Sukses Satgas PKH yang Terciderai

- Penulis

Minggu, 19 April 2026 - 18:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sukses Satgas PKH yang Terciderai

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Mediainvestigasi.net–Keberhasilan negara kerap diukur dari angka-angka yang kasat mata, berupa luas lahan yang kembali dikuasai, nilai aset yang diselamatkan, serta besaran penerimaan yang dipulihkan.

Dalam konteks itu, kinerja Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) patut dicatat sebagai salah satu capaian penting dalam tata kelola sumber daya alam Indonesia mutakhir. Dalam waktu relatif singkat, negara berhasil menarik kembali jutaan hektare kawasan hutan dari praktik ilegal serta menyelamatkan potensi kerugian hingga ratusan triliun rupiah. Ini bukan sekadar capaian administratif, melainkan penegasan ulang atas prinsip dasar konstitusi, dimana bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Presiden Prabowo Subianto bahkan memberi tekanan normatif yang kuat dengan mengkategorikan kejahatan terhadap sumber daya alam sebagai bentuk “subversi ekonomi”. Pernyataan ini bukan retorika kosong. Dalam perspektif hukum tata negara dan ekonomi politik, perampasan sumber daya alam secara ilegal memang berpotensi merusak fondasi kedaulatan ekonomi nasional. Adagium klasik salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, menjadi relevan untuk membaca konteks ini, dimana setiap praktik yang merugikan kesejahteraan publik secara sistemik layak diposisikan sebagai ancaman serius bagi negara.

Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa keberhasilan struktural seringkali tergerus oleh deviasi perilaku aktor di dalamnya. Di sinilah paradoks itu muncul. Di tengah capaian impresif Satgas PKH, mencuat dugaan praktik rente dan “backing” oleh oknum aparat yang justru seharusnya menjadi garda depan penegakan hukum. Fenomena ini mengingatkan pada adagium lainnya yaitu ‘power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely’ Ketika kewenangan besar tidak diimbangi dengan integritas dan pengawasan ketat, maka potensi penyimpangan menjadi keniscayaan.

Baca Juga :  Bima Nasution: Membangun Cinta Langit Malam dari Lensa dan Kata

Kasus yang melibatkan PT Position dan PT Wahana Kencana Mineral di kawasan hutan Halmahera Timur menjadi ilustrasi konkret. Dugaan aktivitas pembukaan lahan dan pengambilan material tanpa dasar kerja sama yang sah semestinya menjadi pintu masuk penegakan hukum terhadap pelaku utama. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dimana pihak yang mempertahankan haknya menghadapi proses hukum, sementara pelaku utama tampak luput dari jerat. Bahkan, putusan praperadilan yang membatalkan penahanan menunjukkan adanya cacat prosedural yang serius dalam penegakan hukum.

Dalam kerangka negara hukum (rechtstaat), kondisi semacam ini tidak hanya mencederai rasa keadilan, tetapi juga merusak legitimasi institusi. Hukum kehilangan wibawa ketika ia tampak selektif, tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Dalam literatur rule of law, kepastian hukum (legal certainty), keadilan (justice), dan kemanfaatan (utility) harus berjalan seiring. Ketika satu aspek diabaikan, keseluruhan sistem akan timpang.

Lebih jauh, jika benar terdapat dugaan keterlibatan oknum dalam Satgas PKH sebagai “centeng” kepentingan tertentu, maka persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran etik, melainkan ancaman terhadap kredibilitas kebijakan negara itu sendiri. Agenda besar penyelamatan sumber daya alam berisiko tereduksi menjadi arena baru perebutan rente. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menciptakan moral hazard yang sistemik, di mana pelaku ilegal merasa tetap memiliki ruang aman selama memiliki akses kekuasaan.

Di titik ini, negara tidak boleh ragu. Prinsip fiat justitia ruat caelum (tegakkan keadilan walau langit runtuh) harus menjadi pedoman. Satgas PKH perlu menunjukkan bahwa keberhasilan yang telah dicapai bukan sekadar capaian statistik, tetapi berdiri di atas fondasi integritas. Penegakan hukum harus konsisten, tidak diskriminatif, dan bebas dari intervensi kekuasaan maupun kepentingan ekonomi.

Baca Juga :  Terlibat Cekcok, Pria di Gunung Sarik Padang Tewas Ditusuk Kerabat Sendiri

Langkah korektif dapat dimulai dari hal sederhana namun substansial, dengan transparansi proses, audit internal independen, serta penindakan tegas terhadap oknum yang terbukti menyalahgunakan kewenangan. Bahkan, dalam konteks kasus seperti yang melibatkan PT Position, tindakan administratif berupa teguran keras hingga penghentian aktivitas semestinya dapat segera dilakukan sebagai bentuk kehadiran negara. Efek jera tidak lahir dari retorika, melainkan dari konsistensi tindakan.

Pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya soal seberapa besar aset negara yang berhasil diselamatkan, tetapi juga seberapa bersih proses yang menyertainya. Satgas PKH telah membuka harapan besar bagi perbaikan tata kelola sumber daya alam Indonesia. Namun harapan itu hanya akan bertahan jika integritas dijaga sebagai fondasi utama. Tanpa itu, setiap capaian akan selalu dibayangi oleh kecurigaan, dan negara kembali berdiri di titik awal perjuangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Pembangunan Dikebut, SDN 05 Batang Anai Ditargatkan Rampung Akhir Tahun, Siswa Segera Kembali Belajar di Fasilitas Baru ‎
‎Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Pemkab Padang Pariaman Gelar Festival Literasi 2026 Selama Tiga Hari
Lestarikan Budaya Serta Dorong Ekonomi Masyarakat, Padang Pariaman Pacu Kudo 2027 Diusulkan Masuk KEN
Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara
Gerak Cepat Satgas TMMD Inhil: Dansatgas Beberkan Capaian 5 RTLH dan Semenisasi Jalan di Depan Tim Wasev
Senyum Warga Kuala Lemang Sambut Kehadiran Tim Wasev dan Dansatgas TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil
TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Resmi Dievaluasi, Wasev Tinjau Langsung Progres Sasaran Fisik di Keritang
Sorotan Jalan Menuju TPU Desa Nggele Penuh Sampah, Ketua Investigasi Nasional LPK‑GPI La Omy La Tua Desak Pemkab‑Pemdes Bertindak Cepat
Berita ini 38 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:28 WIB

‎Pembangunan Dikebut, SDN 05 Batang Anai Ditargatkan Rampung Akhir Tahun, Siswa Segera Kembali Belajar di Fasilitas Baru ‎

Jumat, 6 November 2026 - 16:22 WIB

‎Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Pemkab Padang Pariaman Gelar Festival Literasi 2026 Selama Tiga Hari

Jumat, 6 November 2026 - 16:13 WIB

Lestarikan Budaya Serta Dorong Ekonomi Masyarakat, Padang Pariaman Pacu Kudo 2027 Diusulkan Masuk KEN

Jumat, 6 November 2026 - 13:06 WIB

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara

Jumat, 6 November 2026 - 12:58 WIB

Gerak Cepat Satgas TMMD Inhil: Dansatgas Beberkan Capaian 5 RTLH dan Semenisasi Jalan di Depan Tim Wasev

Berita Terbaru