Berita

Beda Pilihan Boleh, Ukhuwah Tetap Dipelihara Pemilihan Wali Nagari Bukan Ajang Permusuhan

79
×

Beda Pilihan Boleh, Ukhuwah Tetap Dipelihara Pemilihan Wali Nagari Bukan Ajang Permusuhan

Sebarkan artikel ini

Beda Pilihan Boleh, Ukhuwah Tetap Dipelihara
Pemilihan Wali Nagari Bukan Ajang Permusuhan

Oleh: Rakiman

Pasaman Raya.- Mediainvestigasi net.-
Pemilihan Wali Nagari bukan sekadar proses demokrasi untuk memilih seorang pemimpin. Lebih dari itu, ia merupakan cermin kedewasaan masyarakat dalam menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan merawat nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Tahapan pendaftaran bakal calon Wali Nagari di Kabupaten Pasaman Barat telah resmi dimulai. Sebanyak 87 nagari akan melaksanakan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) secara serentak pada tahun 2026. Sejumlah tokoh masyarakat telah menyatakan kesiapannya untuk mengabdi, bahkan sebagian telah mendaftarkan diri kepada panitia pemilihan di nagari masing-masing.
Pelaksanaan Pilwana tahun ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya menggunakan sistem e-voting, sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Bupati Pasaman Barat. Inovasi ini diharapkan mampu mewujudkan proses pemilihan yang lebih efektif, transparan, akuntabel, serta memperkuat kualitas demokrasi di tingkat nagari.
Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keberhasilan demokrasi tetap ditentukan oleh kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan pilihan. Teknologi hanya menjadi alat, sedangkan hati nurani manusialah yang menentukan arah perjalanan demokrasi.
Di Minangkabau, nagari bukan hanya wilayah administratif. Nagari adalah rumah bersama, tempat bertemunya adat, agama, budaya, dan hubungan kekeluargaan yang telah terjalin sejak lama. Di dalamnya terdapat hubungan mamak dan kemenakan, sanak saudara, kaum, suku, sahabat, hingga tetangga yang setiap hari saling bertegur sapa.
Karena itulah, perbedaan pilihan politik jangan sampai meruntuhkan persaudaraan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Jangan sampai pesta demokrasi yang seharusnya menghadirkan kegembiraan justru meninggalkan luka sosial yang sulit disembuhkan.
Perbedaan pilihan adalah keniscayaan dalam demokrasi. Akan tetapi, permusuhan bukanlah konsekuensi yang harus diterima. Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang menghasilkan kebencian, melainkan demokrasi yang mampu memperkuat persatuan meskipun pilihan berbeda.
Peran para Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting. Mereka diharapkan menjadi penyejuk suasana, perekat persaudaraan, serta teladan dalam menjaga netralitas dan kebijaksanaan. Sikap yang terlalu berpihak berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan mengganggu keharmonisan masyarakat.
Demikian pula para kandidat Wali Nagari. Jadikanlah Pilwana sebagai ajang adu gagasan, adu program, dan adu pengabdian, bukan ajang saling menjatuhkan. Tunjukkan sikap kesatria: siap menang dengan rendah hati dan siap kalah dengan lapang dada. Hindari politik uang, penyebaran fitnah, ujaran kebencian, maupun berbagai cara yang mencederai nilai-nilai demokrasi.
Kepada seluruh masyarakat, mari menggunakan hak pilih dengan hati nurani, bukan karena tekanan, iming-iming, ataupun kepentingan sesaat. Setelah hasil pemilihan ditetapkan, maka siapa pun yang terpilih adalah Wali Nagari bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi pendukungnya. Saat kompetisi berakhir, persatuan harus kembali dikedepankan.
Sesungguhnya, kemenangan terbesar dalam Pilwana bukanlah ketika seorang calon berhasil memperoleh suara terbanyak. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat tetap hidup rukun setelah pemilihan usai, saling menyapa tanpa sekat, saling menghormati tanpa dendam, dan bersama-sama membangun nagari menuju masa depan yang lebih baik.
Mari kita jadikan Pemilihan Wali Nagari Serentak Pasaman Barat Tahun 2026 sebagai pesta demokrasi yang jujur, adil, damai, bermartabat, dan berintegritas. Dari nagari yang damai akan lahir pemimpin yang amanah. Dari pemimpin yang amanah akan tumbuh pemerintahan yang berpihak kepada rakyat. Dan dari persatuan masyarakat akan terwujud nagari yang maju, bermartabat, serta masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Karena pada akhirnya, jabatan hanyalah amanah yang sementara, sedangkan persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga selamanya. Beda pilihan boleh saja, tetapi ukhuwah dan silaturahmi harus tetap dipelihara.

Penulis: Rakiman Editor: Rafdy Guci