Diduga Terorganisir, Kayu Hutan Lindung Mengalir dari Rantau Bakung Inhu, Siapa Bermain?

- Penulis

Jumat, 20 Februari 2026 - 21:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi Foto Saat di Lokasi Tempat biasa membuat kayu potong sesuai order 

INHU. MediaInvestigasi.Net – Aktivitas pengeluaran kayu dari kawasan hutan lindung di Desa Rantau Bakung, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), diduga berlangsung secara terstruktur dan berulang. Modusnya terbilang rapi dan senyap: kayu dikeluarkan melalui jalur perairan kecil (parit), lalu diangkut menggunakan sepeda kayuh menuju titik aman sebelum dibawa ke lokasi pengolahan dan pemasaran.

Informasi yang dihimpun MediaInvestigasi.Net di lapangan menyebutkan, aktivitas tersebut diduga berlangsung pada malam hari untuk menghindari razia aparat penegak hukum. Kayu yang telah dipotong dari dalam kawasan hutan disebut-sebut telah memiliki “pemilik” sebelum keluar dari lokasi.

Seorang warga Desa Rantau Bakung, Rian(inial), mengungkapkan bahwa penindakan sebenarnya bukan tidak pernah dilakukan. Namun para pelaku dinilai lihai membaca situasi.

“Bukan tanpa pengawasan dari aparat. Razia sering ada. Tapi mereka curi-curi waktu, biasanya main malam supaya tidak terpantau,” ujar Rian kepada MediaInvestigasi.Net, Rabu (19/02/26).

Ironisnya, kayu-kayu tersebut diduga bisa keluar melewati areal perkebunan dengan pengawasan oknum security perusahaan. Dugaan ini memunculkan pertanyaan serius soal pengawasan internal perusahaan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Pengakuan lain datang dari Prio, warga Desa Pekan Heran, Dusun Durian. Ia mengaku sebagai pihak yang mengelola kayu setengah jadi yang dibawa para pembecak dari dalam kawasan hutan lindung.

Kayu dengan panjang sekitar 4 meter, lebar 25 inci dan tebal 4 inci itu kemudian diolah menjadi papan dan broti sesuai pesanan.

“Kami cuma gesek dan bentuk sesuai permintaan big bos panglong. Setelah siap, mereka datang jemput,” ungkap Po (inisial) melalui sambungan telepon.

Sementara itu, At (inisial), warga Pekan Heran lainnya, secara terbuka menyebut adanya jaringan pemodal di balik aktivitas tersebut. Ia mengklaim setidaknya ada 15 unit sinso beroperasi di dalam hutan.

Baca Juga :  Disesalkan! Barang Bukti Tak Dikembalikan, Terpidana Agus Komplain ke Kajari Inhil

“Kayu itu sudah bertuan. Ada pemodal yang tanggung biaya pekerja selama di dalam hutan sampai hasilnya jadi uang,” jelas (At) yang juga tau persis masalah penebangan hutan tersebut.

Dari penelusuran MediaInvestigasi.Net, kawasan yang diduga dirambah merupakan hutan penyangga yang berada di perbatasan tiga kabupaten: Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Pelalawan. Jika benar berstatus hutan lindung, maka aktivitas penebangan dan distribusi kayu tanpa izin jelas merupakan pelanggaran hukum serius.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin aktivitas dengan belasan unit mesin sinso bisa berjalan tanpa terdeteksi? Siapa pemodal besar di balik jaringan ini? Dan sejauh mana pengawasan aparat serta pihak perusahaan yang arealnya berbatasan langsung dengan jalur distribusi kayu?

Dokumentasi foto kendaraan sepeda motor yang biasa digunakan untuk membawa kayu kayu

MediaInvestigasi.Net mendesak aparat penegak hukum di Indragiri Hulu untuk mengusut tuntas dugaan praktik ilegal ini, termasuk menelusuri aliran dana dan aktor intelektual di baliknya. Penindakan tidak boleh berhenti pada pekerja lapangan semata.

Hutan lindung bukan sekadar hamparan kayu bernilai ekonomis, tetapi penyangga ekosistem yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat lintas kabupaten.

Hingga berita ini diterbitkan, MediaInvestigasi.Net masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak kepolisian dan manajemen perusahaan perkebunan yang disebut dalam informasi warga.(Nda/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tirai Gelap di Ruang Sidang PN Cibinong: Ketika Majelis Hakim Menjadi Benteng Pembungkaman Pers*
PWI OKU Timur mengecam keras Pelaku Pemukulan Wartawan di Palembang, Usut tuntas Pelaku
Dugaan Perundungan Siswa Alexandria Islamic School, Kuasa Hukum Ungkap Sejumlah Persoalan
Uang Publik Dipertanyakan, Warga Dadok Tunggul Hitam Tuntut LPJ dan Audit Total
DUGAAN PUNGLI BERKEDOK UANG KOMITE DI PALEMBAYAN
SETELAH VIRAL PLESTERAN IRIGASI MONDAK PILADANG BISA DIKUPAS TANGAN, PEMBORONG DIDUGA ALIHKAN ISU DAN TANTANG WARTAWAN: “TUNGGU SAYA DI PALEMBAYAN
WADUH! Proyek Irigasi Mondak Piladang Belum Selesai Dikerjakan Sudah Rusak, Pengerjaan Diduga Tidak Sesuai SOP Konstruksi
Berita ini 246 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Tirai Gelap di Ruang Sidang PN Cibinong: Ketika Majelis Hakim Menjadi Benteng Pembungkaman Pers*

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:03 WIB

PWI OKU Timur mengecam keras Pelaku Pemukulan Wartawan di Palembang, Usut tuntas Pelaku

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:25 WIB

Dugaan Perundungan Siswa Alexandria Islamic School, Kuasa Hukum Ungkap Sejumlah Persoalan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Uang Publik Dipertanyakan, Warga Dadok Tunggul Hitam Tuntut LPJ dan Audit Total

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:05 WIB

DUGAAN PUNGLI BERKEDOK UANG KOMITE DI PALEMBAYAN

Berita Terbaru