Ajaib OTT Jaksa Terjadi Berulang Di Banten, Bekasi, Hingga Kalsel, Rahmad Sukendar Ada Pola Namun Tidak Pernah Dijelaskan ke Publik

- Penulis

Sabtu, 20 Desember 2025 - 02:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Dokumentasi Isrimewa : Rahmad (Umum BPI KPNPA RI). 

Jakarta, Media Investigasi.net, Sejarah aneh bin ajaib tentang sejarah Penangkapan seorang jaksa dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Banten kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum, padahal Kejaksaan Agung pun pernah berjanji akan menangani perkara tersebut secara transparan namun aneh bin ajaib janji itu justru menuai sorotan tajam, menyusul sederet kasus serupa yang sebelumnya juga terjadi di Bekasi dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dimana mengenai hal tersebut, Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad degan tegas mengatakan bahwa Sukendar, menilai kasus OTT jaksa yang berulang di berbagai daerah menunjukkan persoalan serius itu belum pernah diselesaikan secara tuntas dirinya menegaskan, setiap kali OTT terjadi padahal fakta melibatkan para oknum jaksa, namun parahnya pola penanganannya selalu sama fakta hanya pernyataan normatif di awal, lalu narasi berubah seiring waktu.

“Kita bicara fakta. OTT terjadi di Banten, sebelumnya di Bekasi, lalu di Kalimantan Selatan. Tapi setiap kasus, ceritanya selalu berubah. Awalnya tegas, transparan, lalu muncul versi baru. Ini sudah menjadi pola, bukan kebetulan,” tegas Rahmad.

Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad, juga menyoroti bahwa dalam kasus OTT Banten, sudah diterbitkan Surat Perintah Penyidikan (sprindik) menurutnya, sprindik adalah bukti bahwa perkara ini bukan isu ringan atau sekadar pelanggaran etik saja, melainkan dugaan kasus tersebut adalah tindak pidana serius yang harus di seriusi secara hukum, ucapnya.

“Kalau sudah ada sprindik, artinya ada peristiwa hukum yang kuat. Tapi kenapa setiap ada jaksa tertangkap OTT, narasi hukumnya selalu bergeser? Publik berhak curiga, ada apa di balik perubahan cerita itu?” ujarnya.

Baca Juga :  Penyisiran Zona Merah oleh SAR Korps Brimob Polri di Lokasi Hilangnya Iptu Tomi Marbun

Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad, juga membandingkan dengan kasus OTT di Bekasi dan Kalimantan Selatan yang juga sempat menggegerkan publik, namun dinilai tidak pernah dibuka secara terang-benderang hingga ke akar persoalan.

Sehinggah dalam hal ini Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad menilai, ketertutupan dan inkonsistensi informasi justru memperkuat dugaan adanya perlindungan internal.

“Kasus di Bekasi dan Kalsel menjadi catatan penting. Publik melihat prosesnya seolah senyap setelah ramai di awal. Ini yang membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah penegakan hukum benar-benar berjalan, atau hanya berhenti di level tertentu?” kata Rahmad. Jum’at (19/12/25)

Menurut Rahmad, jaksa adalah simbol keadilan dan garda terdepan pemberantasan korupsi. Ketika justru terjerat OTT secara berulang di berbagai daerah, maka yang dipertaruhkan bukan hanya individu, tetapi marwah institusi penegak hukum itu sendiri.

“Kalau jaksa yang seharusnya menuntut koruptor malah tertangkap OTT, ini pukulan telak bagi kepercayaan publik. Jangan sampai ada kesan hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke dalam,” tandasnya.

Rahmad mendesak agar seluruh kasus OTT jaksa—baik di Banten, Bekasi, maupun Kalimantan Selatan—ditangani secara terbuka dan konsisten, tanpa intervensi atau skenario perubahan cerita. Ia juga meminta KPK tetap memegang kendali penuh dalam proses hukum tersebut.

“Transparansi bukan sekadar janji di konferensi pers. Transparansi adalah membuka semuanya apa adanya, dari kronologi, aliran uang, sampai aktor yang terlibat. Kalau tidak, kepercayaan publik akan terus runtuh,” pungkas Rahmad.

Kasus-kasus OTT jaksa yang terjadi berulang di berbagai daerah ini menjadi ujian serius bagi reformasi hukum dan komitmen pemberantasan korupsi di Indonesia. Publik kini menunggu, apakah penegakan hukum benar-benar berjalan lurus, atau kembali berakhir dengan cerita yang berubah-ubah, tutup. Rahmad (Ketua Umum BPI KPNPA RI).

Baca Juga :  Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 Dikbud Pulau Taliabu Di Seragamkan Degan Pakaian Adat Pulau Taliabu Serta Pakaian Adat Buton

(Ketua Investigasi Indonesia Nasional **** La Omy La Tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tingkatkan Disiplin Pengendara, Satgas Gakkum Polres Sibolga Gencarkan Operasi Patuh Toba 2026
Hebat! Dua Siswa SDN 01 Pasar Palembayan Raih Juara di Pentas PAI Tingkat Kabupaten Agam
Tiga RTLH TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Rampung, Warga Kuala Lemang Sambut Hunian Baru
TNI-Polri Tancap Gas! Pengecoran Jalan TMMD ke-130 di Inhil Nyaris Rampung 100 Persen
Kapolres Soppeng Ajak Personel Hidup Sehat, Perkuat Kebersamaan dan Solideritas
Pemkab Nias Utara Gelar Rapat Bersama Pelaksanaan Inspeksi Penilaian Kesesuaian SPPG
‎Pembangunan Dikebut, SDN 05 Batang Anai Ditargatkan Rampung Akhir Tahun, Siswa Segera Kembali Belajar di Fasilitas Baru ‎
‎Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Pemkab Padang Pariaman Gelar Festival Literasi 2026 Selama Tiga Hari
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 21:47 WIB

Tingkatkan Disiplin Pengendara, Satgas Gakkum Polres Sibolga Gencarkan Operasi Patuh Toba 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 20:07 WIB

Hebat! Dua Siswa SDN 01 Pasar Palembayan Raih Juara di Pentas PAI Tingkat Kabupaten Agam

Sabtu, 7 November 2026 - 15:09 WIB

Tiga RTLH TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Rampung, Warga Kuala Lemang Sambut Hunian Baru

Sabtu, 7 November 2026 - 14:08 WIB

TNI-Polri Tancap Gas! Pengecoran Jalan TMMD ke-130 di Inhil Nyaris Rampung 100 Persen

Sabtu, 7 November 2026 - 06:40 WIB

Pemkab Nias Utara Gelar Rapat Bersama Pelaksanaan Inspeksi Penilaian Kesesuaian SPPG

Berita Terbaru