DaerahHukum

Dari Modus Barcode hingga Dugaan Mafia Bertopeng “Pemodal Lokal”

363
×

Dari Modus Barcode hingga Dugaan Mafia Bertopeng “Pemodal Lokal”

Sebarkan artikel ini

Menelusuri Bocornya Solar Subsidi di Pasaman Barat Sumbar

Ilustrasi penyelewengan Solar Subsidi. Foto: Generate by AI

SIMPANG AMPEK,
MEDIAINVESTIGASI.NET– Pasaman Barat, Sumatera Barat kembali jadi sorotan. Bukan soal sawit, bukan soal tambang legal—melainkan soal solar subsidi yang terus-menerus “hilang” di tengah jalan.

Dari hasil penelusuran dan wawancara dengan warga, aktivis lingkungan, hingga sopir pengangkut, kasus ini punya pola yang identik dengan temuan di Rembang, Jawa Tengah, tempat sebuah SPBU sampai dijatuhi sanksi Pertamina karena terbukti menjual solar subsidi lewat modus barcode berulang alias “ngangsu solar.”

Bedanya, di Pasaman Barat, permainan ini disebut-sebut lebih rapi, lebih berlapis, dan diduga dimainkan oleh oknum pemodal yang memiliki beking kuat dari aparat tertentu.

Dan taruhannya bukan lagi hitungan liter—melainkan miliaran rupiah setiap tahun.

BACA JUGA: Antrean Panjang di SPBU Marioriawa, Warga Keluhkan Terlambatnya Pasokan BBM

Modusnya Sama, Jaringannya Berbeda: “Ngangsu Solar” Ala Sumbar

Jika di Rembang masalahnya adalah barcode dipakai berkali-kali dalam waktu berdekatan, di Pasaman Barat modusnya sedikit “dipoles”.

Namun roh kejahatannya sama: mengambil solar subsidi lewat jalur yang sebenarnya tidak berhak.

Modus lapangan yang ditemukan:

  • SPBU menyediakan “slot khusus” bagi pembeli tertentu
  • kendaraan modifikasi keluar-masuk berulang dengan barcode berbeda
  • solar dikumpulkan di tandon (drum, toren, atau tangki timbun)
  • solar kemudian disuplai ke tambang emas ilegal (PETI) dan alat berat

Beberapa warga mengaku sudah biasa melihat antrean roda empat yang “tidak wajar”.

“Mobilnya itu-itu saja, tiap hari. Tapi platnya sering beda,” kata seorang warga Simpang Ampek yang tak mau disebutkan namanya.

Bukan Sekadar Antrean Panjang: Ada Keterlibatan Pemodal

Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa aliran solar subsidi yang bocor tidak berjalan sendiri.

Ada pola pendanaan, distribusi, hingga perlindungan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Indikasi keterlibatan pemodal:

  1. sopir pengangkut digaji per ritase
  2. ada mandor lapangan yang mengatur antrean
  3. alat berat PETI beroperasi nonstop tanpa kehabisan suplai
  4. saat razia dilakukan, operasi langsung berhenti seketika

Beberapa aktivis lokal menduga ada beking dari oknum APH di daerah, meskipun belum ada bukti hukum terbuka yang menjerat pihak-pihak tersebut.

PULL QUOTE

“Selama PETI hidup, artinya ada solar subsidi yang bocor. Selama solar bocor, pasti ada orang kuat di belakangnya.”

Berapa Banyak Solar yang Bocor? Hitungannya Mengejutkan

Untuk masyarakat umum, solar subsidi mungkin hanya soal antrian panjang.
Tapi untuk para pemain PETI, ini adalah bahan bakar utama mesin uang mereka.

Konsumsi solar PETI per hari (per lokasi):

  • Excavator: ± 250–300 liter
  • Dompeng/genset: ± 40–80 liter
    Total rata-rata: ± 350 liter/hari

Di Pasaman Barat diperkirakan ada 20 titik PETI aktif (angka konservatif).

Total konsumsi solar PETI:

  • 7.000 liter per hari
  • 210.000 liter per bulan
  • 2.520.000 liter per tahun

Dan hampir semuanya tidak melalui jalur legal.

Analisis Kerugian Ekonomi: Negara Rugi, Mafia Untung Miliaran

Dengan asumsi harga jual lapangan Rp 10.000/liter, berikut hitungannya:

Nilai ekonomi solar ilegal:

  • 2.520.000 liter × Rp 10.000
    = 💰 Rp 25,2 miliar per tahun

Kerugian negara dari subsidi:

  • Selisih harga subsidi vs harga lapangan ≈ Rp 3.200/liter
    2.520.000 × Rp 3.200
    = 💸 Rp 8,06 miliar per tahun

Itu baru dari 20 titik PETI.

Jika titiknya 30? 40?
Angka kerugiannya bisa menggila.

Dampak Nyata: Nelayan Merugi, Petani Tercekik, Harga Pangan Naik

Solar subsidi yang bocor membuat sektor yang benar-benar bergantung pada BBM murah justru kesulitan.

Dampaknya:

  1. Nelayan rugi: biaya melaut melonjak 30–60%
  2. Petani tertekan: harga produksi naik karena genset butuh solar
  3. Transportasi umum collapse: angkot dan travel kehabisan BBM
  4. Lingkungan rusak: PETI meninggalkan sedimentasi, banjir, dan lubang maut
  5. Harga bahan pokok terkerek naik
  6. Warga bayar mahal atas permainan segelintir orang.

Opini Publik: Masyarakat Tahu, Tapi Tak Mampu Melawan

Di media sosial, warga Pasaman Barat kerap bertanya-tanya mengapa:

  • SPBU tertentu selalu kehabisan solar
  • antrean panjang hanya terjadi pada jam tertentu
  • mobil yang antre “itu-itu saja”

Sebagian warga bahkan mengeluhkan:

“Kami mau beli solar subsidi aja susah. Tapi excavator PETI gak pernah berhenti kerja.”

Opini publik semakin kuat:

Ada yang sengaja membiarkan kebocoran ini terjadi.

Historiografi Singkat: PETI dan Solar Subsidi, Kisah Lama yang Tak Pernah Berakhir

Sejak era 2000-an awal, hubungan PETI–solar subsidi sudah seperti dua sisi mata uang.
Beberapa kasus lama menunjukkan pola serupa:

  • SPBU “bandel” bekerja sama dengan pengepul
  • solar ditimbun dalam tandon ilegal
  • jaringan distribusi memakai mobil modifikasi
  • beking aparat membuat operasi ini sulit diberantas

Artinya, fenomena ini bukan isu baru—tetapi jaringan lama yang diperbarui.

Siapa yang Harus Bertindak?

Pasaman Barat perlu tindakan tegas:

  • audit mendalam terhadap SPBU
  • pengawasan barcode digital lebih ketat
  • penindakan terhadap beking, bukan hanya sopir dan operator
  • penutupan lokasi PETI yang memakai solar subsidi

Karena selama pola ini tidak diputus, solar subsidi akan tetap bocor, PETI tetap hidup, dan masyarakat tetap jadi korban.

Dan negara akan terus kehilangan miliaran rupiah setiap tahun.***