Pasaman Barat Di Antara Lumpur, Emas, dan Negara yang Datang–Pergi Pascabencana: Ketika Bertahan Hidup Bertabrakan dengan Hukum

- Penulis

Rabu, 31 Desember 2025 - 17:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerak tim gabungan membantu warga terdampak bencana di Pasaman Barat, Sumbar. (Foto: DOK Pos SAR Pasaman Barat)

Gerak tim gabungan membantu warga terdampak bencana di Pasaman Barat, Sumbar. (Foto: DOK Pos SAR Pasaman Barat)

Pasaman Barat, Mediainvestigasi.net|Sore turun di Nagari Sinuruik. A (42) duduk di ambang rumah kayu yang masih basah lumpur.

Tangannya kosong hari itu—tak ada emas, tak ada upah. Namun esok, ia mungkin kembali ke hulu. Bukan karena pilihan itu benar, melainkan karena pilihan lain belum benar-benar hadir.

Di sinilah cerita Pasaman Barat pascabadai Siklon Senyar 2025 bertemu pada satu simpul rapuh: pemulihan yang timpang.

Dari Bertahan Hidup ke Jebakan Sunyi PETI

Bagi penambang kecil, PETI bukan mimpi kemakmuran. Ia adalah strategi bertahan paling dekat saat sawah rusak, jalan terputus, dan harga kebutuhan melambung. Namun strategi ini mahal ongkosnya:

  1. tubuh yang bekerja tanpa perlindungan,
  2. risiko longsor dan racun merkuri,
  3. dan ancaman hukum yang selalu mengintai.

Ironisnya, yang paling rentan justru menanggung risiko paling besar, sementara pemodal jarang terlihat.

“Kalau berhenti, kami lapar. Kalau lanjut, kami takut,” ujar A.

Saat TDB Berakhir, Pengawasan Mengendur

Ilustrasi. Situasi Bencana di Pasaman Barat, Sumatera Barat. (Foto: DOK Afdhal)

Ketika Tanggap Darurat Bencana dicabut, posko ditutup, sorotan kamera memudar. Pada saat yang sama, warga melaporkan pergerakan logistik dan BBM yang mencurigakan menuju jalur-jalur lama PETI—terutama pada malam hari.

Tidak ada tudingan institusional di sini. Namun ketiadaan penjelasan terbuka menimbulkan pertanyaan publik: apakah pengawasan lingkungan pascabencana telah disiapkan setara dengan urgensi kemanusiaan?

Pola ini bukan baru. Dalam banyak kasus nasional, fase pascabencana kerap menjadi ruang abu-abu—saat negara beralih fokus, dan kejahatan sumber daya alam bergerak senyap.

Ancaman Nyata bagi Pemulihan

Tambang ilegal di wilayah yang baru saja dilanda banjir dan longsor berisiko:

  1. mempercepat erosi dan longsor susulan,
  2. mencemari sumber air bersih,
  3. memicu konflik sosial baru,
  4. dan menggerus efektivitas anggaran rehabilitasi.
Baca Juga :  Pemko Padang Genjot Penataan Kota Melalui Progul Padang Rancak,

Dengan kata lain, pemulihan yang tidak melibatkan pengamanan ruang hidup berisiko menanam benih bencana berikutnya.

Hukum Ada, Alternatif Harus Nyata

Secara regulasi, PETI jelas melanggar hukum. Negara memiliki mandat kuat untuk menindak.
Namun penegakan tanpa alternatif ekonomi hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Jika PETI hendak dihentikan secara berkelanjutan, maka paket kebijakan pascabencana harus utuh:

  1. Padat karya rehabilitasi (normalisasi sungai, perbaikan jalan, konservasi lereng),
  2. Pemulihan cepat pertanian dan perikanan (benih, alat, akses pasar),
  3. Usaha mikro darurat dengan pendampingan,
  4. Pengawasan tegas pada pemodal dan jalur suplai, bukan hanya pekerja.

Tanpa itu, PETI akan terus muncul sebagai jawaban keliru atas pertanyaan yang belum dijawab negara.

Suara dari Lapangan

Tokoh masyarakat setempat merangkum kegelisahan itu:

“Kami tidak membela tambang ilegal. Kami meminta jalan yang aman untuk hidup kembali.”

Pemerhati lingkungan mengingatkan:

“Bencana adalah ujian kehadiran negara. Setelah darurat dicabut, ujian sesungguhnya dimulai.”

Pilihan yang Tersisa

Di Pasaman Barat, emas bukanlah harapan, melainkan cermin dari keterdesakan. Ketika pilihan menyempit, warga memilih yang paling dekat—meski berisiko.

Bencana memang datang dari alam. Namun apakah ia berulang atau berhenti, ditentukan oleh kecepatan dan keadilan pemulihan.

Jika negara hadir hanya saat darurat, lalu absen saat hidup harus dibangun kembali, maka tambang ilegal akan terus menjadi cerita sunyi tentang bertahan hidup di tepi hukum.(***) Rully Firmansyah

Catatan Redaksi

Laporan ini memadukan feature kemanusiaan dan analisis kebijakan berdasarkan keterangan warga, pemantauan lapangan, serta kajian regulasi. Asas praduga tak bersalah dijunjung; redaksi membuka ruang klarifikasi bagi pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ditresnarkoba Polda Sumbar Ungkap Peredaran Sabu di Kota Padang, Dua Pria Diamankan dengan Puluhan Paket Barang Bukti
Program Jumat Keliling, Kapolres Banggai Kepulauan Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Cegah Kebakaran Lahan
Dugaan Kuat Karhutla Pulau Taliabu Bukan Bencana Alam, Diduga Dirancang Demi Kepentingan Tambang‑Sawit
Ketua Investigasi Nasional LPK GPI Minta Pemda Dan Penegak Hukum Jangan Hanya Padamkan Api, Telusuri Pemicu Awal Karhutla Pulau Taliabu Dugaan Ada Perencanaan Terstruktur
Penutupan Program Pelita 2026 Bupati Nias Utara Turut Hadir
IWO Soppeng Kecam Pernyataan Karyawan SPPG Lalabata, Polemik MBG Jadi Sorotan
Babak Baru Literasi Pasaman Barat Dimulai, Pelantikan Pengurus Forum TBM Berlanjut dengan Workshop Inspiratif
Warga Srijaya keluhkan irigasi air kering kepada anggota DPRD OKUT I Ketut budiyasa pada saat Reses didesa
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 19:57 WIB

Ditresnarkoba Polda Sumbar Ungkap Peredaran Sabu di Kota Padang, Dua Pria Diamankan dengan Puluhan Paket Barang Bukti

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:04 WIB

Program Jumat Keliling, Kapolres Banggai Kepulauan Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Cegah Kebakaran Lahan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Dugaan Kuat Karhutla Pulau Taliabu Bukan Bencana Alam, Diduga Dirancang Demi Kepentingan Tambang‑Sawit

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Ketua Investigasi Nasional LPK GPI Minta Pemda Dan Penegak Hukum Jangan Hanya Padamkan Api, Telusuri Pemicu Awal Karhutla Pulau Taliabu Dugaan Ada Perencanaan Terstruktur

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Penutupan Program Pelita 2026 Bupati Nias Utara Turut Hadir

Berita Terbaru