hanya satu atau dua wisatawan yang mau naik bendi. Penghasilan yang didapat bahkan tak cukup untuk biaya perawatan kuda dan bendi. Harapan baru muncul setiap akhir pekan atau libur panjang, saat wisatawan datang lebih banyak.
“Bukittinggi ini udaranya sejuk, pemandangannya indah. Tapi kalau tidak ada suasana baru di tempat wisata, pengunjung cepat bosan. Harus ada inovasi supaya mereka mau datang lagi,” tambahnya.
Di balik perjuangan itu, Edi menitipkan pesan sederhana namun sarat makna kepada setiap wisatawan yang datang ke Bukittinggi:
“Naik bendi dulu, baru ke Jam Gadang.”
Kalimat itu menggambarkan harapan agar bendi tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berwisata di kota kelahiran Bung Hatta tersebut.
Para kusir bendi berharap adanya perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah daerah, terutama dinas pariwisata, agar tradisi ini tetap lestari. Di tengah tantangan ekonomi dan menurunnya minat wisatawan, bendi bukan sekadar alat transportasi — tetapi simbol budaya, kenangan masa lalu, dan daya tarik unik yang membedakan Bukittinggi dari kota wisata lainnya.
Editor: Refika Santi











