Oleh: Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta, Nanang Jahidin, S.Sos., M.Sos.
MEDIAINVESTIGASI.NET – Idul Adha bukan sekadar momentum ritual keagamaan tahunan. Di balik gema takbir dan prosesi penyembelihan hewan kurban, terdapat sistem sosial-ekonomi yang luar biasa kuat. Idul Adha menghadirkan ekosistem gotong royong yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga kota, sekaligus menjadi solusi nyata dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi global, meningkatnya harga pangan, hingga persoalan stunting dan gizi buruk yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa, Idul Adha sebenarnya menawarkan model distribusi kesejahteraan yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman.
Kurban bukan hanya ibadah personal, tetapi instrumen ekonomi kerakyatan.
Setiap tahun, perputaran ekonomi dari Idul Adha melibatkan banyak sektor. Peternak lokal mendapatkan pasar besar untuk sapi, kambing, dan domba. Pedagang pakan ternak ikut bergerak. Jasa transportasi hewan hidup meningkat. Tukang jagal, panitia masjid, pelaku UMKM pengolahan makanan, hingga pedagang bumbu dan perlengkapan kurban ikut merasakan dampaknya.
Artinya, Idul Adha menciptakan efek domino ekonomi yang nyata.
Di desa-desa, banyak peternak rakyat menggantungkan harapan besar pada momentum kurban. Hewan yang dipelihara berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun akhirnya memiliki nilai ekonomi tinggi saat Idul Adha tiba. Perputaran uang yang terjadi bukan hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi langsung menyentuh ekonomi akar rumput.
Inilah wajah ekonomi berbasis solidaritas.
Lebih dari itu, Idul Adha juga memiliki dampak sosial yang sangat besar dalam aspek pemenuhan gizi masyarakat. Tidak semua keluarga mampu mengonsumsi daging secara rutin. Bahkan di beberapa wilayah, daging menjadi makanan “mewah” yang hanya hadir pada momen tertentu. Kehadiran kurban membuat masyarakat kecil, kaum dhuafa, pekerja harian, hingga anak-anak mendapatkan akses protein hewani yang berkualitas.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, ini sangat penting.
Protein hewani memiliki peran besar dalam pertumbuhan anak, peningkatan daya tahan tubuh, perkembangan otak, dan pencegahan stunting. Maka ketika jutaan paket daging kurban dibagikan secara masif kepada masyarakat, sesungguhnya Idul Adha sedang menghadirkan distribusi gizi nasional berbasis gotong royong umat.
Bukan hanya soal berbagi daging, tetapi berbagi kualitas hidup.
Yang menarik, sistem Idul Adha berjalan tanpa paksaan negara, tanpa birokrasi panjang, dan tanpa mekanisme rumit. Semua bergerak atas dasar keimanan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi. Masjid menjadi pusat distribusi sosial yang hidup. Pemuda masjid menjadi motor pelayanan masyarakat. Warga saling membantu dalam proses penyembelihan hingga pendistribusian.
Di sinilah kita melihat bahwa masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.
Karena itu, momentum Idul Adha seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas masjid, hingga dunia pendidikan perlu menjadikan Idul Adha sebagai inspirasi membangun ekonomi sosial yang berkeadilan.
Bayangkan jika semangat distribusi dan gotong royong Idul Adha diterapkan dalam penguatan ketahanan pangan, koperasi masjid, pemberdayaan peternak lokal, dan gerakan perbaikan gizi masyarakat sepanjang tahun. Maka masjid akan menjadi pusat peradaban yang benar-benar hadir menjawab kebutuhan rakyat.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan infrastruktur fisik semata. Ia membutuhkan generasi yang sehat, kuat, peduli, dan memiliki solidaritas sosial tinggi. Dan nilai-nilai itu sejatinya sudah diajarkan dalam Idul Adha.
Idul Adha mengajarkan bahwa keberkahan lahir ketika yang mampu membantu yang lemah, ketika ibadah melahirkan kepedulian, dan ketika agama hadir untuk menguatkan kehidupan sosial masyarakat.
Karena sejatinya, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Tetapi tentang menghidupkan kemanusiaan.













