Menu

Mode Gelap

Opini

Ketika Talenta Digeser: Kasus Tom Lembong dan Luka Keadilan SDM

badge-check


					Ketika Talenta Digeser: Kasus Tom Lembong dan Luka Keadilan SDM Perbesar

Gambar ilustrasi. (Dok. Istimewa)


Oleh: Dr. Chairul Hakim, SP, SE, MM

MEDIAINVESTIGASI.NET – Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia, ada satu prinsip yang tak bisa ditawar: talenta harus dikelola, bukan digeser. Prinsip ini tak hanya berlaku dalam korporasi modern, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa, terlebih dalam sistem kenegaraan yang mengklaim menjunjung meritokrasi dan keadilan.

Namun, pekan ini, publik dikejutkan oleh kabar digesernya Thomas Trikasih Lembong, sosok yang dikenal luas sebagai ekonom progresif dan profesional berintegritas. Dulu ia pernah menjadi Menteri Perdagangan, lalu menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan terlibat dalam berbagai inisiatif reformasi ekonomi. Ia bukan figur partisan, melainkan representasi dari apa yang disebut dalam literatur SDM sebagai talent-based leadership: pemimpin karena kapasitas, bukan kedekatan. Di sinilah luka keadilan SDM itu muncul.

Ketika Kapabilitas Dikalahkan oleh Kepentingan

Dalam praktik manajemen SDM modern, pengambilan keputusan atas posisi strategis seharusnya berbasis kompetensi, kinerja, dan nilai. Ketika seseorang yang memiliki rekam jejak unggul secara tiba-tiba digeser hanya karena berbeda pandangan politik atau mengemukakan sikap kritis terhadap narasi resmi, maka sistem tersebut sedang mengorbankan logika talenta demi logika kekuasaan.

Kasus Tom Lembong bukan semata kasus personal, tetapi cermin dari kecenderungan sistemik: masih kuatnya budaya feodal dalam pengelolaan sumber daya manusia, bahkan di level tertinggi. Human capital—yang seharusnya jadi aset strategis bangsa—terkadang hanya dilihat sebagai “orang suruhan” atau “alat politik”.

Ironisnya, di saat negara-negara maju sedang berlomba menarik dan mempertahankan talenta global, kita justru menggoyang tiang yang menopang para pemikir terbaik kita sendiri.

Ketidakadilan dalam Kaca Mata SDM

Dalam pendekatan strategic human resource management, keadilan bukan hanya soal gaji yang layak, tetapi juga tentang akses terhadap peluang, perlakuan yang setara, serta jaminan bahwa keputusan organisasi tidak bias oleh faktor personal atau politis.

Apa yang menimpa Tom Lembong menciptakan preseden yang buruk: bahwa integritas dan keberanian intelektual bisa dibalas dengan pemecatan atau pengucilan. Ini adalah bentuk ketidakadilan institusional—yakni ketika sistem tidak memberikan ruang aman bagi perbedaan pikiran, padahal justru keberagaman ide itulah yang memperkuat daya inovasi organisasi dan bangsa.

Jika keadilan dalam SDM tidak ditegakkan, maka talenta terbaik akan pergi, dan yang tersisa hanyalah mereka yang pandai menjilat.

Ancaman Terhadap Generasi Muda

Lebih jauh, peristiwa ini menyampaikan pesan buruk kepada generasi muda: bahwa berpikir kritis, jujur, dan idealis bisa berujung pada pengucilan. Bahwa untuk naik dan bertahan, yang dibutuhkan bukan kapasitas, melainkan kedekatan.

Apa yang sedang kita tanamkan dalam kesadaran kolektif jika talenta-talenta unggul justru tidak dilindungi? Bagaimana kita bisa membangun bangsa berbasis human capital jika sistem kita masih membenarkan “pembunuhan karakter” atas nama kekuasaan?

Dalam situasi seperti ini, kita tidak hanya kehilangan satu Tom Lembong. Kita kehilangan ribuan anak muda yang seharusnya berani bersuara, tetapi memilih diam karena takut bernasib sama.

Membenahi Sistem, Menyembuhkan Luka

Sebuah sistem SDM yang sehat menjamin bahwa perbedaan pandangan tidak menjadi dasar diskriminasi. Justru pemikiran alternatif perlu dipelihara agar organisasi—termasuk negara—tidak menjadi menara gading yang rapuh. Kita perlu menegakkan budaya open dialogue, merit-based promotion, dan psychological safety—di mana orang merasa aman untuk menyampaikan pikiran, bahkan yang tak populer.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak Tom Lembong. Bukan hanya karena kecakapannya, tetapi karena keberanian intelektual dan integritasnya. Dan jika bangsa ini tidak mampu melindungi orang-orang seperti dia, maka kita sedang menggali lubang pengkhianatan terhadap talenta kita sendiri.

Keadilan adalah Pondasi Talenta

Keadilan bukan kemewahan. Ia adalah prasyarat. Tanpa keadilan, SDM unggul hanya akan menjadi narasi indah dalam dokumen perencanaan, bukan realitas.Tom Lembong telah menunjukkan bahwa menjadi cerdas dan jujur itu mungkin. Namun sistem harus membuktikan bahwa menjadi jujur dan cerdas juga layak dipertahankan.

Kalau tidak, maka kita sedang menanamkan pesan sunyi: lebih baik diam dan patuh, daripada bersuara dan tersingkir. Dan dari pesan seperti itulah, bangsa-bangsa besar mulai runtuh.

Editor: Shendy Marwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. **mitolyn**

    Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

29 April 2026 - 10:44 WIB

Sultaf Restaurant Yogyakarta Restoran Masakan Pakistan & Yaman Terbaik di Sleman

29 April 2026 - 10:26 WIB

Ombudsman dalam Jerat Mafia

20 April 2026 - 16:16 WIB

Trending di Berita